Loading...

Tanam Padi Bonus Ikan

12:10 WIB | Thursday, 17-November-2016 | Sorotan | Penulis : Ahmad Soim

Usaha tani mina padi kembali dilirik setelah Presiden Joko Widodo melakukan panen ikan di salah satu lokasi gelar teknologi Hari Pangan se Dunia (HPS) di Boyolali, beberapa waktu lalu. Integrasi usaha tani padi dan ikan memang menjadi salah satu alternatif menambah pendapatan petani. Menanam padi berbonus ikan.

 

Menengok sejarah dunia pertanian Indonesia, mi­na padi memang bukan teknologi baru. Secara historis petani di Tanah Air sejak dulu telah mengembangkan usaha ta­ni tersebut. Sayangnya, makin ber­kembangnya usaha tani padi, terutama penggunaan pestisida dan pupuk kimia, petani mulai meninggalkan mina padi.

Meski banyak petani telah me­lu­pakan usaha mina padi, di beberapa wilayah Indonesia ma­sih ada yang mempertahankan kegiatan budidaya padi plus ikan tersebut. Bahkan ada yang me­modifikasi dengan memelihara udang seperti di Sukabumi, Klaten dan DI Yogyakarta.

Mina padi adalah bentuk usaha tani gabungan (combined farming) yang memanfaatkan genangan air sawah yang tengah ditanami padi sebagai kolam untuk budidaya ikan air tawar. Dengan demikian akan meningkatkan efisiensi lahan. Sebab, satu lahan menjadi sarana untuk budidaya dua komoditas sekaligus.

Bisa jadi mina padi menjadi jawaban terhadap upaya menam­bah pendapatan petani di tengah lahan usaha tani yang ter­ba­tas. “Mina padi bagus untuk mening­katkan pendapatan petani. Kami juga mendapat contoh mina padi di beberapa tempat,” kata Direktur Budidaya Serealia Ditjen Tanaman Pangan, Nandang Sunandar di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Nandang mengakui, secara historis, mina padi sudah menjadi budaya bertanam padi di beberapa tempat di Indonesia seperti Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Ja­teng), Nusa Tenggara Barat (NTB), beberapa wilayah di Pulau Kali­mantan. Di tempat-tempat tersebut budaya masyarakatnya memang memelihara ikan di sawah.

“Jadi kalau kita kembangkan, secara historis itu juga merupakan salah satu karakter bertani masyarakat Indonesia,” katanya. Apalagi dari sisi ekonomi, lanjut Nandang, petani mendapatkan sumber pendapatan tambahan. Terlebih jika terletak di sentra ikan seperti Cianjur, Purwakarta, Kabupaten Bandung ada keramba apung.

Nandang menilai secara tek­nis banyak keuntungan mina padi. Misalnya, tidak ada hama keong karena akan dimakan ikan, batang padi yang goyang karena tersenggol ikan akan membuat serangga terbang dan nantinya dimakan burung. “Ini menjadi salah satu sistem yang baik dalam pengendalian hama dan organisme pengganggu tanaman (OPT) lainnya,” ujarnya.

Soal kualitas, ungkap Nandang, karena ikan makhluk hidup tentu nuansa ramah lingkungannya tinggi. Petani tidak lagi bisa memberikan pestisida, fungisida dan bahan kimia lainnya karena ada ikan. “Hasil panen ikan juga merupakan peluang usaha baru untuk menambahkan pendapatan petani,” katanya.

 

Alokasikan Anggaran

Menindaklanjuti pesan Pres­dien Joko Widodo saat HPS untuk mulai mengembangkan mina padi, Kementerian Pertanian siap mengalokasikan anggaran sekitar 4 ribu hektar (ha) mina padi pada tahun depan. Kementan juga siap bersinergi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) da­lam melaksanakannya. “Kami akan menyiapkan anggaran pada tahun depan untuk pengembangan mina padi dengan anggaran 4 ribu ha di seluruh Indonesia,” katanya.

Namun lanjut dia, pengem­bang­annya masih menggunakan cara konvensial, sehingga tidak mengganggu luas tanam yang sudah ada. Program ini nantinya dilakukan di beberapa provinsi terpilih yang memang secara historis memiliki budaya mina padi. “Tapi tidak tertutup kemungkinan untuk yang tidak memiliki historis budaya mina padi,” ujarnya.

Nandang mengatakan, pihak­nya akan menawarkan daerah yang ditunjuk untuk pengaturan pendistribusian di kabupatennya yang dilakukan sendiri. Tapi yang pasti provinsi yang banyak air dan irigasi teknis seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, “Untuk daerah yang lainnya nanti dilihat kembali lokasinya,” ujarnya.

Untuk itu Kementan akan mengkoordinasikan dengan dinas provinsi yang mau mengambil program tersebut. Untuk pe­tani­nya, kata Nandang, bisa disiasati dengan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan petani melalui pembinaan dan pelatihan dari penyuluh. “Kami mendengar di Kementerian Kelaut­an dan Perikanan (KKP) juga ada alokasi. Kalau itu mau disinergikan, kami sangat menunggu,” ujarnya.

Nantinya KKP mengalokasikan ikan dan segala sarana produksi perikanan. Sementara Kementerian Pertanian menyediakan benih padi yang sesuai untuk usaha tani mina padi. Dengan demikian, paket bantuan untuk usaha tani padi regular berbeda dengan mina padi.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Ahmad Soim

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162