Loading...

Waspadai Kenaikan Harga Beras Periode November-Februari

23:19 WIB | Saturday, 08-September-2018 | Olahan Pasar, Non Komoditi | Penulis : Julianto

Direktur OPP Perum Bulog, Tri Wahyudi Saleh (tengah) bersama Direktur PT. Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo Adi (kiri) dan Ketua KOPIC Jaya, H. Zulkifli saat melihat perkembangan harga beras di PIBC, Sabtu (8/9)

 

 

Kalangan pedagang beras mengingatkan pemerintah agar mengantisipasi kenaikan harga pada November 2018 hingga Februari tahun depan. Hal itu menyusul mulai berkurangnya pasokan beras dari daerah, karena panen sudah mulai berkurang.

 

“Hingga sekarang memang belum ada kenaikan harga beras yang siginifikan. Bahkan harga beras premium di tingkat pedagang tidak ada yang mencapai Rp 10 ribu/kg,” kata Ketua Perhimpunan Pedagang dan Penggilingan Padi (Perpadi) DKI Jakarta, Nellys Soekidi di Jakarta, Sabtu (8/9).

 

Namun demikian, kata Nellys, pemerintah harus mengantisipasi kemungkinan naiknya harga bahan pangan pokok masyarakat Indonesia ini pada Nopember 2018 hingga Februari 2019. “Secara psikologis saat ini cukup aman. Dengan persiapan pemerintah yang baik masyarakat tidak perlu kuatir,” ujarnya.

 

Ketua Koperasi Pedagang Beras PIC (KOPIC), H. Zulkifli juga mengingatkan hal yang sama. “Harga beras sekarang ini belum menguatirkan, tapi perlu dijaga adalan bulan 11, 12, 1 dan 2 tahun depan,” ujarnya.

 

Menurutnya, dalam dua bulan ke depan pasokan beras masih cukup aman. Namun demikian, ia mengingatkan, Bulog sebagai lembaga stabilisasi pangan bisa memanfaatkan stok yang ada untuk mengantisipasi kenaikan harga beras. “Berbeda dengan tahun 2016 atau menjelang awal tahun 2017, stok beras Bulog minim. Tapi sekarang stok Bulog lebih dari cukup,” ujarnya.

 

Kekuatiran terhadap kenaikan harga beras menjelang akhir tahun 2018 dan awal tahun 2019 juga diungkapkan Bisma dari perusahaan penggilingan padi Mercu Buana. Menurutnya, saat ini harga bahan baku (gabah) sudah mencapai Rp 5.000-5.500/kg. Bahkan banyak penggilingan gabah sudah mengurangi giling karena harga bahan baku sudah cukup tinggi.

 

“Jawa Barat memang masih ada panen, tapi Jawa Tengah dan Jawa Timur sudah sedikit yang panen,” katanya.

 

OP Beras Bulog

 

Sementara itu Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Tri Wahyudi Saleh saat memantau perkembangan harga beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur, Sabtu (8/9) mengatakaan, Bulog hingga kini telah melakukan operasi pasar (OP) beras secara nasional sebanyak 15 ribu ton/hari. Bahkan tahun ini merupakan OP yang terbesar dalam lima tahun terakhir.

 

Namun demikian untuk wilayah DKI Jakarta, perusahaan yang berlambang matahari itu, masih tahap menunggu, karena kalangan pedagang masih memiliki stok beras. Terlihat dari pasokan beras dari daerah yang masuk ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) cukup besar dan stok di PIBC sebanyak 5 ribu ton/hari.

 

“Saat ini posisi kita sudah stand by, karena pedagang beras masih memiliki stok. Terlihat dari serapan beras di kios Bulog yang berada di PIBC,” katanya. Namun demikian lanjut Tri Wahyudi, sudah ada sekitar 82 kota/kabupaten yang mengalami kenaikan harga beras.

 

Data Perum Bulog sejak Januari-September 2018, volume beras yang digelontorkan untuk OP sebanyak 342 ribu ton. Jumlah itu merupakan OP Bulog yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

 

Pada Januari volume beras OP sebanyak 161.000 ton, Fabruari 21.119 ton, Maret 49.557 ton, April 4.198 ton, Mei 10.282 ton, Juni 5.981 ton, Juli 11.931 ton, Agustus 14.177 ton dan September hingga kini bantau sebanyak 3.810 ton. Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162