Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Virus H9N2 Intai Kandang Petelur

11:58 WIB | Monday, 31-July-2017 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Virus H9N2 Intai Kandang Petelur

 

Masih teringat wabah penyakit flu burung (Avian Influenza/AI) yang menyerang peternakan di Tanah Air akhir Tahun 2003, lalu menyebar luas pada tahun 2004. Bahkan sempat menghebohkan karena virus tersebut bukan hanya menyebabkan kematian pada ternak unggas, tapi juga manusia.

 

Serangan virus flu burung yang lalu dikenal dengan H5N1 itu membuat banyak peternak gulung tikar. Industri perunggasan dalam negeri pun gonjang-ganjing. Masyarakat mengalami trauma mengonsumsi daging ayam karena takut bahaya virus tersebut.

 

Sepanjang tahun 2004-2005, kasus flu burung menjadi pembicaraan hangat, bahkan menjadi isu dunia. Sebab, bukan hanya Indonesia yang terserang wabah AI, tapi juga negara-negara lain. Pada tahun 2012 ada 598 kasus AI pada manusia di 15 negara. Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) pun turun tangan guna membantu mengatasi wabah tersebut. 

Pemerintah Indonesia juga membuat Posko Pengendalian Flu Burung sebagai pusat informasi kasus flu burung. Pada tahun 2004, melalui Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan diterbitkan Pedoman Pengendalian Avian Influenza melalui Surat Keputusan No.17/Kpts/PD.640/F/02.04. Dalam SK tersebut ditetapkan sembilan langkah strategis pencegahan, pengendalian dan pemberantasan AI di Indonesia.

Langkah itu yakni, biosekuritas; vaksinasi; depopulasi selektif; pengendalian lalu lintas unggas, produk serta limbahnya; surveilans dan penelusuran; pengisian kandang kembali; stamping out di daerah tertular; peningkatan kesadaran masyarakat; serta monitoring dan evaluasi.

Hingga tahun 2012, wabah flu burung tetap mengintai peternak unggas. Catatan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan sampai Maret 2012 dilaporkan telah terjadi 188 kasus flu burung yang terjadi di 55 kabupaten. Setidaknya ada 156 kasus dalam kategori fatal. Bahkan pada tahun tersebut, virus flu burung bermutasi yang kemudian menyerang ternak itik di beberapa sentra di Pulau Jawa.

Setelah sempat redup dan gejolak serangan flu burung mereda, peternak di pertengahan tahun 2017 kembali dikagetkan dengan merebaknya virus flu burung tipe H9N2. Meski belum dilaporkan kematian pada ternak ayam petelur (layer), tapi diduga virus tersebut membuat produksi telur merosot.

 

Bahaya Laten

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita mengakui, sejauh ini kegiatan budidaya ayam ras masih dihadapkan pada berbagai kendala. Salah satunya serangan penyakit berbahaya seperti Avian Influenza (AI) yang popular disebut Flu Burung.

Sejak berjangkit pada ternak ayam di Indonesia di tahun 2003, penyakit flu burung yang notabene termasuk jenis penyakit zoonosis (yang dapat menular ke manusia). Bahkan bisa dikatakan sebagai bahaya laten, karena terus mengancam keberadaan peternakan unggas di dalam negeri. 

“Terakhir dilaporkan terjadi penurunan produksi telur secara drastis akibat adanya serangan AI dari jenis virus H9N2. Peternak saya minta agar meningkatkan kewaspadaan. Kami sendiri saat ini masih dalam proses bisa menghasilkan vaksinnya untuk bisa digunakan peternak,” tutur Diarmita.

Selain kegiatan vaksinasi terhadap ayam, Kementerian Pertanian telah mengeluarkan rekomendasi agar digiatkan upaya lain dalam rangka pencegahan, pengendalian dan pemberantasan AI. Upaya pencegahan setidaknya bisa dilakukan di tingkat peternak secara ketat dengan menerapkan program vaksinasi AI, serta konsisten melaksanakan biosekuriti di lingkungan perkandangan. “Vaksinasi dan biosekuriti tidak bisa diabaikan agar AI tidak berjangkit di lingkungan peternakan ayam,” tegasnya. 

Sementara itu Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner, NLP Indi Dharmayanti mengatakan, hasil-hasil penelitian menunjukkan bersirkulasinya virus AI H5N1 dan virus influenza lainnya memberikan peluang terjadinya mutasi genetik virus. Bahkan terjadi reasortant antara virus AI H5N1 dengan virus influenza lainnya seperti virus H3N2 atau virus AI yang kurang ganas (low pathogenic). 

“Bisa juga virus influenza manusia, sehingga kemungkinan akan memunculkan virus influenza baru dengan derajat tingkat patogenisitas yang akan menambah kesulitan dan kompleksitas dalam pengendalian penyakit,” tuturnya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162