Sunday, 01 November 2026


Menelisik Inovasi Gerga Bersama Bu Yeni

20 Aug 2015, 14:05 WIBEditor : Kontributor

Nama lengkapnya adalah Ir. Sri Suryani M. Rambe, M.Agr,  sehari-hari dia dipanggil dengan sebutan Bu Yeni.  Penyuluh senior di BPTP Bengkulu turut andil dalam mengawal desiminasi inovasi teknologi pada pengembangan jeruk Gerga di Kabupaten Lebong. Dia juga didampingi oleh seorang peneliti muda bernama Kusmea Dinata, SP.

Kekagumannya dengan jeruk yang satu ini, karena berbuah sepanjang tahun, satu pohon ada 4-6 generasi/tingkatan, dalam satu pohon ada bunga, buah muda sampai buah siap panen. Panen raya biasanya terjadi dua kali yaitu pada bulan agustus dan september, sedangkan panen selang juga dua kali/tahun. Kulit buah tebal, buah dapat bertahan hingga 1 (satu) bulan.

Tanaman ini mulai berbuah pada umur 2 (dua) tahun. Pada umur 5 tahun, produksi jeruk gerga mencapai 150 kg/batang/tahun. Jumlah buah sebanyak 3-5 buah/kg. Pemasaran jeruk ini masih terbuka, selain dipasarkan di lokasi juga ke super market dengan harga jual dilokasi berkisar Rp. 20.000 s/d Rp. 30.000 Rp. 25.000 dan di super market Rp. 28.000 – Rp. 30.000.

Dirjen hortikultura menetapkan keprok jeruk Rimau Gerga Lebong ini sebagai aset nasional untuk dikembangkan dari yang awalnya baru sekitar 6 ha menjadi kawasan agribisnis hortikultura/jeruk di eks lahan tidur seluas 6000 ha pada lima tahun mendatang.

Program pengembangan kawasan jeruk dimulai tahun 2011. Pada tahun 2015, program pengembangan kawasan jeruk di Prop. Bengkulu seluas 257 ha yang tersebar pada 4 kabupaten yaitu kabupaten Lebong, Kepahiang, Bengkulu Tengah dan Bengkulu Utara.

Khusus untuk Jeruk Gerga akan dikembangkan di Kabupaten Lebong seluas 135 ha. dan Kabupaten Kepahiang seluas 82 ha. Pada tahun 2012, BPTP Bengkulu melakukan pengkajian-pengkajian untuk memperoleh teknologi yang spesifik lokasi, antara lain pengkajian pemupukan dan umur petik buah jeruk yang optimal serta kajian tentang hama penyakit.

Selanjutnya pada tahun 2013 dan 2014, BPTP Bengkulu melakukan kegiatan diseminasi berupa Model Pengembangan Pertanian Perdesaan melalui Inovasi. Mulai tahun 2015, BPTP Bengkulu melakukan kegiatan diseminasi berupa kegiatan Pendampingan pengembangan kawasan hortikultura (jeruk) di Provinsi Bengkulu yaitu menyiapkan bahan-bahan diseminasi berupa leaflet, brosur dan buku. Pendampingan yang dilakukan berupa pendampingan teknologi, penanganan dan pengolahan hasil.

Teknologi Gerga

Untuk memperoleh produktivitas yang optimal, perlu diterapkan teknologi budidaya yang tepat, yang meliputi penggunaan benih tanaman, cara tanam, penggunaan kompos, pemupukan, pemangkasan, pengairan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, panen yang tepat waktu.

Pemilihan benih yang baik adalah benih tanaman  yang baik berasal dari perbanyakan dengan okulasi atau sambung pucuk, berlabel dengan tinggi bibit antara  60-80 cm (lebih dari 40 cm dari mata tempel) dan diameter batang 1,2 - 2  cm dengan pertumbuhan baik, bebas penyakit serta perakarannya normal.

Untuk penyiapan lahan dan penanaman, Lahan dibersihkan dari batuan dan pohon besar. Pengajiran dilakukan dengan jarak tanam 7 - 7.5 x 5 - 5.5 m  dengan populasi sekitar 250 tanaman/ha, dengan arah barisan timur barat, atau jika ditanam pada lahan miring atau daerah berlereng, pertanaman harus mengikuti kontur/ sabuk gunung. Bisa juga dilakukan penanaman secara zigzag.

Lubang tanam ber ukuran panjang 40-60 cm , lebar 40-60 cm dann tinggi 40-60 cm. Pada saat penggalian lubang,  pisahkan tanah lapisan atas (arah timur/kiri) dan tanah lapisan bawah (arah barat/kanan).  Campur tanah galian bagian atas dan bawah dengan 20 kg kompos dan  0.5 kg dolomit. Biarkan lubang tanam terbuka selama 1-2 minggu sebelum penanaman dilaksanakan.

Tanam  dilakukan pada awal musim hujan,  sebaiknya sore hari. Setiap pohon dipasang ajir agar tanaman tetap tegak saat angin kencang. Pemeliharaan tanaman  terdiri dari penyulaman, pemangkasan, pengairan, pemupukan, penjarangan buah, dan pengendalian hama penyakit. Penyulaman dilakukan pada tanaman yang tidak tumbuh atau  rusak.

Untuk mendapatkan kualitas buah perlu dilakukan pemangkasan yang   meliputi pemangkasan dasar/bentuk dan pemeliharaan. Pemangkasan bentuk dilakukan setelah tinggi tanaman  melebihi 75 cm dengan tujuan mendapatkan kerangka dasar percabangan dan bentuk pohon yang baik.

Tahapan pemangkasan bentuk yaitu pemotongan batang utama, pemeliharaan tunas, kemudian pemilihan dan pemeliharaan cabang utama.

Pemangkasan pemeliharaan dilakukan setelah panen besar dengan tujuan utama mengatur produksi dan menjaga kesehatan tanaman. Bagian-bagian yang harus dipangkas yaitu tunas liar yang tumbuhnya tegak lurus ke atas dan ke dalam, cabang atau ranting yang sakit, tangkai bekas pendukung buah, cabang/ranting yang terlalu rimbun dan cabang/ranting yang tajuknya bertumpang tindih.

Saat fase pertumbuhan vegetatif baru, fase pembungaan dan pembentukan buah harus tersedia cukup air. Pemasangan mulsa plastik hitam perak atau pemberian mulsa jerami dapat menghemat air sekaligus mengendalikan gulma. Tanaman  jeruk perlu diberikan kompos/pupuk organik dan pupuk kimia (NPK, Urea). Pemberian pupuk spesifik lokasi sesuai umur tanaman.

Rekomendasi pemupukan tanaman  jeruk

Umur

(tahun)

Dosisi Pupuk (gr)/tanaman/tahun

NPK

Urea

Dolomit

1

100-150

20-40

500

2

200-300

50-70

500

3

300-400

80-100

750

4

400-500

100-120

750

5

500-600

120-150

1000

Kompos diberikan sekali setahun sebanyak 20 – 40 kg per pohon untuk umur 1 – 4 tahun dan 40 – 60 kg untuk umur diatas 4 tahun. Pupuk kimia diberikan setiap 3 bulan sekali.

Pemberian pupuk pada parit melingkar atau pada 4-5 lubang yang dibuat dibawah tajuk terluar lalu ditimbun tanah secukupnya. Pupuk mikro diberikan 2 – 3 kali saat pertunasan dengan menyemprotkan senyawa atau pupuk daun yang mengandung unsur seng, tembaga, mangan, dan besi.

Penjarangan dilakukan pada saat ukuran buah sebesar kelereng dan jika produksi masih terlalu tinggi, penjarangan berikutnya dilakukan sekitar umur 4 bulan dari saat pembungaan. Buah yang dipetik terutama yang letaknya bergerombol atau jumlahnya lebih dari dua buah/tangkai, ukurannya paling kecil, cacat, dan penampilannya jelek (burik).

Pencegahan CVPD dilakukan dengan menanam  bibit yang sehat dan mengendalikan serangga kutu loncat (Diaphorina citri) dengan cara pengamatan yang intensif. Pengendalian penyakit busuk pangkal batang/busuk akar dengan pemberian kompos Trichoderma dan penyemprotan Trichoderma secara rutin.

Pengendalian hama penyebab gugur buah dilakukan dengan memasang perangkap, mengubur buah gugur dan menanam serai wangi atau menyemprot dengan minyak serai. Penggunaan pestisida untuk pengendalian hama penyakit lainnya sebaiknya diprioritaskan dilakukan pada periode kritis yaitu pada fase pertunasan.

Produktivitas tanaman jeruk Gerga yang berumur 4-5 tahun berkisar  60-100 kg/tanaman/tahun. Dengan melaksanakan teknologi budidaya yang tepat maka akan diperoleh produktivitas tanaman jeruk yang optimal. Lis

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018