Loading...

Tax Amnesty dan Pengampunan Dosa

10:26 WIB | Tuesday, 04-October-2016 | Agri Wacana, Siraman Rohani | Penulis : Kontributor

Oleh: Syamsu Hilal

 

Belakangan ini masyarakat dihebohkan dengan persoalan Tax Amnesty (pengampunan pajak) yang digulirkan pemerintah untuk mencari tambahan penerimaan negara dari sektor pajak. Di media sosial banyak kisah mengharukan tentang Wajib Pajak yang datang ke “Help Desk” Tax Amnesty untuk mendapatkan pengampunan pajak. Namun, yang diperoleh justru “vonis” uang tebusan yang harus dibayar di luar kemampuannya. Padahal sebagian dari mereka adalah orang-orang yang secara rutin taat membayar pajak.

 

Lalu apa yang membuat mereka takut, sehingga mendatangi “Help Desk” Pengampunan Pajak? Salah satu faktor penyebabnya adalah ketentuan yang tercantum dalam Pasal 18 UU Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak yang memuat denda sebesar 200% dari Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dibayar apabila selama 3 (tiga) tahun terhitung sejak UU tersebut mulai berlaku Wajib Pajak tidak atau belum melaporkan harta kekayaannya.

 

Bagi umat Islam, kisah tentang ketakutan masyarakat atas diberlakukannya UU tentang Pengampunan Pajak seharusnya menjadi bahan introspeksi diri. Mengapa orang berbondong-bondong dan bersegera ingin mendapatkan Pengampunan Pajak, sementara kita tidak atau belum tergugah untuk berbondong-bondong dan bersegera untuk mendapatkan ampunan (maghfirah) dari Allah Swt.

 

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS Ali Imran [3]: 133). “Berlomba-lombalah kamu untuk (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya” (QS Al-Hadid [57]: 21).

 

Maghfirah Allah diperoleh jika kita menafkahkan harta di jalan Allah, menahan marah, memaafkan kesalahan orang lain, suka berbuat kebaikan, dan meninggalkan perbuatan buruk. Ampunan Allah juga diberikan kepada orang-orang yang selalu bersyukur, sabar, tidak menyombongkan diri, dan tidak kikir.

 

Konsekuensi dari tidak bersegera melaksanakan perintah UU tentang Pengampunan Pajak adalah hilangnya sebagian harta yang dimiliki, sedangkan konsekuensi dari tidak bersegera kepada ampunan Allah adalah hilangnya peluang mendapatkan Surga yang penuh dengan kenikmatan. Kalau untuk memperoleh Pengampunan Pajak saja kita harus bersegera melaksanakan perintah UU, mestinya kita harus lebih bersegera untuk memperoleh ampunan dari Allah Swt. demi keselamatan kita di akhirat kelak. Wallahu a’lam bish shawab.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162