Loading...

Wajah Pendidikan Petani

21:38 WIB | Tuesday, 16-May-2017 | Agri Wacana, Kolom | Penulis : Kontributor

Dalam salah satu tulisannya Dr. Rochajat Harun, dari Balai Besar Pelatihan Pertanian, Lembang mengungkapkan bahwa pendidikan petani adalah upaya pengembangan sumberdaya manusia, bukan hanya pembawa paket teknologi untuk diterapkan secara seragam oleh petani. Pendidikan petani, membantu para petani menguasai konsep berpikir yang baru dan menerapkan cara-cara baru tersebut untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

 

Proses ini jika diterapkan oleh petani akan memampukan mereka dalam menghadapi berbagai permasalahan,  dan berani melakukan percobaan untuk mencari jawaban atas per­masalahan agronomik yang ditemui di lapangan. Pendekatan ini tidak hanya membantu mereka menjadi petani yang lebih terampil, tetapi juga memperkokoh hubungan antara peneliti pertanian, penyuluh pertanian, dan kelompok tani.

 

Dari paparan yang telah dikemukakan beberapa tahun lalu tersirat makna bahwa petani sebagai pelaku utama dalam kegiatan pertanian mempunyai potensi untuk bisa terus berkembang dinamis melalui proses pendidikan. Petani memiliki potensi untuk maju mengikuti perkembangan dunia asalkan mendapat pendidikan yang tepat.

 

Proses pendidikan terbaik bisa terwujud bila petani tidak hanya sekedar diikutsertakan, tetapi harus berperan aktif dan terlibat total sepanjang proses pendidikan.  Pendidikan pertanian untuk petani harus bersifat dinamis, artinya perlu diperbaharui secara terus menerus dan secara konsisten berpijak pada kepentingan petani.

 

Sayangnya, model pendidikan petani ideal seperti yang disampaikan peneliti tersebut tidak selamanya dapat terwujud. Posisi petani yang cenderung ’di bawah’ dalam seluruh sistem agribisnis membuat mereka sering justru menjadi ’korban’ dalam proses pendidikan yang mereka peroleh.

 

Hal ini sering terjadi akibat kesalahan paradigma yang memposisikan petani hanya sebagai subyek yang memproduksi pangan. Seluruh proses pendidikan petani diarahkan untuk meningkatkan produksi pangan, dengan mengesampingkan aspek kemandirian para petani. Oleh karena itu, proses pendidikan cenderung berorientasi teknis dengan target meningkatkan hasil panen, tanpa ada upaya membuat petani lebih kreatif, mandiri, dan berdaya.

 

Proses pendidikan seperti ini pada akhirnya melahirkan petani-petani yang cenderung hanya menunggu saran, anjuran, bahkan perintah. Mereka sangat bergantung pada pihak lain, baik itu penyuluh, organisasi petani, perusahaan pertanian, atau yang lainnya. Ketika menghadapi masalah dalam aktivitas usahataninya, mereka hanya bisa menunggu penyelesaian dari ‘atas’. Tidak ada lagi solusi kreatif yang seharusnya menjadi jati diri petani mandiri. Yang lebih parah, mereka hanya bisa mengeluh ketika menghadapi kesulitan karena sudah kehilangan etos dan semangat sebagai pelaku usaha mandiri. Kita berharap proses pendidikan untuk petani akan melahirkan petani yang kreatif, maju dan berdaya.

 

 Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162