Masyarakat tentunya masih ingat dengan lirik lagu berjudul Kemarau ini, “Tiada ranting yang rimbun. Daun pun berguguran. Mata air pun kering. Tiada titik embun turun. Saat itu, kemarau yang datang. Hati gersang dan berdebu. Curah hujan tiada turun. Membasahi jiwa ini”.
Lirik lagu Prambors Band yang pernah kondang di tahun 1970-an ternyata sangat pas dengan keadaan kita sekarang. Hampir lebih dari 5 bulan sebagian wilayah Indonesia dilanda kekeringan. Potret kemarau ini bisa kita lihat di sepanjang rel kereta api yang membentang dari barat ke timur Pulau Jawa. Pemandangan ini disaksikan pada pekan lalu ketika tim Jelajah Inovasi menjelajah ke Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah untuk meliput Panen Padi di Laboratorium Lapang Inovasi Pertanian (LLIP) di Desa Pegadekan, Kecamatan Kemangkon.
Di sepanjang perjalanan selama 5 jam dari Jakarta ke Purbalingga, tampak lahan-lahan sawah yang meringis kekeringan dan melekang, serta dedaunan rapuh dan menggosong. Ini terjadi untuk daerah-daerah yang tidak kebagian aliran air irigasi. Namun di beberapa tempat ada juga pemandangan yang kontradiktif. Bagi yang masih mendapatkan aliran air, ada yang menanam palawija tapi ada pula yang berani menanam padi.
Tidak kurang dari 15 km dari pusat kota Kabupaten Purbalingga terdapat sebuah kecamatan bernama Kemangkon. Kecamatan ini ternyata berada pada posisi paling bawah dari aliran air irigasinya. Berkat air ini petani di desa Pegadekan dan Desa Karang Tengah, Kecamatan Kemangkon justru sedang melakukan panen padi dengan hasil yang sangat memuaskan, rata-rata 9 ton per hektar. Lantas apakah setiap musim kering di kecamatan ini bisa panen padi? Jawabnya belum tentu. Lalu apa rahasianya?
Dua desa tersebut sama seperti desa lainnya, cara-cara konvensional masih akrab di budaya bertanam padi mereka. Akibatnya produktivitas masih berkisar antara 5-6 ton per hektar. Namun sekitar 4 bulan lalu, dua desa ini ditetapkan menjadi Laboratorium Lapang Inovasi Pertanian (LLIP). Selama masa pembentukan itu semua pihak yang terkait bahu-membahu berpikir dan berkarya agar 100 hektar yang ditetapkan sebagai LLIP ini berhasil memproduksi padi secara optimal.
Alhamdulillah, pekan lalu Kecamatan Kemangkon khususnya telah mencatat sejarah sebagai daerah yang berhasil panen padi di tengah musim kemarau ini. Keberhasilan ini bukan hanya prestasi satu institusi saja, tetapi semua pihak. Paling tidak ada beberapa institusi yang menciptakan keberhasilan tersebut di antaranya BB Padi Sukamandi, BPTP Jawa Tengah, Dinas Pertanian Purbalingga, Penyuluhan Pertanian dan TNI. Kehadiran TNI ini sangat mendukung dalam kelancaran pengadaan sarana prasarana pertanian seperti pengadaan air irigasi dan menggerakkan masyarakat.
Sekilas LLIP
Selama ini masyarakat hanya mengetahui metode penyampaian inovasi teknologi itu melalui Demplot atau Demfarm yang luasnya tidak lebih dari 1 hektar, maka sekarang model sosialisasi inovasi itu lebih luas lagi di dalam bentuk Laboratorium Lapang Inovasi Pertanian (LLIP). Untuk tahun 2015 ini ada 11 LLIP yang dibangun di seluruh Indonesia dengan berbagai komoditi pertanian sesuai dengan keunggulan masing-masing daerah.
LLIP Purbalingga ini merupakan suatu kawasan usaha tani padi seluas 100 ha sebagai media percepatan penerapan inovasi, promosi/show window, pelatihan bagi pelaku dan kelembagaan, dan advokasi teknologi pertanian bagi para pemangku kebijakan.
Laboratorium ini juga berfungsi memfasilitasi proses penerapan inovasi pertanian spesifik lokasi berbasis padi di tingkat lapangan (petani) lingkup kabupaten, secara partisipatif, bersama-sama dengan pengguna dan stakeholders di daerah.
Di dalam laboratorium lapang ini diprogramkan pengembangan padi dengan pendekatan model PTT Padi sawah seluas 100 ha di dua desa yaitu di Desa Karang Tengah seluas 65 ha dan di Desa Pegandegan seluas 35 ha dari masing–masing desa terdiri dari 4 kegiatan yaitu perbenihan, mekanisasi, gelar teknologi VUB dengan varietas Inpari 23, Inpari 24, Inpari 31, Logawa, dan Inpari 32, dan kegiatan gelar teknologi PTT.
Pada pertengahan bulan Mei lalu telah dilaksanakan kegiatan pengolahan tanah dan tanam secara serempak sesuai panduan laboratorium lapang. Berkat kawalan inovasi yang ketat dari Balitbangtan, didukung oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga dan TNI, pada tanggal 15 September 2015 dilakukan panen.
Panen padi di LLIP Purbalingga ini secara resmi dilakukan oleh Menteri Pertanian, yang diwakili oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Ir. Pending Dadih Permana, M.Ec, Dev, didampingi oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan Kabupaten Purbalingga, Ir. Susilo Utomo, M.Si, Komandan Korem 071 Wijaya Kusuma Kolonel Inf. Dwi Wahyu Winoto, Kepala BB Padi Sukamandi, Dr. Ali Jamil, dan Kepala BPTP Jawa Tengah, Dr. Moh Ismail Wahab.
Wisata
Kabupaten Purbalingga ternyata tidak hanya kaya akan sumberdaya pertaniannya, di daerah ini terdapat juga obyek wisata sejarah berupa rumah tempat kelahiran Jenderal Besar Soedirman.
Pahlawan Revolusi Nasional ini lahir di Purbalingga, Jawa Tengah pada tanggal 24 Januari 1916 di Desa Bantar Barang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Dari kota Kabupaten Purbalingga diperlukan waktu sekitar 45 menit untuk sampai ke obyek wisata ini. Lis
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto