Cinta itu memang indah. Ada yang berujung bahagia, tapi ada juga yang berakhir dengan duka dan kematian. Namun di balik duka dan kematian itu belum tentu merupakan kesedihan yang berkepanjangan, bahkan ada pula yang bahagia. Barangkali pernyataan ini sedikit antagonis, tapi ini kenyataan ketika hama lanas mati karena cinta, petani ubijalar pasti senang. Ubinya terbebas dari lanas, harga jualpun mahal.
Ilustrasi itu bukan sekedar sebuah imajinasi belaka, tetapi kisah ini diangkat dari kemampuan sebuah inovasi teknologi yang dikembangkan oleh Balai Besar Biogen Bogor berupa Feromon sex yang mampu menarik sebanyak-banyaknya kumbang lanas ke dalam sebuah perangkat yang mematikan. Hasilnya, ubijalar Manohara yang banyak dibudidayakan di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat kini semakin putih bersih dan molek.
Untuk membuktikan fakta inovasi tersebut, Sinar Tani kali ini bersama dengan Tim Jelajah yang berasal dari BB Biogen yang terdiri dari Dr. I. Made Samudra, Peneliti BB Biogen, Ir. Ida N Orbani, Kasi PHP BB Biogen dan Wahid Maulana, Staf PHP BB Biogen belum lama ini meluncur ke kabupaten tersebut.
Perjalanan menuju Kabupaten Kuningan terasa sangat menyenangkan, bukan saja materi teknologinya yang menarik untuk dibahas, feromon sex ini sangat asyik dijadikan guyonan sepanjang perjalanan. Apalagi Dr. I Made Samudra sang pakar feromon ini tergolong orang yang ‘no thing to loss’ dan enjoy membuat penjelajahan ini terasa hangat, tidak melelahkan.
Perjalanan ke Kabupaten Kuningan ditempuh selama 6 jam dari Bogor, dan setelah masuk ke kabupaten itu terasa suasana ubijalar menjalar di mana-mana. Di kanan dan kiri jalan, dari satu kecamatan ke kecamatan lain hamparan tanaman ubijalar membentang tertata rapi seperti karpet hijau. Pantas saja kabupaten ini dipilih menjadi daerah uji coba Ferolanas tersebut.
Dari data yang ada, produksi ubijalar dari tahun 2008 mencapai 110.428 ton, 2009 sebesar 109.225 ton, 2010 sebesar 96.862 ton, 2011 mencapai 96.610 ton dan pada tahun 2012 lalu mencapai 119.626 ton. Ada tiga kecamatan yang menjadi pusat ubijalar yakni di Kecamatan Cilimus, Kecamatan Cigandamekar, dan Kecamatan Jalaksana.
Ubijalar Indonesia
Untuk melihat keragaan ubijalar secara nasional, Pak Made begitu panggilan akrab I Made Samudra berbagai informasi. Menurutnya ubijalar (Ipomoea batatas L), merupakan tanaman pangan terpenting ke-7 di dunia. Negara-negara yang dikenal sebagai penghasil ubijalar saat ini adalah Amerika Latin dan Tengah, Indonesia, China, Vietnam, Jepang, India.
Di Indonesia, ubijalar merupakan sumber karbohidrat dan bahkan menjadi makanan utama di beberapa daerah. Ubijalar digunakan sebagai makanan, pakan ternak ataupun bahan industri. Selain sebagai sumber karbohidrat, ubijalar diketahui mengandung banyak nutrisi esensial seperti provitamin A, serat, lemak, asam-asam amino, zat besi, antosianin dan bahan antioksidan.
Di Indonesia produktivitas ubijalar masih relatif rendah, berkisar antara 8-15 ton/ha, sedangkan potensial hasilnya dapat mencapai 30-40 ton/ha. Hal ini disebabkan karena sistem budidaya yang belum optimal, baik penyediaan dan jenis bibit maupun pemeliharaan tanaman. Hama merupakan salah satu faktor pembatas penyebab rendahnya produktivitas.
Mampir ke Linggarjati
Desa Linggajati berada di Kecamatan Cilimus dan terletak pada ketinggian 627 meter dari permukaan laut. Desa ini tergolong mudah untuk dijangkau oleh kendaraan umum baik dari Cirebon kira-kira 25 km maupun dari Kuningan 15 km. Desa ini termasuk desa yang berada di kaki Gunung Ciremai bersama desa lainnya seperti Desa Linggamekar, Linggasana, Lingga Indah dan Desa setianegara.
Seperti kebanyakan desa di Kabupaten Kuningan, sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani. Namun satu keistimewaan Desa Linggarjati adalah sebagai tempat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Di desa inilah pada tanggal 11-13 November 1946 berlangsung sebuah perundingan antara Indonesia dan Balanda yang dikenal sebagai perundingan Linggarjati. Sebuah perundingan yang sangat menentukan lepasnya Kolonisasi Belanda di tanah Nusantara.
Di sebuah gedung yang telah ada sejak tahun 1918, perundingan itu berlangsung. Saat ini gedung tersebut kerap disebut sebagai Gedung Naskah Linggarjati.
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto