Sepeda ontel itu sudah usang warnanya, karat melekat di mana-mana, namun untungnya sepeda itu masih bisa berjalan. Di belakangnya menggunung ikat demi ikat rumput gajah, sampai-sampai sepeda itu tak sanggup berlari lagi. Sesekali waktu sepeda ‘Oemar Bakri’ (kata Iwan Fals) itu harus didorong karena begitu berat bebannya. Sepeda adalah bagian dari keramaian pasar rumput sore itu, ada juga yang menggunakan motor atau gerobak untuk membeli rumput.
Hilir mudik pembeli dan penjual rumput yang terjadi mulai pukul 14.00 sampai sore itu adalah potret keseharian di kawasan peternak sapi Peranakan Ongole (PO) di bagian Selatan Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Rumput di sini telah menjadi komoditas berharga, apalagi di saat musim kemarau seperti saat ini. Ada rumput gajah, ada jerami padi dan ada pula rumput jenis legum (Kacang-kacangan) yang diburu peternak. Peternak sapi rela bekerja apa saja untuk membeli rumput demi sapi PO peliharaanya.
Sapi PO di Kabupaten Kebumen telah menjadi bagian hidup masyarakat, di desa Tanggulangin dan Pandan Lor misalnya setiap rumah tangga dipastikan mempunyai sapi. Tradisi ini telah terjadi secara turun temurun. Kisahnya diawali sejak jaman kolonial Belanda. Kabupaten Kebumen saat itu dikenal sebagai wilayah yang sangat makmur dan memiliki jumlah penduduk yang padat. Perkembangan di bidang peternakan mengalami kemajuan pesat dan merata di semua wilayah Kabupaten Kebumen dan Karanganyar.
Sapi Ras Bengaal/Benggala yang didatangkan (impor) sebelum tahun 1900 dapat dikembangbiakkan dengan baik. Bahkan atas usaha serius dari Burnaby Lautier (mantan Residen Bagelen) setelah berkonsultasi dengan dokter hewan, sapi ras tersebut dapat dikembangbiakkan dan menghasilkan keturunan baru yang berkualitas dari perkawinan dengan sapi Ras Jawa yang dikenal dengan nama sapi Ras Benggala Jawa. Ras tersebut kemudian menjadi bibit yang populer di daerah Ketawang (Kutoarjo) dan Mirit (Kebumen) dalam kurun waktu hingga 12 tahun.
Jenis sapi ini terkenal akan kualitas dagingnya yang padat seperti sapi Jawa dan volumenya lebih banyak karena sapi tersebut besarnya seperti Benggala. Bahkan seorang pejabat pemerintah (Eropa asli) mencatat bahwa pada tahun 1906 sapi Benggala Jawa menjadi kebanggaan hingga tahun 1913 dan penyebarannya sampai ke Kabupaten Cilacap. Diinformasikan juga bahwa sapi Benggala Jawa, menjadi komoditas ekspor ke “British India” hingga tahun 1917.
Pada tahun 1906 didirikan percontohan peternakan sapi di daerah Mirit yang difokuskan pada pembesaran dan perbibitan yang sapinya disebut “MIRIT BANTENG”. Mulai tahun 1914 di wilayah itu dibudidayakan dua sapi ras unggulan Jawa yakni sapi dengan warna putih dan putih abu–abu. Selanjutnya, perkembangan sapi ras unggulan Jawa ini menyebar hingga ke pegunungan Karangbolong, sedangkan ke timur hingga ke daerah Yogyakarta (perbatasan Bagawanta), daerah tersebut saat ini dikenal dengan daerah “Urut Sewu” mulai dari Kecamatan Mirit hingga Kecamatan Ambal.
Sapi yang ada di Kabupaten Kebumen khususnya di daerah Mirit dan sekitarnya pada tahun 1935 adalah sapi putih/sapi Jawa/ Sapi PO dengan ciri–ciri warna putih, pada yang betina punuk tidak ada, gembel juga tidak ada, sementara untuk sapi pejantan ada yang berpunuk dan bergembel (bergelambir).
Pada tahun yang sama dimasukkan sapi Ongole dari India lewat pelabuhan Surabaya. Sapi ini adalah sapi jantan yang pemeliharaannya diserahkan kepada kepala desa/lurah/carik dan orang-orang yang penting di Kecamatan Mirit. Hasil keturunan dari perkawinan antara induk sapi Jawa dan pejantan sapi Ongole mempunyai sifat antara lain, cenderung tenang, berpunuk dan bergembel (bergelambir). Sapi hasil persilangan tersebut diduga berkembang sampai saat ini sehingga dikenal dengan nama sapi PO Kebumen.
Mendengar sejarah itu pantas saja tradisi dan kecintaan mereka dengan sapi sudah melekat, ibarat barang berharga, peternak tidak gampang untuk menjual sapi mereka. Umumnya peternak akan menjual sapi jika ada keperluan mendesak atau menjadi tabungan buat keluarga. Dari semua tradisi yang telah berkembang itu ada sebuah kebiasaan bagus. Peternak sapi PO dikasawasn ini tahu asal usul sapinya (ada silsilah), bahkan pengetahuan tentang keturunan sapi ini masih bisa diketahui hingga beberapa generasi sebelumnya. Kawasan ini sekarang telah berkembang menjadi sumber bibit sapi PO.
Kebiasaan ini di dalam sistem peternakan modern sangat diperlukan untuk mempertahankan kualitas keturunannya. Untuk melihat semua fenomena ini, Tim Jelajah Inovasi berhasil bertandang ke kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kabupaten kebumen ini bisa ditempuh sekitar 4-5 jam dari Semarang, ibu kota Propinsi Jawa Tengah.
Tim Jelajah Inovasi ditemani oleh seorang Peneliti dai Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah, Dr. Subiharta. Penjelajahan kali ini dimulai dengan kunjungan ke Asosiasi Kelompok Perbibitan Sapi PO Kebumen” yang disingkat “ ASPOKEB”. Alhamdulilah penjelajahan ini semakin menarik ketika Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen, Ir. Pudjirahaju meluangkan waktu secara khusus untuk menemani kunjungan ke berbagai lokasi.
Penjelajahan ini akhirnya memberikan sebuah kesimpulan. Dari 29 desa yang kini ditetapkan sebagai desa penghasil bibit PO berpeluang menjadi solusi untuk pengembangan sapi nasional dan bahkan bisa dipakai untuk mengatasi persoalan daging yang terjadi di tanah air. Ingat! Bibit yang unggul dan berkualitas akan lahir keturunan yang unggul dan berkualitas pula.
Wisata Kebumen
Bagi rekan-rekan jelajah yang mungkin belum pernah berkunjung ke Kebumen, maka ada baiknya menyempatkan waktu ke sana. Nuansa pantai laut selatan sangat pas menjadi objek wisatanya. Di sana ada Pantai, terletak di Desa Tambakmulyo, kecamatan Puring, kabupaten Kebumen.
Dikutif dari situs resmi Pemda Kabupaten Kebumen, untuk menuju ke lokasi pantai, banyak jalur alternatif yang dapat digunakan. Jika anda dari arah Gombong maka dibutuhkan waktu sekitar 45 menit, namun jika anda berasal dari arah kota Kebumen maka dibutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk menuju Petanahan dan setengah jam berikutnya menuju Pantai Suwuk. Bagi anda yang berasal dari arah timur yang kebetulan sedang melintasi jalan selatan-selatan atau jalan Daendels dari arah Yogyakarta dapat langsung lurus menuju ke Pantai Suwuk
Pemandangan pegunungan kapur yang elok memanjang dari utara sampai selatan, dan berbatasan langsung dengan pegunungan dan Pantai Karangbolong menambah indah pantai Suwuk.
Untuk lebih memanjakan mata anda, alangkah lebih baiknya anda menyewa seekor kuda untuk menyisir eloknya Pantai Suwuk ini. Usai lelah dan puas menikmati pantai, hal menarik lainnya adalah kita dapat menikmati suasana santai dengan beberapa sajian makanan khas yang ada di warung-warung sepanjang pantai. Anda dapat menikmati pecel dan lontong, es kelapa hijau, jangan lupa pula peyek ubur-uburnya dan berbagai jenis peyek lainnya.
Namun rekan-rekan jelajah, disarankan agar sebelum masuk ke Pantai Suwuk akan lebih baik jika mampir dulu di kawasan Agrowisata Tambak Mulyo. Di kawasan ini pengunjung bisa langsung panen berbagai tanaman hortikultura, sekaligus belajar langsung ke petaninya. Mukhlis
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto