Loading...

Tingkatkan Produksi Padi di Lahan Kering dengan Inpago

15:26 WIB | Thursday, 14-June-2018 | Pangan, Komoditi | Penulis : Tiara Dianing Tyas

Lahan Padi Inpago di lahan kering

Untuk dapat terus memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia dan menjaga stok beras/padi nasional, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) terus melakukan berbagai upaya peningkatan produksi beras/padi, termasuk penanaman padi di lahan kering atau yang dikenal dengan padi ladang (padi gogo).

 

Kementan telah sukses menghasilkan inbrida padi gogo (INPAGO) varietas padi khusus untuk lahan kering yang dikenal sebagai padi ladang atau padi gogo. Potensi hasil yang dimiliki varietas Inpago ini tinggi, tidak tanggung-tanggung yakni lebih dari 10 ton/ha. Umurnya genjah sekitar 110 hari, dan tahan terhadap cekaman biotik dan abiotic.

 

Inpago 12 salahsatunya. Varietas ini memiliki potensi hasil 10,2 ton/ha, umur 111 hari, toleran terhadap keracunan Al dan kekeringan serta tahan terhadap penyakit blas ras 033. Varietas ini jauh lebih unggul dibandingkan dengan varietas lokal yang potensi hasilnya hanya 1-2 ton/ha dan umurnya dalam, yaitu sekitar enam bulan. 

 

Kepala Puslitbang Tanaman Pangan Bogor, Ismail Wahab mengatakan selain Inpago 12, Balitbangtan juga sudah merilis Inpago 9 dan Inpago Rindang 2 Agritan.

   

Inpago 9 memiliki potensi hasil tinggi juga, yakni 8,4 ton/ha, umur 109 hari, agak toleran terhadap keracunan Al dan kekeringan, serta agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1 dan agak tahan terhadap penyakit blas ras 133.

 

Ismail juga menjelaskan, Inpago Rindang 2 Agritan merupakan padi gogo khusus untuk intercropping dengan tanaman perkebunan, seperti kelapa, karet, dan lain-lain. Inpago ini memiliki potensi hasil tinggi, yaitu 7,39 ton/ha. Terkait ketahanan terhadap cekaman abiotic, Inpago ini selain toleran terhadap kekeringan dan keracunan Al, juga toleran terhadap naungan sehingga sesuai untuk intercropping dengan tanaman perkebunan.

 

Peneliti Balai Besar Litbang Padi Sukamandi, Aris Hairmansis menjelaskan Balitbangtan sebenarnya sudah menghasilkan berbagai jenis Inpago dengan kelebihan masing-masing. Semua Inpago umumnya toleran terhadap kekeringan dan kemasaman (keracunan Al) tapi masing-masing mempunyai ciri khas. Misalnya Inpago 8 dan Inpago 10 potensi hasilnya tinggi dan rasanya pulen sehingga disukai suku Sunda, Jawa, Sulawesi, dan lain-lain. “Inpago 9 dan Inpago 11 potensi hasilnya tinggi dan rasanya pera sehingga sangat disukai masyarakat di Sumatera Barat dan Riau, juga suku Banjar di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur,” kata Aris.

 

Sementara itu, ada juga Inpago yang nasinya wangi (aromatik) dan rasanya pulen, yaitu Situpatenggang. Ada juga yang menghasilkan beras merah, yaitu Inpago 7. "Beras ini mempunyai indeks glikemik (IGK) rendah sehingga cocok untuk penderita diabetes," tambah Aris.

 

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Dedi Nursyamsi menyampaikan bahwa potensi lahan kering untuk pengembangan padi gogo cukup besar. Dari luasan 80 juta ha lahan kering, yang sesuai untuk padi gogo sekitar 24,7 juta ha masing-masing lahan kering masam 21 juta ha dan lahan kering iklim kering 3,7 juta ha.

 

"Apabila ekstensifikasi Inpago ke lahan kering sekitar 1 juta ha dengan produktivitas rata-rata 4 ton/ha dan indeks pertanaman 150, maka tiap tahun ada tambahan produksi padi yang sangat signifikan, yaitu sekitar 6 juta ton GKG," paparnya.   TIA

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162