
Pelepasan ekspor Gula Semut di Kulonprogo
TABLOIDSINARTANI.COM, YOGYAKARTA --- Pelepasan ekspor gula semut kelapa ke Malaysia dan Kanada yang dilakukan oleh Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti dan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono, Kamis (20/3), membawa angin segar bagi petani lokal di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Ekspor ini menandai semakin besarnya peluang produk pertanian Indonesia di pasar internasional.
Koperasi Primer Nira Lestari Golden menjadi aktor utama dalam ekspor ini, dengan mengirimkan 2 ton gula semut ke Malaysia dan 20 ton ke Kanada. Total nilai ekspor diperkirakan mencapai Rp 1,1 miliar. Menurut Wamendag Dyah Roro, keberhasilan ini membuktikan bahwa produk pertanian Indonesia, khususnya gula semut, mampu bersaing di pasar global.
"Produk gula semut Indonesia memiliki kualitas tinggi dan mampu bersaing di pasar ekspor. Ini juga menunjukkan bahwa produk kita tidak kalah dengan negara-negara penghasil lainnya," ujar Dyah Roro dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Jumat (21/3).
Selain memperkuat daya saing produk lokal, ekspor ini diharapkan membuka jalan bagi lebih banyak petani untuk terlibat dalam rantai pasokan global. Dengan meningkatnya permintaan di pasar luar negeri, petani gula semut di Kulon Progo kini memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan pendapatan mereka.
Dukungan Pemerintah untuk Ekspor Berkelanjutan
Wamendag menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendukung ekspor produk pertanian dengan berbagai kebijakan strategis. Langkah-langkah yang diambil termasuk pengamanan pasar dalam negeri serta peningkatan perjanjian perdagangan dengan negara-negara tujuan ekspor.
"Kita akan selalu mendukung dan mengamankan pasar dalam negeri sambil memperkuat ekspor. Perjanjian perdagangan dengan berbagai negara, termasuk Amerika dan Kanada, terus kita jajaki," tutur Dyah Roro.
Wamentan Sudaryono menambahkan bahwa sektor pertanian memiliki peran krusial dalam memperkuat perekonomian nasional, terutama dalam hal ketahanan pangan dan ekspor.
"Saya sangat mendukung gerakan petani muda untuk menembus pasar ekspor. Ini menunjukkan bahwa pertanian Indonesia memiliki potensi besar dan bisa menjadi andalan ekonomi nasional," ujar Wamentan Sudaryono.
Dukungan terhadap sektor pertanian juga terus diperkuat oleh pemerintah dengan berbagai kebijakan, seperti penambahan volume pupuk subsidi hingga 100 persen, kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah menjadi Rp 6.500, serta distribusi alat mesin pertanian (Alsintan). Hal ini bertujuan agar petani dapat meningkatkan produktivitas mereka dan bersaing di pasar internasional.
Peran Petani Milenial dalam Ekspor
Kepala BPPSDMP Kementan, Idha Widi Arsanti, mengungkapkan bahwa ekspor gula semut ini merupakan langkah positif yang melibatkan petani milenial. Ia menyebut bahwa sebelumnya, ekspor kakao dari Bali juga berhasil dilakukan oleh kelompok petani muda.
"Ini ekspor kedua yang melibatkan petani milenial. Sebelumnya, kami telah mengekspor kakao dari Bali, dan kini giliran gula semut dari Kulon Progo. Total nilai ekspor yang dicapai sebesar Rp 1,1 miliar," jelas Idha.
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, turut menyampaikan apresiasinya terhadap perhatian pemerintah pusat dalam mengembangkan ekspor komoditas pertanian di wilayahnya. Menurutnya, langkah ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani serta memperkuat posisi Kulon Progo sebagai sentra produksi pertanian yang mampu bersaing di pasar internasional.
Dengan adanya kebijakan yang berpihak pada petani serta peningkatan akses pasar ekspor, diharapkan ekspor produk pertanian Indonesia terus berkembang. Ini tidak hanya akan meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.