Loading...

Tentang Kesuburan Tanah

10:54 WIB | Wednesday, 28-December-2016 | Agri Wacana, Kolom | Penulis : Kontributor

Ada kata bijak yang menyatakan, makanlah sesudah lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang. Ungkapan sederhana ini ingin memberi teladan dan petunjuk agar kita lebih cerdas dan bijak ketika menikmati makanan, apapun jenis dan bentuknya.

 

Makan bukan sekedar aktivitas memasukkan beragam makanan yang nikmat di lidah, namun lebih dari itu,  juga harus diperhitungkan asas manfaat dan kegunaannya bagi kesehatan tubuh.  Tidak ada artinya menikmati makanan lezat kalau pada akhirnya justru menjadi pintu masuk beragam penyakit.

 

Seorang petani dengan nada bercanda mencoba memberi tafsir kata bijak ini dalam bingkai aktivitas usahatani yang digelutinya. Menurutnya, kata bijak ini sangat tepat bila diterapkan dalam pengelolaan lahan pertanian. Kecenderungan semakin turunnya tingkat kesuburan tanah di negeri ini disebabkan oleh pemberian makanan berupa pupuk yang berlebihan.

 

Artinya, ketika tanah belum ‘lapar’,  para petani telah memberi pupuk dengan dosis tinggi sehingga tanah menjadi terlalu kenyang dan akhirnya ‘sakit’. Sayangnya, pemberian makanan berlebihan ini terus berlanjut meskipun tanah sudah benar-benar kenyang sehingga makin lama sakit yang dideritanya menjadi semakin parah.

 

Fakta memang menunjukkan,  ada kecenderungan penurunan kesuburan tanah secara nasional.  Data hasil penelitian mengungkapkan,  kandungan  organik sebagian besar lahan pertanian sudah di bawah 2%,  padahal kandungan organik ideal minimal 5%. Bahkan ada yang mengatakan, 75% kondisi lahan pertanian kita sudah masuk dalam kategori kritis. Ibarat penyakit, tanah kita sekarang ini sudah masuk dalam stadium kritis. Bila tidak dilakukan perubahan radikal dalam pengelolaan lahan pertanian maka titik kritis itu akan bergeser menjadi semakin parah.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162