Loading...

Uang dan Gizi Sorgum Tumbuh di Lahan Berbatu Likotuden

23:06 WIB | Wednesday, 17-May-2017 | Teknologi, Klinik Teknologi | Penulis : Kontributor

Sepanjang mata memandang di pesisir Selat Solor, tepatnya di Dusun Likotuden Desa Kawaleo, Kecamatan Demon Panggong, Kabupaten Larantuka, NTT yang tampak hanya lahan berbatu. Tumpukan batu yang berlapis-lapis hanya menyisakan sedikit tanahnya. Jika ditempat lain sering ditemukan lahan tanah berbatu, maka di sini lebih tepat diistilahkan dengan sebutan lahan batu bertanah.

 

Bukan hanya lahan mem­buat tempat ini mar­ginal, sinar matahari juga  menyengat hingga menusuk tulang dengan waktu penyinaran lebih dari 8 jam sehari. Pisang dan kelapa yang biasanya ada di sisi pantai pun tak tampak, apalagi beras. Hanya lamtoro dan pohon kelor yang mampu tumbuh di Likotuden.

 

Deraan kritis semakin parah kalau kita lihat curah hujannya, hanya 3-4  bulan setiap tahun hujan mengguyur dusun yang berjarak sekitar 1 jam dari kota Larantuka itu. Wajar saja jika setiap bulan September, Oktober dan November, masyarakatnya hidup dalam kondisi paceklik.  Pada bulan-bulan itu, sebelum ada program Beras Untuk Rakyat Miskin (Raskin), desa ini kerap men­­dapat bantuan dari wilayah lain.

 

Tak ayal lagi, akibat yang paling parah adalah soal eko­nomi dan kesehatan masyarakat. Per­eko­­nomian masyarakatnya sangat lambat dan ditemukan bebe­­­­­rapa balita bergizi buruk. Potret kesengsaraan itu adalah sejarah pahit yang terjadi hingga 3 tahun yang lalu, karena saat ini kondisinya berubah seratus delapan puluh derajat.

 

 “Kalau kita lihat pada bulan-bulan paceklik itu, yang tampak di lahan ini adalah tanah yang gersang, tak satupun tanaman yang sanggup hidup. Tetapi kita bisa lihat sekarang, sorgum ternyata mampu bertahan dan telah menjadi pangan utama masyarakat” ujar Maria Loretha, Penggagas Sorgum dari Yayasan Pembangunan Sosial  mengenang jejak langkahnya mam­bangun Sorgum larantuka hingga dia men­capai sukses.

 

Sukses yang dicapainya itu ternyata masih berjalan lambat dan apa adanya. Maria Loretha pun tak lantas merasa puas, sampai pada Kamis, 13 Oktober 2016 dia menghadap Menteri Pertanian. Melihat begitu optimisnya petani  Larantuka untuk mengembangkan Sorgum, Menteri Pertanian lang­sung mengapresiasi sekaligus mem­berikan tantangan agar sor­gum dikembangkan dalam luasan 1000 hektar.

 

Tantangan ini menjadi moti­vasi besar bukan saja bagi masya­rakat Larantuka, tetapi juga untuk Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balit­bangtan). Tidak menunggu lama, Balitbangtan dengan gerak super cepat menggelontorkan Program Bioindustri Sorgum berbasis Alat dan Mesin Pertanian (Alsin­tan). Hanya dalam waktu 6 bulan, tadi­nya sorgum dibudi­dayakan biasa-biasa saja, kini menjadi luar biasa.

 

Bagi masyarakat Larantuka, Sorgum adalah jenis pangan yang telah ada sejak nenek moyang mereka. Bahkan tanaman ini bukan saja berperan sebagai pangan rakyat, tetapi sebuah jati diri masyarakat Larantuka. Komoditi ini telah hidup dalam mitologi masyarakat Larantuka sejak ratusan tahun lalu.

 

Kini Sorgum Larantuka telah bangkit lagi, semula perekonomi­an berjalan lambat berubah ken­cang. Dulu masih ada data gizi buruk sekarang terhapus, awal­nya paceklik sekarang berduit. Awal­nya Likotuden (Kawaleo) tidak dikenal di peta Indonesia, sekarang tertulis sebagai sentra sorgum nasional.

 

Jurus Sakti

 

Melihat begitu tandus dan berhadapan dengan berbagai keterbatasan, program bioindustri ini menjadi jurus sakti. Dengan cara ini bukan hanya mampu membangun sistem budidaya, tetapi sekaligus pasca panen yang mengarahkan pada produk yang bernilai gizi, laku jual dan Efisien.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162