Swasembada protein hewani menjadi isu penting dalam penyediaan pangan masyarakat. Berbagai jenis ternak digenjot untuk menjadi sumber protein hewani tersebut. Ada daging sapi, daging ayam ras dan ada daging kambing/domba dan ternak lainnya. Dari berbagai jenis ternak itu, persoalan yang mendasar adalah bagaimana menciptakan produksi dalam waktu cepat, berproduksi tinggi dan efisien.
Satu dari banyak sumber ternak itu adalah ayam buras (ayam kampung) yang juga bisa menjadi pendamping ayam ras sebagai sumber protein hewani. Saat ini telah berhasil dikembangkan inovasi terbaru berupa jenis unggul ayam kampung yang bernama ayam KUB-1. Ayam ini memiliki produksi telur yang tinggi, kebiasaan mengeram rendah dan pertumbuhan berat badannya cepat.
Ayam KUB-1 merupakan galur baru female line ayam hasil pemuliaan berbasis ayam kampung yang berasal dari beberapa lokasi di Provinsi Jawa Barat dan telah dilepaskan dengan SK Menteri Pertanian No. 1023/6/2014. Hal ini merupakan kebanggan bagi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian khususnya peneliti pemuliaan unggas di Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan cq Balai Penelitian Ternak. SK Menteri Pertanian tersebut merupakan pengakuan atas hasil kerja penelitian pemuliaan untuk pembentukan galur baru ayam KUB-1 dengan sifat yang khas.
Di Indonesia galur ayam ini merupakan yang pertama sebagai galur ayam kampung hasil penelitian. Galur ayam ini merupakan galur betina yang diunggulkan untuk sifat-sifat terdiri dari : 1. produksi telur antara 160-180 butir/ekor/tahun, 2. kemampuan mengeram yang mulai berkurang hingga tinggal 10%, 3. bobot badan sekitar 1,0 kg pada umur 12 minggu.
Paling tidak terdapat lebih dari 24 rumpun ayam lokal dan asli Indonesia yang tersebar di berbagai pelosok tanah air dengan segala ciri keunggulannya. Sumberdaya genetik ayam lokal tersebut telah beradaptasi dengan baik pada berbagai kondisi agroekosistem. Dilaporkan pula bahwa Indonesia merupakan salah satu negara (lokasi) titik pembentukan rumpun ayam lokal selain di China, India dan Eropa.
Penelitian pembentukan galur ini dimulai dari evaluasi produktivitas (bobot badan, pertumbuhan, produksi telur, bobot telur, konversi pakan, kualitas telur maupun konversi pakan) berbagai rumpun ayam lokal, yang akhirnya menentukan ayam lokal dari Kabupaten Canjur, Sukabumi dan Kuningan sebagai basis untuk pembentukan galur ayam petelur. Kemudian dilakukan penelitian dengan melakukan perkawinan dan seleksi dari individu yang dinilai mempunyai nilai keunggulan sifat produksi selama lima generasi.
Setelah melakukan distribusi dan pengembangan bibit ayam KUB-1 dari mulai tahun 2010, maka berbagai keluhan yang diterima dari peternak dalam pemeliharaan ayam KUB-1 antara lain adalah :
1. Harga pakan unggas yang relatif mahal karena masih mengandalkan dari pabrik pakan nasional.
2. Timbulnya kanibalisme yang berakibat pada tingginya tingkat kematian maupun pertumbuhan yang tidak merata.
3. Masih timbulnya sifat mengeram pada beberapa flock induk yang sudah disebarkan.
Dengan melihat permasalahan yang ada, maka para peneliti kemudian akan melakukan penelitian kembali guna menyempurnakan sifat produksi yang ada pada ayam KUB-1. Misalnya sifat mengeram yang masih timbul memang tidak dapat dihilangkan begitu saja, karena hal tersebut merupakan sifat khas dari ayam kampung, namun dapat dikurangi dengan manajemen penetasan.
Sifat mematuk sebagai wujud dari kanibalisme (biasanya karena kekurangan mineral atau kepadatan kandang terlalu tinggi maupun karena kekurangan pemanasan) dapat dikurangi dengan memberikan mineral tambahan pada pakan maupun memberikan gedebok pisang atau sayuran. Tingginya harga pakan dapat ditanggulangi dengan mencampurkan pakan konsentrat dengan dedak sehingga diperoleh kandungan protein dan energi seperti yang diperlukan. Pakan unggas memerlukan sumber protein, sumber energi dan asam amino serta kandungan mineral sesuai dengan anjuran pakar.
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto