Loading...

Ternyata Ini Dia, Kiat Sukses Jadi Mitra Pupuk Organik !

02:06 WIB | Wednesday, 29-August-2018 | Klinik Teknologi, Sarana & Prasarana | Penulis : Kontributor

Bimbingan Teknis Peningkatan Kualitas Pupuk Organik (Dok.Muklis)

Sudah lama pupuk organik menjadi bidang usaha yang cukup menjanjikan. Namun, usaha ini gampang-gampang susah. Guna menumbuhkan usaha itu, pemerintah telah membuka peluang kepada produsen pupuk organik menjadi mitra dari PT. Petrokimia dalam memenuhi pupuk organik nasional. Untuk sukses usaha ini, mitra harus menerapkan syarat teknis minimal mutu pupuk organik sesuai Permentan 70/2011.

 

Hal tersebut terungkap saat Direktur Pupuk dan Pestisida, Kementerian Pertanian, Muhrizal Sarwani membuka acara Bimbingan Teknis Peningkatan Kualitas Pupuk Organik di Balai Penelitian Tanah (Balittanah), Bogor, Selasa (28/8).

 

Menurutnya, Permentan tersebut merupakan koridor bagi produsen pupuk organik tentang Persyaratan dan Tatacara Pendaftaran Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah. "Kalau mitra itu sembarangan mencampur bahan baku, ini pasti tidak bisa kita gunakan. Kami sebagai pemerintah mengharuskan kualitas pupuk organik bagus. Kalau tidak bagus kami tidak bisa membayar subsidinya," tuturnya.

 

Untuk diketahui, tahun 2018 ini target produksi pupuk organik sebesar satu juta ton. Untuk mencapai target itu Petrokimia menggandeng para mitra untuk memproduksi pupuk organik.

 

Muhrizal juga menyarankan kepada PT Petrokimia  memberikan margin untung yang menggiurkan kepada mitra kerjanya, untuk mendorong pertumbuhan minat usaha pupuk organik ini.

 

Dalam upaya mendukung perbaikan mutu, Kepala Balittanah, Husnain menjelaskan, Balai Penelitian Tanah adalah salah satu lembaga uji mutu pupuk organik.

 

"Sepertiga jumlah sampel Petroganik (produk pupuk organik dari Petrokimia, red) dari seluruh Indonesia yang dikirimkan ke Balittanah dilakukan pengujian. Pengujian mutu itu menggunakan parameter-parameter yang sesuai dengan Permentan tersebut," ungkapnya.

 

Namun ternyata, di tahun 2017 hampir separuh dari sampel yang diiuji tidak memenuhi Permentan. Sedangkan pada tahun 2018, jumlah sampel yang tidak lulus uji berkurang menjadi 25 %. "Untuk sampel yang tidak lulus uji, mereka harus memformulasi dan menguji ulang pupuk organiknya," jelasnya.

 

Husnain mencontohkan, jika ada pengajuan sampel yang sama hingga tiga kali uji tetapi tetap tidak lulus-lulus. Maka artinya ada yang salah dalam pemahaman dan penerapan inovasi teknologi pupuk organik dalam produknya. “Untuk petroganik yang tidak lulus ini tidak akan dibayar subsidinya. Akibatnya bisa jadi mengancam usaha (bangkrut) mitra Petrokimia,” ujarnya menambahkan.

 

Oleh karena itu, Balittanah berinsiatif untuk menyelenggakan Bimtek, kegiatan ini bekerjasama dengan Pupuk Indonesia yang bertujuan untuk memberikan pembekalan kepada seluruh mitra agar mampu memproduksi pupuk organik sesuai dengan persyaratan mutu minimal.

 

Bimtek ini ternyata menyedot banyak perhatian para pelaku usaha (mitra) yang terlibat dalam memproduksi pupuk organik ini. Jumlah peserta yang hadir dari seluruh Indonesia membludak, pada hari pertama saja jumlah peserta mencapai 230 orang, jumlah ini telah melebih kelas yang disediakan.

 

Bukan hanya materinya yang sangat penting dalam memproduksi Petroganik, tetapi  waktu yang disediakan juga cukup untuk mengupas seluruh materi yang disajikan secara  mendalam, sehingga diharapkan para peserta tahu betul apa kelemahan yang dialami ketika memproduksi pupuk organik. Lis

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162