Thursday, 22 October 2026


Kopi Gayo, Kopi Specialty Pasar Ekspor

25 Aug 2020, 11:14 WIBEditor : Indarto

Kopi Gayo

Amerika merupakan pasar utama kopi Gayo. Ekspornya dalam bentuk green beans (bahan mentah).

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---- Kopi Gayo dengan  rasa dan aroma khas sudah menjadi brand kopi specialty dataran tinggi Gayo, Aceh. Kopi specialty yang tumbuh subur di  Kabupaten Aceh Tengah (48 persen), Bener Meriah (45 persen) dan Gayo Luas (7 persen), sudah puluhan tahun silam menjadi sandaran hidup 80 ribu keluarga di dataran tinggi Gayo. Mengingat, 85 persen pendapatan petani bersumber dari ekspor kopi ke sejumlah negara.

Ketua Koperasi Kopi Permata Gayo, Bener Meriah, Prov. Aceh, Armia mengemukakan, kopi Gayo yang ditanam petani seluas 102 ribu ha, dengan produksi 40 ribu-50 ribu ton/tahun telah menjadi sandaran hidup petani. Berkat keunikannya sebagai specialty, kopi Gayo mudah diserap pasar manca negara. Tak heran, apabila 99,9 persen produk kopi Gayo diserap pasar ekspor dan 1 persen untuk pasar domestik.

“ Amerika merupakan pasar utama kopi Gayo. Ekspornya dalam bentuk green beans (bahan mentah),” ujar Armia, dalam sebuah webinar, di Jakarta , Selasa (25/8).

Armia juga menuturkan, di pasar domestik,  pangsa pasar kopi Gayo umumnya berupa barang jadi (roasted beans), yang volumenya sangat kecil (1 persen). Diperkirakan, kopi Gayo yang dijual di pasar domestik ini ada sekitar 500 merek kopi kemasan.

Menurut Armia, kopi Gayo sangat unik, sehingga tanpa promosi pun kopi sepecialty ini sangat mudah dijual  (khususnya dalam bentuk green beans). Bahkan, harganya pun premium. “Karena itu, dengan produktivitas 600- 700 kg/ha, tak masalah bagi petani. Karena, pendapatan dari penjualan kopi tersebut sudah cukup lumayan,” kata Armia.

Lantaran, mudah menjualnya dan harganya premium, lanjut Armia, selama 10 tahun terakhir, sejumlah petani, pedagang, dan pelaku usaha kopi terlena. Nah,  di saat pandemic covid 19 ini, produk kopi Gayo yang punya taste dan aroma unik tersebut banyak yang tak terserap pasar manca negara.

 “Sebab, di sejumlah negara seperti Amerika dan Eropa terjadi penundaan permintaan ekspor. Sehingga, distribusi kopi yang 99,9 persen untuk ekspor ini mengalami penyumbatan, yang akhirnya banyak stok kopi menumpuk di gudang dan di tingkat petani,” papar Armia.

Dalam kondisi seperti ini, Armia hanya berharap, agar pemerintah bisa turun tangan untuk memberikan solusi bagi petani, dengan mengucurkan program berorientasi pasar dan menerapkan resi gudang.

 “ Kondisi ini bisa dimanfaatkan pemerintah untuk meningkatkan perannya. Begitu juga untuk pemerintah pusat diharap perhatiannya agar bisa meminimalkan dampak sosial dan ekonomi,” pungkasnya.

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018