
Spanduk kampanye diversifikasi pangan
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Upaya diversifikasi pangan memang tidak lepas dari perbaikan kualitas gizi. Kita memerlukan gizi seimbang, dan gizi seimbang yang sehat bukan berarti harus berasal dari makanan mewah. Gizi harus seimbang, harus ada pati dan biji-bijian sebagai sumber karbohidrat, sumber protein seperti ikan, daging atau telur, sayuran dan buah-buahan sebagai sumber serat, vitamin dan mineral. Saat ini konsumsi pangan kita agak timpang, berat ke beras. Konsumsi beras rata-rata masih sekitar 100 kg per kapita per tahun. Sampai-sampai protein pun sebagian besar berasal dari beras.

Kita sekarang bicara diversifikasi sumber karbohidrat dari beras, gandum, singkong, talas, jagung, ketela rambat, sagu, kentang dan sebangsanya. Kita sedang cerita bahwa sumber karkohidrat itu bukan beras saja. Sementara itu sejalan dengan peningkatan pendapatan masyarakat, konsumsi pangan sumber protein dan diversifikasi ke makanan yang lebih beragam juga akan meningkat. Yang jelas data menunjukkan, semakin tinggi kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya, semakin beragam sumber makanannya, bahkan semakin kurang konsumsi sumber karbohidrat dari biji-bijian.
Tanpa bicara selera, persepsi masyarakat tentang beras dan non beras, harga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pilihan konsumsi bahan pangan sumber karbohidrat ini. Beralihnya konsumsi ke komoditas substitusi beras akibat perubahan harga adalah satu keputusan rasional. Oleh karena itu kebijakan harga beras selalu melekat dengan promosi diversifikasi beras ke sumber karbohidrat lain. Selama harga beras masih rendah relatif terhadap sumber karbohidrat lain, konsumen cenderung memilih beras sebagai bahan pangan pokok.
Tekanan akibat konsumsi beras yang tinggi di negara besar berpopulasi tinggi memang menjadi beban pekerjaan yang berat bagi para pengelola negeri ini. Tingginya impor beras di pasar terbatas (niches market) ini mempunyai resiko tinggi. Tidak hanya soal harga dan devisa tetapi ketersediaannya. Oleh karena itu untuk mengurangi tekanan impor ini, diversifikasi merupakan pilihan strategis.
Perluasan areal tanam dengan membangun lumbung pangan, food estate, sarana irigasi dan perbaikan pola budidaya adalah upaya meningkatkan produksi dan ketersediaan. Dan diversifikasi adalah upaya untuk mengurangi konsumsi beras dengan beralih pada komoditas lain yang setara.
Bahan pangan alternatif sangat beragam dan tingkat penerimaan masyarakat terhadap pangan alternatif juga berbeda tergantung kepada selera, kebiasaan, ketersediaan, kemudahan, citarasa, persepsi masyarakat dan tentu saja harga. Oleh karena itu prioritas komoditas alternatif, sasaran konsumen, pola introduksi/promosi, pengolahan dan kebijakan harga menjadi penting dalam program diversifikasi ini. Inilah yang sedang digeluti oleh Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian. Dan kita mengapresiasi serta mendukung kerja keras ini.