Sunday, 01 November 2026


Peneliti dan Penyuluh Bergandeng Tangan

20 Nov 2014, 13:02 WIBEditor : Julianto

Inovasi baru menjadi salah satu kunci menggapai kemajuan dalam pembangunan pertanian. Namun sampainya hasil inovasi ke petani memerlukan peran penyuluhan. Karena itu peneliti dan penyuluh harus bergandeng tangan. Ibarat dua mata koin yang tidak bisa dipisahkan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Kementerian Pertanian, Winny Dian Wibawa mengatakan, kunci teknologi pertanian ada pada Litbang Pertanian. Namun hasil teknologi tersebut perlu disebarluaskan ke petani. Proses transfer teknologi pertanian tersebut berada di penyuluh pertanian.

Menurut Winny, di lapangan saat ini ada BPTP yang menjadi perpanjangtanganan dari Badan Litbang Pertanian. Dari hasil penelitian itulah kemudian dibuat semacam demplot untuk uji coba di tingkat petani. “Dalam uji coba itu bukan hanya peneliti yang terlibat, tapi juga penyuluh karena mereka juga harus belajar. Ini menjadi kunci penting dalam diseminasi hasil penelitian,” katanya.

Sebab ungkap Winny, dalam desiminasi hasil teknologi tidak bisa hanya menyampaikan, tapi kalangan penyuluh juga harus menguasai dan mampu mengimplementasikan dalam bentuk contoh-contoh. “Di sinilah peran penyuluh, setelah mereka mendapat ilmunya, maka mereka harus membuat demplot. Selama ini mungkin kendala dalam pembuatan demplot adalah tidak ada dananya,” ujarnya.

Untuk membantu transfer teknologi hasil Litbang Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian akan memberikan fasilitas tambahan untuk Balai Penyuluh Pertanian (BPP). Tahun 2014 ini baru sekitar 100 BPP, pada tahun 2015 jumlahnya akan ditingkatkan.

Komunikasi BPP dan BPTP

Karena itu Winny berharap, ke depan BPTP harus sering berkomunikasi intens dengan BPP sebagai wadah para penyuluh pertanian. Dengan pertemuan rutin antara penyuluh di BPP dan peneliti di BPTP, maka hasil penelitian diimplementasikan di lapangan dapat dievaluasi.

Misalnya setiap tiga bulan dievaluasi apa kendala. Dengan demikian proses transfer inovasi bisa sampai ke petani, karena ada komunikasi peneliti dan penyuluh setiap ada masalah. “Kami mengharapkan tanggungjawab peneliti bukan hanya mensosialisasikan saja, tapi juga harus mencakup evaluasi apa yang sudah disosialisasikan. Apakah terimplementasikan atau tidak?,” tegasnya.

Satu-satunya metode yang paling efektif menurut Winny adalah adanya pertemuan berkala. Misalnya, setiap tiga bulan sekali untuk membahas permasalahan yang tidak bisa diimplementasikan atau mungkin teknologinya tidak pas untuk petani. Sebab, setiap persoalan di lapangan kondisinya berbeda, sehingga penyelesainnya  tidak bisa dengan kebijakan nasional.

“Jadi teknologi baru tersebut  jangan dilempar begitu saja. Harus dievaluasi berapa persen yang bisa masuk dan berapa persen yang tidak. Jadi bola teknologi yang dilempar harus bisa ditangkap penyuluh,” tuturnya.

Dengan demikian kata Winny, evaluasi perkembangan hasil penelitian yang diterapkan di lapangan antara peneliti dan penyuluh akan lebih cepat. Sebab, para peneliti akan segera mendapatkan umpan balik dari masalah yang terjadi di lapangan dari penyuluh. “Dengan demikian, transfer inovasi teknologi akan berjalan dengan baik,” ujarnya.

Winny mengaku, selama ini informasi teknologi yang diperoleh penyuluh memang ada, tapi kecenderungannya lebih banyak dengan cara membaca atau bahan tulisan. Jika ada sosialisasi dan contoh hasil penelitian dari peneliti, maka penyuluh akan lebih tertarik ketimbang mengetahui dari sekedar membaca.

“Saya pikir itu bisa dan saya optimis karena apapun program kalau tidak dikawal penyuluh tidak akan berhasil,” katanya. Sebab lanjut Winny, petani tidak akan bisa menguasai teknologi baru tanpa pendampingan dari penyuluh.  Petani harus dikunjungi, diberikan penjelasan, didatangi dan diberikan contoh. Jadi sistem yang dipergunakan adalah susi laku (supervise, latihan dan kunjungan).

Inovasi untuk SDM Penyuluh 

Karena itu menurut Winny, kunci lain dalam pembangunan pertanian bukan hanya inovasi teknologi, tapi juga SDM penyuluh. Jadi, meski teknologinya bagus, tapi SDM-nya tidak mumpuni percuma. “Menurut saya SDM penyuluh itu adalah kunci. Pelatihan aparatur, khususnya SDM penyuluh itu harus menjadi prioritas seperti pelatihan dasar dan pelatihan ahli, termasuk itu THL-TBPP,” katanya.

Dengan pengetahuan mengenai inovasi dan teknologi Winny menilai, kalangan penyuluh, termasuk THL-TBPP (Tenaga Harian Lepas dan Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian) tidak lagi takut menghadapi petani yang umumnya lebih banyak mengetahui soal lapangan.

Karena itu cara yang kini terus didorong untuk meningkatkan kualitas penyuluh, terutama pemahaman terhadap inovasi teknologi adalah pelatihan rutin di BPP. Nantinya, widyaiswara yang berkunjung ke BPP untuk meng-update pengetahuan penyuluh. “Programnya, kalau untuk petani dan petugas penyuluhan utamanya pelatihan teknis budidaya dan pasca panen. Itu bagian dari agribisnis yang harus kita perkuat,” katanya.

Sementara itu untuk Kepala BPP, ungkap Winny, pihaknya akan meningkatkan manajerialnya. Sebab, seorang pimpinan BPP tugasnya mengkoordinasikan banyak penyuluh. Dengan demikian, bagaimana dia mengetahui potensi kecamatan dan menggerakkan potensi tersebut. Bahkan sebagai komandan di wilayah, Kepala BPP juga harus bisa menjalin kemitraan dengan banyak pihak.

“Saya harapkan ke depan Kepala BPP memiliki tugas seperti kepala wilayah yang akan mengkoordinir banyak kegiatan, sehingga dia adalah orang yang mumpuni. Apalagi BPP nantinya sebagai simpul koordinasi berbagai kegiatannya, sehingga Kepala BPP harus mampu mengoptimalkan potensi wilayahnya,” tutur Winny.

Sejak awal tahun lalu kata Winny, pihaknya sudah merancang kegiatan-kegiatan yang langsung fokus pada pendidikan dan pelatihan. Kuncinya adalah bagaimana mampu meningkatkan efektifitas penyuluhan dalam rangka mengawal dan mengadvokasi masyarakat. “Tugas kita fokus mengarah ke penyuluhan,” ujarnya.

Salah satu langkahnya adalah memperkuat BPP dan BP3K sebagai institusi terdepan. Pada tahun 2014 ini, baru 1.000 BPP yang mendapat alokasi dana pengembangan. Tahun 2015 diharapkan akan ada 5.000 BPP lagi yang mendapat anggaran untuk pengembangan.

“Ke depan kami berharap BPP bukan hanya sebagai tempat penyuluhan, tapi juga sebagai simpul koordinasi kegiatan-kegiatan Kementerian Pertanian di lapangan, termasuk proses transfer teknologi,” tuturnya.

Untuk mendukung peningkatan SDM Pertanian, khususnya penyuluh yang berbasis inovasi teknologi, Winny mengatakan, pihaknya tengah mendorong agar penyuluh juga ‘melek’ teknologi informatika. Selain dari peneliti BPTP, penyuluh nantinya bisa mendapatkan informasi teknologi dari website. Saat ini yang telah dikembangkan adalah Cyber extention untuk kalangan penyuluh. “Jadi bukan hanya mendapatkan pengetahuan dari pelatihan, tapi konten-konten website ini juga bisa membantu meningkatkan kualitas SDM,” katanya. Yul

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018