Sunday, 01 November 2026


Abdul Wadud, Melihat Bukti Dari Balithi

04 Aug 2015, 14:08 WIBEditor : Kontributor

Umurnya baru 37 tahun, namun alhamdulilah  usaha bunga potongnya telah mampu berkembang dan menjadi sumber penghasilan utama keluarga. Banyak komoditas bung potong yang digelutinya, satu diantaranya adalah Gladiol hasil inovasi Teknologi Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi).

Abdul wadud namanya, kini dia memilki dua orang anak yang masih kecil-kecil. Kendati tutur bahasanya ‘kalem’, dari sorot matanya tampak pandangan bisnis yang cukup bergelora. Tidak tanggung-tanggung luas tanaman hias bunga potong yang dikembangkannya mencapai ribuan meter persegi.

Memang diakuinya usaha tanaman hias ini diwariskan oleh orang tuanya, namun berbagai pengalaman pribadi yang dialaminya dalam mengembangkan tanaman hias telah membuat dirinya untuk mampu menilai mana teknologi yang cocok dikembangkan dan laku jual mana yang tidak.

Dia bercerita, dari dulu dan bahkan sampai sekarang masih ada petani tanaman hias yang menggunakan galdiol yang didatangkan dari luar negeri. Memang pada awalnya pertumbuhannya sangat bagus, namun belakangan ini Gladiol Holand Merah itu tidak mampu lagi menghadapi serangan penyakit layu fusarium.

Ditengah ‘kegalauan’ petani itu, hadir peneliti-peneliti dari Balithi yang membawa paket teknologi lengkap pengembangan gladiol. Paket teknologi itu mulai dari cara budidaya yang benar dan menguntungkan sampai pada varietas-varietas yang mampu menghadapi serangan penyakit layu fusarium tersebut yang diminati pasar.

Ada tiga varietas Balitbangtan yang dia gunakan saat ini, yakni Hunaena, Riska dan Laela. Sedangkan varietas non Balitbangtannya adalah Holand Merah, Holand Ungu dan Holand Batik. Dari pengalamannya, dia menilai terlihat perbedaan yang signifikan antara jenis  gladiol tersebut. Varietas yang diperkenalkan oleh Balithi seperti Riska sangat diminati oleh konsumen karenanya bunganya bagus, tangkainya besar dan bunganya panjang.

Keunggulan lain juga, varietas Balithi ini bisa cepat diperbanyak dan tahan terhadap serangan fusarium serta bunganya mampu bertahan cukup lama dibandingkan dengan varietas non Balithi. Hal ini mungkin disebabkan oleh tingkat kesegaran dan kesehatan bunga yang jauh lebih baik.

Di samping bunga potong lain yang dia kembangkan, sekarang ada sekitar 15 ribu tanaman gladiol yang ditanam. Biasanya dari tanaman yang ditanam tersebut bisa menghasilkan 10.000 potong gladiol dengan grade A, 5000 potong  grade B dan 2000 potong grade C.

Pasarnya Menggiurkan

Abdul Wadud juga bercerita bahwa soal pasar bunga potong cukup menggiurkan, petani biasanya menanam bunga potong untuk persiapan hari-hari libur dan hari-hari besar seperti hari raya dan tahun baru. Untuk hari raya rata-rata harga penjualan gladiol bisa mencapai lebih dari Rp. 2000 per tangkai, sedangkan untuk hari-hari biasa harganya hanya Rp.500 per potong.

Sedangkan soal permintaan, selama ini Wadud tidak mengalami masalah. Pedagang dari Jakarta, Bogor dan Bandung biasanya datang langsung ke kebun untuk memberli bunga. Seandainya tidak ada pembeli yang datang ke kebun, biasanya dia langsung membawa bunga ke pasar Rawa Belong Jakarta. Lis.  

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018