Loading...

Ulus : Pemasok TTI Raih Penghargaan FAO

13:33 WIB | Tuesday, 17-October-2017 | Kontak Tani Sukses | Penulis : Kontributor

Ulus Pirmawan masih berusia 17 tahun. Dia melihat banyak petani di sekitarnya merasa kesulitan dalam memperoleh hasil panen yang stabil dan pemasaran yang pasti.  Ulus pun merasa tertantang untuk terjun langsung menjadi petani.

 

Banyak kendala dan kegagalan dialami Ulus sebagai petani, dari  mulai budidaya buncis, bawang merah, dan cabai merah. Mulai dari tanaman yang kurang dari harapan karena minim pemupukan hingga terkena hama penyakit tanaman.

 

Namun, dengan keuletan dan ketekunan petani yang hanya mengenyam pendidikan Sekolah Dasar,  kesuksesan pun diraih yang kemudian diikuti  petani sekitar. Dengan kepioniran Ulus tersebut kemudian petani berinisiatif membentuk Gabungan Kelompoktani (Gapoktan) Wargi Pangupay yang berlokasi Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Melalui gapoktan ini petani sekitar, banyak bergabung dan belajar kepada Ulus. Misalnya, Ucun Suntana, (40) warga Kampung Gandong, di Lembang mengungkapkan. “Saya banyak belajar dari Pak Ulus mulai memilih benih, menanam hingga bagaimana setelah panen. Beliau banyak membagi ilmu buat kami,” ungkap Ucun yang sebelumnya sebagai buruh, kini mengolah kebun warisan orang tuanya.

 

Tantangan lain yang dihadapi Ulus sebagai petani ketika itu adalah banyaknya tengkulak di wilayahnya yang memberikan harga kurang menggiurkan namun petani tidak memiliki akses pasar, sehingga banyak petani tergantung kepada tengkulak. Kehadiran Toko Tani Indonesia (TTI) yang digulirkan Kementerian Pertanian sejak Tahun 2016 dengan tujuan utama menstabilkan harga pangan dengan cara memangkas rantai pasok pangan yang semula melibatkan hingga 6-7 pelaku rantai pasok menjadi 3 pelaku rantai pasok yaitu petani, Gapoktan, dan TTI menarik perhatian Ulus selaku ketua Gapoktan Wargi Pangupay untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, karena seirama dengan tujuan pribadi dan Gapoktan untuk memperoleh jaminan pasar, stabilitas harga, dan meminimalisir tengkulak.

 


Ulus Pirmawan mewakili Indonesia, menerima Penghargaan FAO sebagai petani teladan, di Bangkok, Thailand. Penerima lainnya dari

negara Srilanka, Jepang, Nepal, dan Thailand

 

Tercatat, pasokan cabai merah Gapoktan Wargi Pangupay ke Toko Tani Indonesia Center (TTIC) menghasilkan omset Rp 11 juta/hari. Selain  cabai merah, produk pertanian binaan Ulus juga menghasilkan baby buncis, tomat, kol, brokoli, sawo, dan terong yang didistribusikan ke wilayah Bandung dan Jabodetabek.

 

Keinginan Ulus mencetak sebanyak mungkin petani yang sejahtera dengan cara mengajarkan teknik bertani yang baik dan cara bangkit dari kegagalan, membuat sosok yang pernah diganjar Anugerah Produk Pertanian Berdaya Saing tahun 2014 tersebut menjadi pembicaraan banyak pihak, tak hanya petani tetapi berbagai kalangan dan para akademisi pertanian. Tak jarang, Ulus diminta berbicara di berbagai forum di dalam dan luar negeri. Banyak para mahasisiswa dan dosen serta peneliti yang terinspirasi dan belajar kepadanya.

 

Dengan kepionirannya memangkas rantai pasok dalam mengatasi fluktuasi harga cabai merah dan bawang merah dalam kegiatan TTI, dan bersama pemerintah daerah mencari pasar, mendata hasil panen, hingga menjamin harga adil bagi petani, membawa dirinya sebagai salah satu model _farmer_ atau petani teladan yang diberikan oleh organisasi pangan dunia (FAO). Bukan tanpa alasan pria kelahiran Bandung, 16 Februari 1974 itu dipilih. Ulus dianggap berhasil menciptakan kemandirian dalam pertanian, dari sektor hulu sampai hilir, termasuk  mengangkat nasib petani disekitarnya. _Communication Specialist FAO_Indonesia Siska Widyawati mengatakan, FAO setidaknya memiliki beberapa kriteria dalam penilaian, diantaranya peningkatan produksi, penambahan penghasilan petani, dan peningkatan nutrisi, dan upaya membantu pemerintah dalam mengendalikan harga pangan.

 

Ulus menerima penghargaan sebagai petani teladan dari FAO yang diberikan bertepatan pada peringatan Hari Pangan Sedunia di Bangkok, Thailand, tanggal 16 Oktober 2017 tidak sendirian tetapi penghargaan serupa juga diberikan kepada empat petani teladan lainnya di kawasan Asia, yakni dari Srilanka, Jepang, Nepal, dan Thailand.

 

Kerja keras dan penghargaan yang diperoleh Ulus, setidaknya bisa menjawab tema HPS 2017 di Indonesia yaitu: “Menggerakkan Generasi Muda dalam Membangun Pertanian Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia”. Semoga masih banyak Ulus-Ulus lain di penjuru nusantara yang akan mewujudkan mimpi Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia.

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162