Loading...

Tanam Benih Jagung DK771 dan DK959 Monsanto, Petani di Lamongan Raup Untung Puluhan Juta Rupiah

15:41 WIB | Wednesday, 15-March-2017 | Pangan, Komoditi | Penulis : Kontributor

Benih jagung hibrida produksi Monsanto sudah banyak diminati petani di Kabupaten Lamongan. Sejumlah petani di Desa Bluri, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan yang menggunakan benih jagung DK959 dan DK771 (DEKALB) merasa puas karena produksinya meningkat dibanding benih biasa. Lantaran hasil panennya mening­kat, mereka pun mampu meraup pendapatan hingga puluhan juta rupiah. Kehidupan petani di Solokuro pun semakin sejahtera.

 

Salah satu petani jagung tersebut adalah Moh. Dahlan (60). Pria paruh baya ini termasuk dari sekian banyak petani jagung yang merasa sangat diuntungkan semenjak menggunakan benih DK771. Petani asal Desa Bluri ini tidak memiliki lahan luas, tapi sangat puas dengan hasil panen yang dilakukan pada Oktober 2016 lalu.

 

Di atas lahan yang luasnya hanya ¼ hektar (ha), Moh. Dahlan bisa panen jagung hibrida sebanyak 2,53 ton. Jagung yang ditanam di lahan persil milik kepala desa ini bisa dipanen tepat waktu, dan ketika dijual di pengepul harganya cukup stabil yakni Rp 3.000,- per kg.

 

“Dalam satu kali panen, jagung yang saya panen laku dijual Rp 7,5 juta. Saat itu saya hanya menggunakan benih jagung sebanyak 4 kg. Biaya untuk beli benih dan pupuk yang saya keluarkan sekitar Rp 1,5 juta. Jadi, saya masih untung Rp 6 juta sekali panen,” kata Moh. Dahlan, di Lamongan, belum lama ini.

 

Dahlan mengakui, sudah sejak tahun 1993 menjadi petani jagung dan baru setahun terakhir menggunakan benih jagung hibrida DK771. “Sebelumnya saya pakai benih jagung biasa. Produksi­nya paling tinggi 1,4 ton per ¼ hektar per musim. Nah, benih jagung DK771 selain produksinya tinggi, juga tahan terhadap serangan penyakit bulai,” kata Dahlan.

 

Menurut Dahlan, benih DK771 mampu menghasilkan jagung dengan tongkol lebih panjang dan besar. Benih jagung ini juga mudah ditanam di lahan datar, lereng gunung, ataupun di lahan-lahan marginal lainnya.

 

“Saya tanamnya di lahan datar. Batang jagung ini juga kuat. Karena itu, pada awal Februari tahun 2017 saya mulai tanam lagi dan saya perkirakan pada April 2017 bisa panen lagi,” kata Dahlan dengan wajah berseri-seri.

 

Kegembiraan juga tampak di wajah Choiril Huda (41). Menurut pria yang juga tinggal di Solokuro ini, benih DK959 yang ditanam di lahan seluas 2 ha miliknya, produksinya rata-rata 11 ton per ha.

 

“Hasilnya luar biasa. Dari tanam jagung saja pendapatan saya antara Rp 20 juta - Rp 25 juta per musim (tiga bulan),” ujarnya.

 

Pendapatan dari menanam jagung hibrida yang benihnya diproduksi Monsanto , menurut Choiril sangat menguntungkan. Mengapa demikian? Karena, biaya produksi untuk menanam benih jagung DK959 tak banyak, dengan hasil yang menggembirakan.

 

“Untuk beli benih hanya Rp 70.000,- per kg. Satu hektar lahan hanya butuh benih 20 kg. Jadi, untuk memenuhi kebutuhan benih di lahan 2 hektar perlu dana Rp 2,8 juta. Harga jagungnya juga stabil Rp 3.000 per kg, sehingga pendapatan saya rata-rata Rp 20 juta-Rp 25 juta per musim (tiga bulan),” kata Choiril.

 

Menurut Choiril, jagung yang dipanen pada awal Januari 2017 sebagian masih dijemur di halaman rumah, dan sebagian lainnya sudah dibeli pengepul. “ Benih jagung DK959 punya ciri khas tertentu dibandingkan benih jagung lainnya. DK959 tongkolnya merah cerah sampai ujung (rata). Rendemennya tinggi, sehingga panennya optimal. Karena tongkolnya penuh sampai ke ujung, maka bobot jagung yang dihasilkan juga lebih berat,” papar Choiril.

 

Petani Berbisnis Benih Jagung Produk Monsanto

 

Selain menanam benih jagung produk Monsanto di lahan pertaniannya, Choiril Huda juga cerdas membaca potensi pasar di desanya. Peluang untuk membuka usaha penjualan benih jagung produk Monsanto pun dibidiknya.

 

Naluri bisnis yang dikembang­kan Choiril pun men­dapat respon positif petani di desanya. Bahkan, produk benih jagung hibrida besutan Monsanto seperti DK77, DK771, dan DK959 tak hanya diminati petani Desa Bluri, tapi sudah merambah ke sejumlah desa lainnya di Kecamat­an Solokuro, Lamongan.

 

“Selain menjual benih jagung produk Monsanto, saya juga menjual sarana produksi (saprodi) pertanian seperti pupuk dan pestisida,” kata Choiril.

 

Menurut Choiril, permintaan benih jagung hibrida di Solokuro cukup banyak. “Khusus untuk benih jagung produk Monsanto sudah ratusan petani yang menggunakan. Rata-rata satu orang petani perlu benih jagung antara 5 kg-20 kg per musim. Kebutuhannya memang sangat tergantung luas lahan yang akan ditanaminya,” paparnya.

 

Dikarenakan, peminatnya cukup banyak, Choiril mendapat suplai benih jagung hibrida pro­duksi Monsanto rata-rata 2 kwintal -1 ton per minggu. Untuk benih jenis DK77 sebanyak 2 kwintal per minggu, DK771 sebanyak 4 kwintal per minggu, dan DK959 sebanyak 1 ton per minggu. “Sampai saat ini permintaan benih jagung dari petani di Desa Bluri dan sekitarnya masih terpenuhi,” papar Choiril.n

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162