Sunday, 01 November 2026


1,8 Triliun Uang Bunga Sukabumi

15 Sep 2015, 13:36 WIBEditor : Kontributor

Ditengah kecemasan melonjaknya nilai Dolar AS terhadap Rupiah, ada harapan besar yang datang dari Kabupaten Sukabumi.  Daerah ini ternyata satu dari beberapa sentra tanaman hias di Indonesia, sebagian dari produknya  seperti dracena telah masuk ke dalam pasar ekspor. Tidak kurang dari Rp.1,8 trilun rupiah uang yang dihasilkan dari tanaman hias daerah itu.

Berita gembira itu disampaikan langsung oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura (Puslithorti), Dr. Prama Yufdi ketika mewakili Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian pada acara Pengukuhan Kawasan  Agribisnis Florikultura Kabupaten Sukabumi, di Desa Langensari, Kecamatan Sukaraja, pekan lalu.

Dengan nada penuh semangat, Prama menjelaskan, “saat ini PDB tanaman hias mencapai Rp. 9 trilyun dengan pendapatan ekspor sebesar US $ 20 juta.  Lebih dari 20% dari total PDB dan nilai ekspor florikultura tersebut disumbang dari para pelaku usaha florikultura di Kabupaten Sukabum. Daerah ini diketahui sebagai daerah penghasil produk florikultura yang terbesar di Indonesia”.

Selain Sukabumi, kawasan bunga krisan ini sudah terbentuk juga di Tomohon, Sulawesi Utara, Tabanan Bali, Solok Sumatera Barat, dan Wonosobo Jawa Tengah.

Permintaan pasar domestik akan produk florikultura dalam periode lima tahun  terakhir menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.  Penyediaan produk florikultura dari dalam negeri diharapkan lebih kompetetitif mengingat biaya transportasi lebih rendah dibanding produk impor. 

“Oleh karena itu pada saat ini kita perlu memperkuat basis produksi dalam rangka menstabilkan ketersediaan produk tanaman hias di pasar dalam negeri.  Dengan menstabilkan produksi, kita dapat melindungi pasar dalam negeri dari gempuran importasi produk florikultura dari luar negeri” katanya menambahkan.

Dia mengakui pembentukan kawasana ini bukan seperti, ‘membalik telapak tangan’, rintisannya telah dimulai lebih dari tiga tahun lalu. Hasilnya, petani dapat merasakan dalam bentuk peningkatan produktivitas dan mutu hasil serta pendapatan keluarga. 

 Di tengah persaingan yang semakin ketat pada era global saat ini,   petani perlu meningkatkan daya saing. Berdasarkan pengalaman di negara maju, penguasaan inovasi merupakan kunci memenangkan persaingan global. “saya berharap kiranya inovasi teknologi yang telah diintroduksikan dapat diadopsi dan dimanfaatkan sebagai modal dasar dalam pengembangan industri florikultura di dalam negeri, ujar Prama.

Gelar Teknologi 

Di dalam program pengembangan kawasan florikultura ini telah dilaksanakan gelar teknologi secara rutin yang merupakan display teknologi budidaya dengan menggunakan teknologi inovatif mutakhir.  Teknologi tersebut dapat dikembangkan secara luas kepada petani dengan melibatkan Ditjen Hortikultura dan Dinas Pertanian di Kabupaten Sukabumi. 

Para petani tanaman hias yang dikenal sangat progresif tentu akan cepat mengadopsi teknologi yang diperagakan dalam  acara temu lapangan  tersebut.  Dengan makin kompleksnya permasalahan yang dihadapi, maka kebutuhan teknologi akan meningkat pada masa mendatang.

Untuk mengawal kawasan ini, Balitbangtan telah menyiapkan berbagai inovasi teknologi diantaranya, varietas unggul, teknologi budidaya dan teknologi Pengendalian OPT, serta pasca panen tanaman krisan. Uq/Lis.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018