Loading...

Untuk Swasembada Pangan, Ini Lima Pilar Infrastruktur yang Digenjot Kementan

06:52 WIB | Thursday, 12-October-2017 | Sarana & Prasarana | Penulis : Clara Agustin

 

 

            Untuk mewujudkan  swasembada pangan berkelanjutan, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian menggenjot pembangunan lima pilar infrastruktur pertanian yang menjadi bidang tugasnya.

 

 

 

             Sekretaris Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Abdul Majid mengatakan  lima pilar yang harus diperkuat untuk mencapai swasembada pangan, yakni pembiayaan, perluasan areal lahan, pupuk dan pestisida, alat dan mesin pertanian (alsintan), dan pengairan (irigasi). “Ini adalah 5 kegiatan yang wajib dilakukan untuk membangun infarsturkutr yang dapat mendukung tercapainya swasembada pangan,” kata Abdul Majid saat acara Kunjungan Pers Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian ‘Ketersediaan Infarstruktur Mendukung Peningkatan Produksi Pertanian’ di Tuban (Jawa Timur), rabu (11/10).

 

            Pembiayaan. Saat masalah pembiayaan lebih ditekankan kepada asuransi pertanian padi dan asuransi ternak sapi. Mengapa? Menurut Abdul Majid asuransi pertanian padi menjadi hal yang penting untuk dilaksanakan mengingat petani Indonesia sebagian besar adalah petani padi dan rentan mengalami gagal panen. Sedangkan asuransi sapi adalah cita-cita besar yang harus dicapai oleh pertanian nasional adalah swasembada daging sapi karena selama ini sebagian pemenuhan akan daging sapi masih berasal dari impor. “Sekarang kami menekankan kepada petani dan peternak untuk dapat mengikuti asuransi pertanian padi dan asuransi ternak sapi. Ini adalah bentuk nyata pemerintah dalam membantu petani dan peternak agar tidak terjadi kegagalan sehingga mereka (petenai-peternak) mau bekerja dengan maksimal,” jelasnya.

 

            Perluasan areal lahan. Lahan baku sawah di Indonesia ini semakin hari semakin sempit karena konversi ke lahan non-pertanian bertambah tiap tahunnya. Padahal ketersediaan lahan adalah faktor utama untuk melakukan kegiatan usaha pertanian. “Makanya sekarang yang kita lakukan untuk perluasan areal lahan yakni dengan memaksimalkan lahan-lahan yang belum optimal (suboptimal) seperti lahan pasang surut,” ujar Abdul Majid.

 

            “Pupuk dan pestisida ini sangat penting bagi petani, terutama pupuk subsidi,” kata Abdul Majid. Selama ini keberadaan pupuk bersubsidi sangat dicari oleh petani, tetapi sayangnya keberadaannya selalu tidak tepat sasaran. Agar pupuk bersubsidi ini tepat sasaran, sekarang petani harus menggunakan Kartu Tani. Jadi ketika petani membutuhkan pupuk bersubsidi, membelinya dengan menggunakan Kartu Tani.

 

            Alat dan mesin pertanian (alsintan). Pertanian Indonesia memang belum semodern pertanian di negara lain, tetapi untuk saat ini petani Indonesia sudah mengarah ke sana. Salahsatu buktinya adalah peralihan budidaya pertanian dengan cara tradisional ke cara modernisasi, yakni dengan penggunaan alsintan (mekanisasi). “Dengan alsintan ini segala sesuatu menjadi lebih efisien dan efektif. Makanya kami (pemerintah) selalu menggelontorkan bantuan alsintan ke seluruh petani di Indonesia,” tegas Abdul Majid.

 

            Pengairan. Presiden RI, Joko Widodo sering mengatakan bahwa air merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan, termasuk dalam pertanian. Sehingga ketersediaan air harus benar-benar dipenuhi ketika air sedang dibutuhkan. Di sektor pertanian, air menjadi masalah krusial karena beberapa jaringan irigasi (terutama primer dan sekunder) mengalami kerusakan. Sehingga program utama Kabinet Kerja kali ini adalah perbaikan saluran irigasi agar kedepannya di saat petani membutuhkan air, air tersedia. “Yang kami pikirkan saat ini adalah bagaimana menyediaakan air dari sumbernya ke lahan pertanian agar petani bias melakukan kegiatan budidaya,” tutup Abdul Majid. Cla

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162