Loading...

Terbukti, Lompatan Besar Populasi Sapi Berkat SIWAB

07:08 WIB | Friday, 13-July-2018 | Ternak | Penulis : Kontributor

Adanya kelahiran jadi faktor hasil penentu suksesnya SIWAB (dok. AMERVI)

Kegiatan peningkatan populasi sapi melalui program Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB) ternyata telah terbukti memberikan lompatan besar. Optimisime untuk pemenuhan kebutuhan daging di masa depan pun membara.

 

Hal tersebut terungkap saat Direktur Jenderal (DIrjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita memimpin Rapat Koordinasi dan Evaluasi Upsus Siwab Semester 1 di Bogor, Kamis (12/7).

 

Berdasarkan realisasi pelaksanaan Upsus Siwab pada tahun 2017, capaian IB nasional sudah mencapai sebanyak 3.976.470 ekor atau 99,41% dari target 4 juta ekor. Capaian kebuntingan nasional kini sudah sebanyak 1.892.462 ekor atau 63,08% dari target 3 juta ekor dan kelahiran mencapai  911.135 ekor.

 

"Sedangkan peningkatan populasi sapi potong pada tahun 2016 ke 2017 sebanyak 606 ribu ekor, sehingga terjadi lompatan pertambahan populasi yang sangat signifikan, yaitu sebanyak 305 ribu ekor dari hasil pelaksanaan Upsus Siwab 2017," paparnya.

 

Untuk data kumulatif hingga semester 1 tahun 2018, capaian IB nasional sudah sebanyak 2.216.594 ekor atau 77,89%, capaian kebuntingan nasional sebanyak 897.014 ekor atau 42,71% , serta kelahiran sebanyak 514.349 ekor.

 

Lebih lanjut, untuk kegiatan pendukung Upsus Siwab, penanganan gangguan reproduksi sampai dengan bulan Mei 2018 telah ditangani sebanyak 119.299 ekor atau 59.65 % dari target 200.00 ekor. "Gangguan reproduksi pada akseptor merupakan salah satu penyebab kegagalan kebuntingan, untuk itu upaya penanganan gangguan reproduksi secara terus menerus merupakan suatu aktivitas yang tidak terpisahkan dalam rangka Upsus SIWAB yang harus dilakukan," kata I Ketut.

 

I Ketut Diarmita menambahkan, program Upsus Siwab merupakan langkah Pemerintah untuk mengakselerasi percepatan target pemenuhan populasi sapi potong dalam negeri. Menurutnya, di tengah-tengah keterbatasan anggaran Pemerintah, tuntutan untuk meningkatkan produksi daging sapi/kerbau semakin tinggi, sehingga salah satu cara yang ditempuh adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya dalam negeri untuk mencapai kebuntingan 2.1 juta ekor dari 3 juta akseptor sapi/kerbau pada tahun 2018.

 

Melewati semester 1 pelaksanaan Upsus Siwab tahun 2018 Dirjen PKH I Ketut Diarmita mengajak semua pihak agar terus semangat dan bersungguh-sungguh untuk mewujudkan target Upsus Siwab baik target Inseminasi Buatan (IB), kebuntingan dan Kelahiran yang telah ditetapkan. Hal tersebut Ia sampaikan kepada peserta Rakor, yaitu jajaran Eselon 2 dan Kepala UPT lingkup Ditjen PKH, serta Kepala Dinas yang menangani fungsi peternakan dan kesehatan hewan se Indonesia.

 

"Saya ingin kita semua termasuk diri saya untuk terus memperjuangkan nasib peternak-peternak kita agar berkembang usahanya dan sejahtera," himbaunya.

 

Kegiatan Lain

 

Selain SIWAB, Ditjen PKH juga melakukan kegiatan lainnya sebagai pendukung peningkatan populasi sapi yaitu dengan mempertahankan struktur betina dewasa dan angka betina produktif sebagai akseptor yang akan di IB adalah pencegahan pemotongan betina produktif yang dilaksanakan di 17 Provinsi, sampai dengan bulan Mei telah terlaksana 100% pencegahan pemotongan di 17 provinsi target dan berhasil dikendalikan pemotongannya sebanyak 4.065 ekor. Dalam implementasinya penanggulangan pemotongan betina produktif telah bekerjasama dengan BAHARKAM POLRI.

 

“Untuk terjaminnya aktifitas pelayanan dalam pelaksanaan Upsus Siwab, ketersediaan semen beku saat ini sebanyak 4.780.263 dosis dan jumlah yang sudah didistribusikan sebesar 2.250.343 dosis dari produksi BBIB Singosari, BIB Lembang dan BIBD Kalimantan Selatan,” ungkap I Ketut Diarmita.

 

Mengenai ketersediaan semen beku, N2 cair dan container Ditjen PKH bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan untuk proses distribusi N2 cair dan semen beku, sehingga dapat menggunakan pesawat ATR Garuda pada 44 rute penerbangan.

 

“Pelaksanaan Upsus Siwab harus menggunakan pendekatan yang lebih banyak melibatkan peran aktif masyarakat dan strateginya adalah dengan memastikan sapi/kerbau betina dewasa sebagai akseptor untuk dibuntingkan,” ujar I Ketut.

 

Faktor lain yang tidak kalah penting menurut I Ketut Diarmita adalah pakan. Melalui alokasi pengembangan HPT dan pengembangan padang pengembalaan sampai dengan saat ini telah terealisasi 243.5 Ha dari target 338.5 Ha atau 71,93% untuk pengembangan padang pengembalaan, 25 Ha dari target 200 Ha atau 12.5%. Selain itu, Bimbingan Teknis  (Bimtek) SDM Petugas Reproduksi telah terealisasi 314 orang dari target 420 orang atau 78.1%.

 

"Melihat perkembangan saat ini, Saya optimis dengan adanya dukungan seluruh masyarakat Indonesia, akan dapat mewujudkan kemandirian pangan dan ketahanan pangan secara berkelanjutan," pungkasnya. (gsh)

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162