Loading...

Waspada Flu Burung Jenis Baru

10:38 WIB | Thursday, 27-July-2017 | Editorial, Mentan Menyapa | Penulis : Kontributor

Saya bersyukur banyak pihak sudah sangat sigap dalam menghadapi wabah flu burung. Seperti pemerintah daerah yang langsung menerjunkan tim khusus untuk melakukan penyemprotkan serentak terhadap kandang unggas dengan cairan disinfektan di wilayah yang dinilai rawan penularan penyakit unggas, begitu menerima informasi munculnya kematian unggas.

 

Mengingat memang jika musim ekstrim berlangsung, maka dikhawatirkan akan memicu perkembangan penyakit unggas seperti flu burung dan unggas sangat rentan diserang penyakit. Di antara penyakit yang lebih diwaspadai adalah flu burung atau Avian influenza (AI) serta tetelo atau Newcastle Disease (ND).

 

Sebelumnya hanya dikenal AI tipe H5N1, akan tetapi di salah satu wilayah luar Pulau Jawa ditemukan flu brurung tipe baru yakni H9N2. AI tipe H9N2 ini banyak menyerang penyakit ayam petelur. Namun demikian, dimungkinkan juga menyerang ayam pedaging. Lebih baik melakukan upaya pencegahan. Penanganan serangan penyakit juga harus dilaksanakan dengan tepat, sehingga tidak membuat virus menjadi kebal dengan obat yang ada. Peternakan rakyat lebih diwaspadai dan mendapatkan perhatian serius supaya bisa menerapkan biosecurity dan pengawasan ternak lebih intensif.

 

Dalam memasuki musim hujan supaya masyarakat dan peternak lebih waspada. Karena virus flu burung sering kali dormant atau tidak aktif di musim kemarau dan memasuki musim hujan, virus baru aktif dan rajin berkembang biak. Ketika suhu sudah sesuai dengan lingkungannya, sudah cocok untuk virus, baru virus yang sebelumnya tidur di dalam tubuh unggas-unggas itu aktif kembali. Ingat, bahwa perubahan temperatur cuaca dari dingin ke panas dan sebaliknya membuat virus lebih mudah berkembang biak. Kelembapan yang tinggi membuat virus lebih mudah hidup dan seperti kita ketahui, musim hujan di Indonesia selalu meningkatkan kelembapan.

 

Ada beberapa langkah yang dilakukan agar penyebaran virus flu burung di musim hujan tidak separah biasanya. Langkah pertama yang dilakukan adalah memastikan peternak sudah melakukan vaksinasi kepada unggas. Kedua, berusaha terus mendorong peternak agar lebih perhatian dan waspada dengan ancaman flu burung. Dengan mulai mengetahui dan selalu meningkatkan pengetahuan mengenai biosekuriti, vaksinasi dan manajemen peternakan. Ketiga, kami mengimbau kepada para peternak unggas lokal agar memperbaiki manajemen pemeliharaan dan menerapkan prinsip-prinsip animal welfare. Penerapan prinsip animal welfare penting dan hal ini dilakukan juga untuk mendorong pengembangan unggas lokal agar berdaya saing. Karena untuk mendapatkan persetujuan dari negara calon pengimpor, maka ayam hidup harus berasal dari peternakan ayam yang telah mendapatkan sertifikat kompartemen bebas flu burung (Avian Influenza/AI) dari Kementerian Pertanian.

 

Kami juga selalu mengimbau warga yang mendapati unggasnya mati, untuk jangan dibuang ke kebun atau aliran sungai, karena rawan menular. Sebaiknya dibakar sebelum dikubur. Selain itu juga saya mengingatkan sekali lagi bahwa masyarakat harus segera melapor apabila menemukan kematian unggas mendadak, massal dan berkelanjutan. Dan kepada semua masyarakat dan peternak untuk selalu menjaga kebersihan kandang.

 

Insya Allah, Kementerian Pertanian berupaya cepat tanggap dalam menghadapi wabah flu burung. Karena dampak flu burung yang mematikan membuat kami melalui Badan Karantina Pertanian melakukan pengetatan pengawasan di pintu-pintu pemasukan dan pengeluaran di seluruh wilayah di Indonesia. Tindakan tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 44 Tahun 2013 tentang Penghentian Pemasukan Unggas dan atau produk segar unggas dari Negara Republik Rakyat Cina ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162