Loading...

Suara Petani Papua, Bantuan Petani Lokal Belum Maksimal

12:48 WIB | Wednesday, 02-November-2016 | Dinamika Petani, Suara Tani | Penulis : Tiara Dianing Tyas

Bantuan pemerintah untuk petani dalam dua tahun terakhir memang cukup banyak. Namun bantuan tersebut masih belum maksimal, terutama kepada petani lokal. Ini dirasakan David Wakim, Ketua Kelompok Tani Noken Kay, Kelurahan Rimba Jaya, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua.

 

“Pendampingan pemerintah terhadap petani lokal masih kurang. Kami ini masih belajar bagaimana cara bertani untuk mendapatkan hasil yang baik dan untuk menghidupi kebutuhan keluarga kami,” katanya kepada Sinar Tani.

 

Menurutnya, bantuan seperti traktor, benih padi unggul, pupuk, alat penghisap air atau water pump kepada petani sudah ada. Namun bantuan untuk pascapanen masih kurang mendapat perhatian. Misalnya, combine harvester yang pemerintah berikan untuk petani di Merauke tidak mampu beroperasi untuk lahan basah.

 

Dalam memasarkan hasil panen, Davis mengatakan, petani biasanya menjual ke pengumpul atau kontraktor pengadaan Bulog. Harga gabah di wilayah ini Rp 5 ribu/kg Gabah Kering Giling (GKG). Sedangkan harga beras sekitar Rp 6.800/kg.

 

Namun dia mengakui, secara garis besar bantuan pemerintah sudah cukup bagus. Bahkan perubahan yang dirasakan petani cukup besar. “Jika dulu kami hanya bisa menanam satu petak, tapi dengan bantuan pemerintah kami sudah bisa mengarap lahan agak luas sekitar satu sampai dua hektar per orang,” tuturnya.

 

David berharap, ke depan pemerintah khususnya Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian agar tetap memperhatikan petani lokal yang ada. Saat pasca panen petani kerap kewalahan menjemur gabah, karena tidak adanya mesin pengeringan gabah. Padahal waktu panen biasanya berlangsung saat curah hujan cukup tinggi.

 

Menurutnya, kini sudah ada alat pengering gabah dari pemerintah yang diserahkan ke beberapa desa. Namun jumlahnya masih kurang dibandingkan dengan produksi padi yang terus meningkat. “Kami berharap ke depan perlu ditambah pengering dan alat yang dapat menampung gabah dalam jumlah besar,” katanya.

 

“Satu lagi harapan kami ke depan supaya pemerintah bisa bekerjasama dalam memasarkan beras ke daerah atau kabupaten lain dengan mengsubsidi ongkos angkut, agar hasil panen kami juga bisa dipasarkan ke daerah lain,” tambahnya. Tia/Yul

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162