Loading...

Sumber Daya Berlimpah, Profesor Riset Perikanan Justru Minim

13:39 WIB | Monday, 28-November-2016 | Iptek, Teknologi | Penulis : Indarto

Sumber daya ikan (SDI), baik perikanan tangkap maupun budidaya di Tanah Air sangat berlimpah. Namun, besarnya potensi tersebut kurang diimbagi ketersediaan peneliti perikanan. Bahkan, jumlah peneliti setingkat profesor riset di sektor perikanan sampai kini masih minim.

 

“Negara yang potensi perikanan  melimpah seperti Indonesia idealnya memiliki satu profesor riset minimal untuk 100 ribu sampai 1 juta orang. Tapi, saat ini ketersediaan profesor riset di Indonesia masih kurang,” keluh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Zulficar Mochtar usai menghadiri pengukuhan tiga profesor riset dari Balitbang KP, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

 

Zulficar menyayangkan, Indonesia memang cukup banyak peneliti tapi sedikit yang berkecimpung di bidang kelautan dan perikanan. Saat ini Indonesia memiliki 238 perguruan tinggi yang mengembangkan perikanan dan 103 yang mengembangkan kelautan.  Indonesia juga memiliki berbagai badan riset, seperti LIPI, Balitbang, dan di kementerian lain. Hal ini tentunya perlu ada konsolidasi pengembangan penelitian sektor kelautan dan perikanan.

 

Di Balitbang Kelautan dan Perikanan ada sebanyak  537 orang peneliti. Dari jumlah itu, sebanyak  62 orang sudah mencapai peneliti utama dan hanya 15 orang profesor riset yang masih aktif, serta 8 orang profesor riset yang sudah pensiun.

 

“Menjelang akhir tahun ini kita mengukuhkan lagi tiga profesor riset. Tahun depan diperkirakan ada dua lagi profesor riset yang khusus meneliti tentang kelautan dan perikanan,” ujar Zulficar.

 

Professor riset yang dikukuhkan yakni, Prof. Ris. Dr. Ir. Agus Heri Purnomo, M. Sc., Prof. Ris. Dr. Ir. Agus Djoko Utomo, M.Si., dan Prof. Ris. Dr. Ir. Ekowati Chasanah, MSc. “Saya berharap profesor riset yang telah dikukuhkan ini bisa memberi karya terbaik bagi masyarakat Indonesia, bagi kejayaan bangsa dan negara, serta  kelangsungan hidup berbangsa dan antar bangsa,” katanya.

 

Menurut Zulficar,  profesor riset adalah sebuah puncak karir fungsional seorang peneliti.  Dalam pengukuhan professor riset ini memang sudah menjawab berbagai fokus.  Prof Agus Djoko utomo misalnya, meneliti pengamanan ekonomi kelautan, optimasi pengelolaan suaka perikanan di rawa banjiran.

 

Begitu pula bioprospeksi enzim mikroba laut sebagai landasan pengembangan bioindustri di Indonesia yang dikembangkan Prof. Ekowati Chasanah. Sedangkan Prof Agus Heri Purnomo meneliti dan mengembangkan model pengelolaan adaptif terpandu sumber daya hayati laut nonkonvensional.

 

Pada tahun 2017 KKP menargetkan 10 fokus riset utama. Diantara fokus riset itu adalah, penanganan sustainable fisheries (keberlanjutan perikanan), climate change, aquaculture, pengembangan bisnis usaha kelautan perikanan. Selain itu, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, pembangunan jejaring kawasan konservasi laut dan beberapa fokus lainnya.

 

Diharapkan, riset-riset ini dapat mendukung program konservasi sumber daya ikan, industrialisasi perikanan dan banyak aspek terkait pengelolaan perikanan dan kelautan. “Saya juga berharap riset-riset itu dapat mempercepat tercapainya visi dan misi pemerintah,” ujarnya. Idt

 

 

Editor : Ahmad Soim

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162