Loading...

Wisata Agro dan Edukasi Berbasis Hortikultura Semakin Diminati

11:09 WIB | Sunday, 01-July-2018 | Tips & Santai | Penulis : Kontributor

Dirjen Hortikultura, Suwandi (berbaju merah) bersama pemilik Sabila Farm, Pak Gun (berbaju hijau)

Musim liburan, masyarakat umumnya lebih menyukai wisata alam daripada ke pusat perbelanjaan. Tak heran jika wisata agro dan edukasi khususnya yang berbasis hortikultura semakin bermunculan. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian pun semakin mendorongnya agar mampu berkembang di berbagai sentra produksi.

 

Menurut Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi, salah satu wisata agro dan edukasi berbasis hortikultura ada kawasan wisata puncak Bogor dengan menyajikan wisata agro kebun buah, wisata tanaman hias dan tanam bunga. Atau di wilayah Lembang Bandung juga banyak berkembang usaha wisata agro.

 

Begitupula di Batu Malang yang memiliki wisata agro komoditas apel, jeruk dan lainnya. Di Sleman pun ada wisata agro salah pondoh, sayuran, buah organik dan lainnya.

 

Suwandi menegaskan wisata agro ini  bisa menarik pengunjung dalam negeri, juga diminati wisatawan dari berbagai negara. Ini sinergi dengan wisata desa dengan pengenalan produk produk pertanian  unggulan lokal di desa desa.

 

“Banyak turis dari berbagai negara ke Sleman untuk berwisata minat khusus sebagai diversifikasi daru paket paket wisata di Yogyakarta. Mereka datang diantaranya untuk belajar usaha kebun buah organik,” demikian diungkapkan Suwandi , Minggu (1/7).

 

Suwandi mengakui wisata agro berbasis hortikultura ini bisa menjadi salah satu upaya edukasi minat generasi muda pada pertanian dan menjadi ajang kontak bisnis serta wadah promosi efektif produk unggulan lokal. "Ini sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk diversifikasi usaha, meningkatkan nilai tambah, pendapatan serta kesejahteraan petani," sambungnya.

 

Salah satu wisata agro dan edukasi berbasis hortikultura di Yogykarta yakni Sabila Farm. Sang pemilik, Muhammad Gunung Soetopo mengatakan saat ini ada 20 anak-anak dari Mercelline Collage, Bulleen - Victoria, Australia datang untuk belajar tentang usaha kebun buah hortikultura organik.

 

Pria yang akrab dipanggil Gun Soetopo ini menerangkan AgroEduWisata Sabila Farm dibuat tahun 2005 mengedepankan pemanfaatan lahan marginal yang menyerasikan dengan alam dan tanpa merusak lingkungan. Bahkan melestarikan plasma Nutfah dan mikroba tanah untuk bisa memberikan kehidupan yang harmoni dengan kegiatan manusia.

 

“Saat ini bulan Juni sebenarnya bukan saatnya panen buah naga (Nopember sampai April), tapi dengan teknologi penambahan pencahayaan maka buah naga bisa berbunga dan berbuah. Juga ada panenan Srikaya Jumbo rasa sangat enak, manis dan legit,” terangnya.

 

Produk buah dari wilayah Sleman memang terkenal enak dan manis serta kriuk. "Sebab ditanam dan tumbuh di lahan abu tuff vulcano yang kaya dengan mineral sehingga membuat buah menjadi manis dan enak,” imbuhnya.

 

Untuk memajukan wisata agro dan wisata edukasi, Gun Soetopo berpesan kepada teman-teman petani agar menjadi petani pengusaha dan bisa menjual 1 buah produk hortikultura setidaknya 3 kali momen mendapat income. Ini didapat dari motivasi usaha bertani, berwisata memetik, edukasi budidaya, penjualan produksi buah dan dari interaktif pengolahan hasil dan pemasaran.

 

“Mari sejahterakan petani Indonesia dengan Krenova yaitu kreasi dan inovasi dalam bertani. Dan itu hanya ada di Petani Indonesia,” pungkasnya. (gsh)

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162