Loading...

Tak Ada Lagi Istilah Musim Paceklik

10:45 WIB | Wednesday, 10-January-2018 | Pangan, Komoditi | Penulis : Gesha

Jika dahulu pertanian khususnya produksi beras terganggu dengan adanya musim paceklik. Zaman now, kamus tersebut tidak berlaku. Karena tanam dan panen berlangsung sepanjang tahun tanpa henti.

 

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan M. Syakir menuturkan, bulan Oktober-Januari sebelumnya merupakan musim paceklik. Tetapi kini, terjadi panen di mana-mana dengan produktivitas yang memuaskan.

 

"Kita sudah tiga tahun tidak impor beras, dua tahun juga tidak impor jagung. Bawang merah dan cabai segar juga tidak impor," tegasnya.

 

Untuk mempertahankan jalur swasembada pangan tersebut, menurut Syakir, Kementerian Pertanian akan tetap mempertahankan kebijakan yang sudah ada. Mulai dari pemenuhan kebutuhan alsintan, irigasi, kanalisasi dan embung untuk ketersediaan air, hingga varietas unggul yang akan ditanam. 

 

Ia menekankan, pencapaian hasil tersebut merupakan buah yang manis atas kerjasama apik antara Kementerian Pertanian, Dandim, Dinas Pertanian Provinsi hingga Kabupaten/Kota. "Paling penting adalah petani, karena pahlawan swasembada pangan adalah petani," tuturnya.

 

Sejak awal tahun 2018, Balitbang melalui BPTP daerah sudah mendistribusikan benih unggul Inpari 30, Inpari 33, Inpari 43 dan Inpari 44 untuk bisa digunakan petani. Sehingga petani bisa beralih dari penggunaan IR 64, Ciherang, Mekongga bahkan Situ Bagendit menjadi Inpari terbaru. Salah satunya dilakukan dengan pemberian benih Inpari 30 kelas SS kepada Kelompok Tani Samben Desa Argomulyo, Sedayu.

 

“Harapannya dengan penanaman varietas baru Inpari 30 ini nantinya produksi dan produktivitas padi dapat meningkat,” kata Syakir.

 

Untuk Provinsi Yogyakarta, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta selama tahun 2017 sudah mendistribusikan bantuan benih padi varietas unggul baru (VUB) berpotensi produksi tinggi (Inpari 30, 31 dan 33) tidak kurang dari 30 ton ke wilayah Gunungkidul, Bantul, Kulonprogo dan Sleman. 

 

Di beberapa tempat juga dibangun Demonstrasi Area (DemArea) untuk memberikan percontohan kepada petani cara budidaya padi yang sehat agar pertanaman padi mereka aman dari serangan OPT.

 

"Jadi sekarang, tiada hari tanpa tanam, tiada hari tanpa panen dengan menggunakan benih unggul adalah bentuk pertanian zaman now," kata Syakir. Gsh/Ira 

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162