Sunday, 01 November 2026


Ayam KUB Berpeluang Mendominasi di Bumi Seribu Masjid

27 Aug 2015, 09:17 WIBEditor : Kontributor

‘Bumi Seribu Masjid’ adalah julukan untuk Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Provinsi yang berbatasan langsung dengan Pulau Dewata ini menyimpan sebuah kuliner khas daerah bernama ‘Ayam Taliwang’ sebuah menu makanan yang menyajikan ayam kampung yang berusia muda dengan menu tambahan kangkung (plecing). Rumah makan ayam taliwang tersebar menyeruak hampir di seluruh Lombok, bahkan saat ini sudah menyebar ke berbagai kota-kota besar di Indonesia.

Ayam kampung muda itulah kekhasannya! Sayangnya, sejak beberapa tahun belakangan ini, pasokan ayam kampung muda terus tergerus, sampai-sampai pada saat-saat tertentu terjadi kelangkaan. Melihat begitu besar permintaan, tidak sedikit orang mencoba memutar otak dengan berbagai cara untuk memenuhi pasokan tersebut. Ada yang menggunakan ayam petelur jantan (atau disebut ayam pejantan) yang pastinya bukan ayam kampung, ada pula yang menggunakan ayam arab yang sedikit mirip dengan ayam kampung.

Alhamdulillah!  Sejak tahun 2012 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah berhasil mengembangkan Ayam Kampung Unggul  Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian atau disingkat Ayam KUB. Ayam ini lebih unggul dibandingkan dengan ayam kampung biasa, dengan rata-rata produksi telur sekitar 50% dan  memiliki pertumbuhan badan yang lebih cepat, serta memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan dengan penampilan luar yang tetap seperti ayam kampung biasa, sehingga tetap diminati konsumen.

Guna melihat perkembangan terkini ayam KUB, Tim Jelajah Inovasi pekan lalu berhasil mengunjungi Pulau Lombok. Kali ini tim Wartawan Sinar Tani didampingi oleh seorang Peneliti dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak Bogor), Dr. Tike Sartika, pemulia ternak ini adalah seorang inventor Ayam KUB.

Tim jelajah juga diperkuat oleh Prof. Sugeng Prasetyo, Guru Besar di Universitas Mataram (Unram), yang didampingi oleh Nurul Agustini, S.Pt, Penyuluh BPTP NTB.

Begitu semangat tim jelajah untuk menelisik perkembangan ayam KUB,  tanpa banyak waktu terbuang dari Bandar Udara Internasional Lombok, tim langsung meluncur ke Kelompok Tani Ternak Jaya Mandiri di Desa Jago, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah, kira-kira 1 jam dari bandar udara. Kelompok tani yang diketuai oleh Sirojudin adalah salah satu kelompok yang telah berhasil mengembangkan ayam KUB.

Peluang Ayam KUB

Di sepanjang penjelajahan ini, Prof. Sugeng Prasetyo dengan sikap yang sangat bersahabat banyak memberikan masukan seputar peluang pengembangan ayam KUB. Putra Yogyakarta yang lebih dari separuh hidupnya di tanah Lombok ini bercerita, Ayam kampung di Lombok tidak dapat dipisahkan dengan ayam taliwang, masakan khas daerah. Dengan berjalannya waktu konsumen masakan ayam taliwang makin banyak, ini berarti kebutuhan ayam kampung semakin banyak.

Sayangnya, produktivitas ayam kampung yang rendah dan sebagian besar dipelihara secara tradisional/ekstensif,  tidak dapat memenuhi tingginya permintaan. “Agar persediaan masakan ayam taliwang tetap ada banyak pedagang yang menggunakan jenis ayam lain, yaitu ayam arab dan ayam petelur jantan (di Lombok orang menyebutnya “ayam pejantan”) ujarnya menambahkan.

Pak Sugeng begitu panggilan akrabnya menuturkan, pedagang ayam taliwang ini  ada beberapa kelas, mulai dari kelas restoran/rumah makan, warung makan berbangunan tetap dan warung tenda. Untuk kelas yang pertama pada umumnya masih mempertahankan mutu masakannya dengan tetap menggunakan ayam kampung asli. Jika kekurangan stok, kadang-kadang diselipkan ayam arab yang ukurannya dan tekstur dagingnya sangat mendekati ayam kampung.

Untuk warung makan dan warung tenda pada umumnya menggunakan ayam arab dan ayam pejantan untuk mengejar harga jual yang lebih murah. “Info langsung dari pemilik Rumah Makan Taliwang yang pertama di Mataram, Bapak Haji Murad almarhum (penulis bertemu langsung pada tahun 1980an), bahwa bahan masakan ayam taliwang yang bagus adalah ayam kampung yang masih muda dan yang dipelihara lepas. Almarhum tidak mau menerima/membeli ayam kampung yang dikandangkan. Berangkat dari hal tersebut perlu adanya penelitian tentang perbandingan kualitas daging ayam KUB yang dikandangkan dan yang dilepas,” katanya.

Dengan berkembangnya ayam KUB di Lombok, yang diintrodusir pada tahun 2012, diharapkan kualitas masakan ayam taliwang membaik. Dengan membaiknya kualitas masakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan wisata kuliner di Lombok.

Setelah melakukan pengamatan dan pendampingan terhadap peternak sejak tahun 2012, Prof. Sugeng melihat ada masalah serius ayam KUB di Lombok, yakni menonjolnya sifat kanibalisme yang bisa berakibat kematian.

Penyebab utama terjadinya kanibalisme adalah kurang tercukupinya panjang tempat pakan, tidak adanya sarang tempat bertelur dan ukuran kandang yang kurang luas. Dari berbagai pengalaman ini, Prof. Sugeng berbagi kiat untuk berhasil memelihara ayam KUB, di antaranya agar tidak muncul sifat mengeramnya, tiap hari telur harus diambil. Waktu pengambilan telur pagi dan sore. Posisi atau lokasi sarang harus sedemikian rupa sehingga mudah pengambilannya tanpa mengganggu ayam. Kandang ayam KUB perlu lebih luas daripada kandang ayam arab, atau ayam ras, karena ayam KUB adalah tetap ayam kampung dengan sifat-sifatnya yang relatif aktif. Untuk itu perlu adanya penelitian tentang ukuran kandang yang ideal untuk ayam KUB.

Sifat-sifat  yang tetap terbawa dari nenek moyangnya pada ayam KUB antara lain adalah foraging behaviour (berupa mengais tanah dan mematuk sesuatu yang didapat dari hasil kaisan tersebut), mandi debu, bertengger. Perilaku  kawin umumnya terjadi pada sore hari antara jam 15.00 hingga jam 17.00.

Diperlukan penelitian lebih lanjut tentang ayam KUB guna peningkatan produksi di Lombok dan di daerah lainnya di Indonesia untuk meningkatkan ketahanan dan kemandirian pangan.

Wisata di Lombok

Buat rekan-rekan jelajah yang berkesempatan untuk melancong ke Lombok, perlu diingat bahwa banyak sekali potensi wisata bahari di antaranya ada Pantai Senggigi, Pantai Nipah, ada juga Gili Trawangan, tersedia juga wisata ke obyek-obyek kerajinan mutiara seperti di Pusat Kerajinan Emas dan Mutiara Sekarbelas, Pusat Kerajinan Gerabah di Banyumulek, Lombok Barat.

Di sepanjang Pantai Senggigi hingga ke Nipah dapat disaksikan keindahan panorama pantai yang hampir menyerupai Bali. Selain mandi di pantai, wisatawan juga bisa berselancar atau menyebrang ke beberapa gili (pulau-pulau kecil) dan jangan lupa wisata kuliner yang tersebar di pinggir pantai dengan sajian ikan per untuk dicicipi. Selamat mengunjungi Lombok.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018