Loading...

Tak Perlu Kuatir, Bakteri Burkholderia Tak Ganggu Produksi Padi

13:50 WIB | Tuesday, 20-December-2016 | Non Komoditi, Tips & Santai | Penulis : Kontributor

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian menghimbau masyarakat, khususnya petani tidak perlu kuatir dengan adanya pemberitaan terkait benih padi hibrida (impor) yang mengandung bakteri yang diduga sudah menyebar di sentra-sentra produksi padi. Dari hasil kajian bakteri Burkholderia Glumae tak menganggu produktifitas padi.

 

Himbauan tersebut datang dari Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi saat jumpa pers di Jakarta, Senin (19/12). Apalagi kata Agung, sampel lokasi hanya di Tegal dan Blitar, sehingga tidak menginterpretasikan seluruh Indonesia. 

 

“Impor benih padi pun sangat kecil karena hanya 800 ton. Jika keperluan per hektar mencapai 15 kg, maka luasan tanam hanya 50 ribu hektar. Itu hanya mengokupasi sekitar 0.3% dari total luasan tanam padi,” kata Agung.

 

Sebelumnya pakar IPB, Suryo Wiyono dari penelitiannya menemukan dua lokasi yakni Kabupaten Tegal dan Blitar terdapat padi hibrida mengandung bakteri Burkholderia Glumae. Bakteri tersebut membuat padi tidak berisi dan membusuk.

 

Namun Kepala Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi), Ismail Wahab mengatakan, bakteri yang bernama Burkholderia glumae ini sudah ada di Indonesia sejak tahun 1987 dan merupakan bakteri type A2 yang dapat dikendalikan.  Namun dalam rentang waktu hingga ini atau 30 tahun belum ada laporan tanaman padi puso (gagal panen) atau menurun produktivitasnya akibat serangan bakteri ini.

 

Bahkan BB Padi menempatkan, penyakit tanaman padi akibat bakteri padi tersebut tergolong penyakit minor. "Memang penyakit karena bakteri ini ada, namun tidak menjadi penyakit utama yang mengganggu produktivitas atau produksi nasional. Jadi walau ada serangan tapi, tidak mengganggu produksi,” katanya.

 

Sementara itu Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati, Antarjo Dikin menjelaskan, penyakit pada tanaman padi ini tergolong Organisme Pengganggu Tanaman Karantina (OPTK) Tipe A2. Artinya, penyakit ini sudah lama ada di Indonesia, tapu bisa ditanggulangi atau dicegah (mewabah).

 

Penyakit bakterial ini menyerang pada malai (bulir-bulir padi saat muda) sehingga menyebabkan malai hampa (kosong). Sebab, nutrisi pembentuk bulir gabah/beras diserap habis bakteri.  Persebaran bakterinya sendiri bisa melalui benih yang sudah mengandung bakteri tersebut. 

 

“Karenanya, pemilihan benih untuk padi harus dicermati oleh petani. Benih harus bernas, benih juga tidak mengalami perubahan bentuk, benih tidak mengalami perubahan warna dan berbobot standar,” kata peneliti benih BB Padi, Bambang Nuryanto. 

 

Menurut Bambang, pencegahan pemyakit ini bisa dilakukan petani dengan cara perendaman benih sebelum digunakan. Perendaman dilakukan dengan larutan garam 10% maupun dengan air panas 45 derajat celcius selama 3-4 menit. Petani juga bisa melakukan perendaman menggunakan bakterisida, sehingga benih menjadi terlindungi dari bakteri yang mungkin sudah ada di tanah.

 

Untuk diketahui, sesuai ketentuan Tim Penilai Pelepassn Varietas (TP2V), impor benih hibrida untuk satu varietas hanya diijinkan 3 tahun, selebihnya harus sudah diproduksi dalam negeri. Contoh benih hibrida yang sudah diproduksi dalam negeri adalah Sembada B9, Sembada 189 dan Mapan B02 yg mempunyai provitas 12-13 ton/ha dan disukai petani pada beberapa lokasi. Gsh

 

 

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162