Sunday, 01 November 2026


BPTP NTB Optimis Meng-KUB-Kan NTB

27 Aug 2015, 09:28 WIBEditor : Kontributor

Tradisi  ayam taliwang telah memotivasi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB  untuk lebih menyebarluaskan ayam KUB. BPTP optimis, potensi ayam KUB untuk menggeser keberadaan ayam arab dan ayam pejantan sangat besar. Apalagi animo masyarakat terhadap ayam ini sangat tinggi, sampai-sampai kesulitan untuk memenuhi permintaan.

Pelaksana Harian Kepala BPTP NTB, Ir. M.Sofyan Souri yang diperkuat dengan keterangan dari Ir. Achmad Muzani, Penyuluh BPTP NTB dan Totok B Julianto, Penanggungjawab Visitor Plot BPTP NTB diketahui bahwa desiminasi ayam KUB yang mereka lakukan sangat berhasil. Buktinya permintaan bibit ayam KUB saat ini sangat tinggi. Sayangnya, pasokan dari perusahaan lisensor ayam KUB, PT. AKI tidak dapat memenuhi permintaan tersebut.

Dikutip dari laporan yang dibuat Dr. Tike Kartika, Peneliti dari Balitnak Bogor, pada tahun 2012 lalu ayam KUB ini dikenalkan di Kelompok Jaya Mandiri, Dusun Batu Beson, Desa  Jago, Kecamatan Praya, Lombok Tengah,  dengan anggota sebanyak 10 orang dan berdiri tahun 2008. Letak lokasi sebelah utara  dan 5 km dari Kota Praya. Salah satu kelompok program FEATI yang didampingi oleh BPTP NTB.

Sebelum ayam KUB, peternak telah terbiasa  memelihara ayam lokal dan pada tahun 2009 dikenalkan ayam arab yang didampingi oleh staf BPTP. Ada kelemahan pada ayam arab ini yakni warna kulit yang cenderung berwarna hitam membuat minat pembeli dan harga jualnya tidak begitu tinggi.

Pada tahun 2012 dikenalkan inovasi terkini Badan Litbang Pertanian berupa ayam KUB. Jumlah DOC jantan ayam KUB yang dikirimkan sebanyak 500 ekor dan melalui musyawarah dan kesepakatan bersama,  dibagikan kepada 10 orang anggota.

Untuk mengawal teknologi ayam KUB ini, peran BPTP NTB yang didukung oleh Balitnak sangat penting. Selama pemeliharaan dilakukan monitoring mingguan oleh staf BPTP untuk melihat populasi, konsumsi serta kesehatan ternak.

Perkembangan Terkini

Setelah melalui rentang waktu 3 tahun, keunggulan ayam KUB berupa  warna bulu beragam, seperti ayam kampung pada umumnya, dapat dipelihara sebagai ayam pedaging maupun petelur, rasa daging khas seperti ayam kampung pada umumnya kini semakin digandrungi masyarakat.

Untuk pedaging, umur 6 minggu sudah siap  dipotong,  begitu juga dengan umur pertama bertelur lebih awal dibandingkan ayam kampung biasa (20-22 minggu), mengeram di bawah 5%, lebih tahan terhadap cuaca, penyakit dan tidak mudah stres.

Saat ini, harga jual ayam KUB yang cukup tinggi yaitu sekitar Rp. 25.000/ekor hidup untuk umur 6 minggu, membuatnya sangat cocok diusahakan dalam skala rumah tangga untuk menambah pendapatan keluarga. Populasi yang dipelihara tidak harus berjumlah besar (skala 100-200 ekor) sehingga modal yang dibutuhkan untuk memulai usaha ini juga dapat dijangkau sebagian besar masyarakat.

Dengan skala  pemeliharaan yang tidak terlalu besar ini,  pemeliharaan ayam KUB dapat dilakukan secara intensif dengan dikandangkan dan tidak memerlukan lahan yang luas di sekitar rumah. Untuk kesinambungan pemasaran dalam usaha ayam KUB, perlu pengaturan dan penjadwalan waktu bibit ayam masuk dan waktu panen.

Pola yang teratur seperti ini sudah terbukti lebih disukai oleh pasar dari pada hanya sekali panen dalam jumlah banyak. Jadi, hal yang perlu diingat oleh peternak ayam KUB adalah jumlah  lahan yang tersedia, modal, ketersediaan  kandang dan jumlah permintaan pasar.

Saat ini di Kelompok Jaya Mandiri memilki anggota sebanyak 75 orang, jumlah populasi ayam KUB per orang berkisar antara 25-500 ekor ayam petelur dan pedaging, telah memiliki 200 mitra usaha yang tersebar di seluruh NTB dengan pelanggan yang sudah mencapai Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan NTT.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018