Loading...

Teknik Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Benih Kentang (Solanum tuberosum L)

23:08 WIB | Tuesday, 16-May-2017 | Teknologi, Inovasi Teknologi | Penulis : Kontributor

Tanaman kentang (Solanum tuberosum L) merupakan komoditas prioritas, disebabkan tanaman ini mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai sumber karbohidrat dalam menunjang program diversifikasi pangan.

 

Pada pertanaman kentang kendala utama peningkatan produksi adalah pengadaan dan distribusi benih kentang berkualitas yang belum kontinyu dan memadai. Dalam program perbenihan penggunaan benih bebas pathogen/berkualitas mutlak diperlukan.

 

Produktivitas kentang di Indonesia tahun 2014, sebanyak 17,67 ton/ha dengan total produksi 1.347.815 ton dari luas areal pertanaman 76.291 hektar (BPS,2015). Hasil tersebut masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan produksi di negara-negara produsen kentang.

 

Benih tersebut dapat diperoleh melalui teknik kultur jaringan yang disertai dengan pengujian pathogen terutama penyakit sistemik (virus) secara intensif dilanjutkan dengan teknik perbanyakan cepat untuk memproduksi stek in vitro, stek in vivo dan umbi mini.

 

Dalam kegiatan memproduksi benih kentang berkualitas baik dalam bentuk tanaman in vitro atau umbi mini dibagi dalam 4 tahap kegiatan yaitu :

 

1. ELIMINASI PENYAKIT SISTEMIK TERUTAMA VIRUS (PLRV, PVX, PVY).

 

Teknik kultur jaringan sangat membantu dalam usaha mengeliminasi penyakit sistemik terutama virus. Dengan metoda ini dipilih bagian tanaman atau jaringan yang tidak mengandung pathogen sistemik terutama virus, dan menumbuhkan jaringan tersebut serta meregenerasikan kembali menjadi tanaman lengkap yang sehat di dalam media buatan.

 

Keberhasilan dalam menggunakan metoda kultur jaringan sangat bergantung pada komposisi media yang digunakan. Di mana media tumbuh ini terdiri dari unsur makro, mikro, sumber karbohidrat yang umumnya gula atau sucrose. Hasil yang lebih baik akan diperoleh apabila ke dalam media tersebut ditambahkan vitamin, asam amino dan zat pengatur tumbuh. Cara perbanyakan kultur jaringan ini dapat meningkatkan produksi benih baik kualitas maupun kuantitasnya.

 

Dalam kultur jaringan yang bertujuan untuk mengeliminasi virus digunakan explant/bahan tanaman berupa jaringan meristem pucuk atau tunas samping (aksiler). Perkembangan jaringan meristem tersebut diarahkan untuk mendapatkan tanaman sempurna dan bila mungkin sekaligus memperbanyaknya teknik ini disebut kultur meristem.

 

Pada penumbuhan jaringan meristem, keadaan fisiologis explant mempengaruhi terjadi atau tidaknya proliferasi. Ketidak berhasilan explant mengadakan pembelahan dan berdiferensiasi disebabkan oleh sel-sel dari explant tersebut tidak bersifat totipotent.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162