Loading...

Volume Pupuk Subsidi Dikurangi, Petani Tak Perlu Khawatir

13:50 WIB | Monday, 19-June-2017 | Non Komoditi, Sarana & Prasarana | Penulis : Gesha

Ketersediaan pupuk bersubsidi menjadi satu hal yang krusial di setiap datangnya musim tanam. Khusus untuk tahun 2017 ini volume pupuk bersubsidi dikurangi sebanyak 1 juta ton. Namun, Kementerian Pertanian meminta petani tidak khawatir dan tetap terus berusaha tani.

 

Di awal tahun 2017 Kementerian Pertanian mengajukan sekitar 9,5 juta ton pupuk bersubsidi, jumlah tersebut sama dengan tahun anggaran 2016. Namun, Kementerian Keuangan dan Badan Anggaran kemudian memutuskan untuk mengurangi volume pupuk bersubsidi sebesar 1 juta ton. Sehingga, para petani yang tercantum dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) hanya mendapatkan jatah pupuk bersubsidi sebanyak 8,5 juta ton.

 

Kabar tersebut juga akhirnya sampai pada pengguna pupuk bersubsidi seperti petani di Pidie, Aceh Jaya. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie, Syarkawi mengemukakan bahwa luas areal pertanaman padi di wilayahnya kini mencapai 50 ribu hektar.

 

“Luas areal bertambah tetapi kuota pupuk bersubsidi kami dikurangi. Misalnya untuk pupuk urea yang diusulkan 10 ribu ton hanya diberikan 7.300 ton,” katanya.

 

Begitu pula dengan pupuk ZA yang awalnya diusulkan 5 ribu ton, hanya diberikan 1.400 ton. Sedangkan pupuk SP 36 yang kebutuhannya 7.500 ton, hanya diberikan kuota 2.450 ton. Sementara kebutuhan NPK sebanyak 15 ribu ton hanya diberikan 5 ribu ton.

 

“Kami sudah meminta Gubernur Aceh untuk bisa merelokasi pupuk dari daerah lainnya yang belum membutuhkan pupuk. Apalagi kebutuhan pupuk NPK di Pidie sangat tinggi, makanya sekarang sangat langka. Selama ini yang ada hanya pupuk NPK non subsidi dengan harga Rp 150 ribu per sak,” ungkap Syarkawi.

 

Direktur Pupuk dan Pestisida, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Muhrizal Sarwani membenarkan adanya pengurangan kuota pupuk bersubsidi dan sesuai dengan Permentan No 69/SR 310/12/2016. “Sebenarnya bukan dikurangi tetapi dicadangkan sebanyak 1 juta ton tersebut,” tuturnya.

 

Adapun keputusan pengurangan volume tersebut karena serapan selama tahun 2016 silam hanya mampu terealisasikan sebanyak 91%. Padahal, terjadinya serapan pupuk subsidi kurang dari 100% karena adanya anomali perubahan iklim sehingga menggeser musim tanam.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162