Wednesday, 21 October 2026


Bukan Lagi Sekadar Biji Kakao, BPDP Bidik Hilirisasi hingga Produk Bernilai Tinggi

10 Sep 2026, 11:35 WIBEditor : Gesha

Kakao Indonesia tak lagi cukup dijual sebagai biji mentah. BPDP mendorong hilirisasi agar kakao diolah menjadi produk bernilai tinggi dan menguntungkan pekebun.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Kakao Indonesia tak lagi cukup dijual sebagai biji mentah. BPDP mendorong hilirisasi agar kakao diolah menjadi produk bernilai tinggi dan menguntungkan pekebun.

Kakao Indonesia jangan hanya berhenti sebagai biji mentah yang dijual ke pasar. 

Satu pohon kakao memiliki potensi menghasilkan beragam produk bernilai ekonomi tinggi, mulai dari bahan pangan hingga kebutuhan industri kosmetik, farmasi dan produk turunan lainnya.

Potensi tersebut menjadi salah satu dasar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mendorong hilirisasi kakao di Indonesia. 

Pengembangan tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi di tingkat pekebun, tetapi juga bagaimana hasil panen dan berbagai bagian tanaman kakao dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.

Plt. Kepala Divisi Penyaluran Dana Program Pangan dan Hilirisasi BPDP, Arfie Thahar, mengatakan pengembangan hilirisasi kakao dapat mengacu pada pohon industri yang menggambarkan berbagai kemungkinan pemanfaatan komoditas tersebut.

Hal itu disampaikan Arfie dalam Webinar Hari Kakao Nasional bertajuk “Momentum Mendorong Hilirisasi untuk Kesejahteraan Pekebun” di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Menurut Arfie, dari biji kakao saja sudah terdapat sejumlah produk turunan yang dapat dikembangkan. 

Biji kakao dapat diolah menjadi cocoa paste, cocoa butter dan cocoa powder yang kemudian menjadi bahan baku berbagai produk industri.

Rantai pengolahan tersebut masih dapat diperpanjang. 

Cocoa butter, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri, termasuk oleokimia, kosmetik dan farmasi. 

Sementara bagian lain seperti kulit, pulp, batang, daun dan biomassa kakao juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

“Tujuannya bagaimana meningkatkan nilai tambah dan daya saing dari komoditas perkebunan,” kata Arfie.

Dengan konsep tersebut, kakao tidak lagi dipandang hanya sebagai komoditas yang menghasilkan biji.

Kakao dapat menjadi sumber bahan baku bagi berbagai industri jika pengolahan dilakukan secara lebih terintegrasi.

BPDP juga ingin hasil penelitian dan inovasi yang sudah memiliki tingkat kesiapan teknologi tinggi tidak berhenti di laboratorium atau publikasi. 

Hasil riset yang dinilai memiliki prospek dapat didorong menuju penerapan hingga komersialisasi.

Arfie menjelaskan, program riset BPDP selama ini mencakup berbagai bidang, mulai dari peningkatan produktivitas dan efisiensi, keberlanjutan, penciptaan produk atau pasar baru hingga peningkatan kesejahteraan petani.

Hingga 31 Juli 2026, program riset BPDP telah melibatkan 109 lembaga riset, 466 kontrak dan 1.873 peneliti.

Untuk kakao, peluang tersebut dapat menjadi jembatan agar inovasi yang sudah dihasilkan perguruan tinggi maupun lembaga penelitian dapat dilanjutkan menjadi produk komersial.

“Kita ingin di dalam negeri itu dengan kekuatan dari bahan baku komoditas yang kita punya, kita juga bisa meningkatkan bagaimana nilai tambah itu bisa dimanfaatkan di dalam negeri,” ujar Arfie.

Menurutnya, hasil riset yang telah memiliki tingkat kesiapan teknologi tinggi dapat dikembangkan melalui program pangan dan hilirisasi. 

Dengan demikian, teknologi tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat diterapkan oleh badan usaha dan berkembang menjadi kegiatan industri.

Hilirisasi kakao juga diarahkan untuk memperkuat industri pengolahan dalam negeri sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia.

Arfie menilai, apabila kakao dapat diolah terlebih dahulu di dalam negeri, produk yang dipasarkan tidak lagi sekadar membawa nilai bahan baku. 

Produk olahan dengan nilai tambah lebih tinggi memiliki peluang untuk menyasar pasar domestik maupun ekspor.

“Kalau nanti dijual atau diekspor, ekspor itu sudah dalam produk olahan yang nilai tambahnya sudah tinggi,” jelasnya.

Untuk mendukung pengembangan tersebut, BPDP membuka peluang bagi berbagai pihak mengusulkan program hilirisasi. 

Pengusul dapat berasal dari badan usaha, koperasi, UMKM, asosiasi atau organisasi profesi perkebunan, lembaga penelitian maupun perguruan tinggi.

Pengajuan dapat dilakukan melalui mekanisme seleksi terbuka atau call for proposal. 

Selain itu, BPDP menyiapkan jalur lomba hilirisasi untuk program dengan skala lebih kecil.

Dalam jalur lomba tersebut, pendanaan yang disiapkan berada pada kisaran Rp300 juta hingga Rp500 juta untuk satu program. 

Skema ini dapat menjadi ruang bagi pelaku usaha maupun startup mengembangkan inovasi hilirisasi kakao.

Pengembangan industri hilir pada akhirnya harus memberikan dampak terhadap sektor hulu, terutama pekebun kakao sebagai pemasok bahan baku.

Semakin panjang rantai nilai yang berkembang di dalam negeri, semakin besar pula peluang terciptanya aktivitas ekonomi baru. 

Tidak hanya bagi industri pengolahan, tetapi juga koperasi, UMKM, pelaku usaha, peneliti hingga pekebun.

Karena itu, penguatan hulu dan hilir perlu berjalan beriringan. Ketersediaan bahan baku berkualitas harus diikuti kemampuan industri mengolah kakao menjadi produk yang kompetitif.

“BPDP dalam hal ini memperkuat di hulu dan juga memperkuat di hilir,” kata Arfie.

Dengan kekuatan pohon industri kakao yang begitu luas, Indonesia memiliki peluang untuk mengubah kakao dari sekadar komoditas menjadi sumber berbagai produk bernilai tinggi. 

Tantangannya adalah memastikan riset, teknologi, bahan baku, industri dan pasar terhubung sehingga nilai ekonomi kakao semakin banyak tercipta di dalam negeri dan peluang manfaatnya dapat dirasakan hingga tingkat pekebun.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018