Menteri Pertanian sangat optimis bahwa potensi rawa lebak yang ada di Indonesia ini adalah pangan masa depan Indonesia. Untuk itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah menyiapkan paket teknologi yang dirancang khusus untuk mengoptimalkan potensi rawa ini.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Muhammad Syakir, menjelaskan Luas lahan lebak nasional sekitar 13-14 juta ha, potensi untuk pertanian 8,88 juta ha, direklamasi 0,96 juta ha, serta yang diusahan 0,564 juta ha. Untuk produktivitas ada yang mencapai hingga 7,2 ton Gabah Kering Giling (GKG) per ha, seperti di ubinan Polder Alabio di Kab. Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan (Kalsel).
Dengan adanya kemarau panjang ini, bahkan tergolong El Nino kuat, ternyata lahan lebak mampu berkontribusi sangat besar. Sehingga mampu menghasilkan produksi beras nasional dari lahan rawa lebak sekitar 6 juta ton.
Ada empat provinsi di Indonesia yang lahan rawanya paling luas. Pertama adalah Sumatera selatan yang luas lahan rawanya 368,7 ribu ha, lalu selanjutnya Riau 131,8 ribu ha, Lampung 137,9 ribu ha, dan Kalimantan Selatan 181,6 ribu ha.
Dengan adanya El Nino kuat di tahun ini, ada kenaikan areal tanam sebesar 42%. "Dengan adanya penambahan luas areal tanam yang sangat tinggi, dapat mengcover padi di lahan irigasi yang terkena puso. Jadi adanya El Nino ini tentu saja dapat memaksimalkan tanam padi di lahan rawa," Syakir menambahkan.
Polder Alabio
Polder Alabio di Kab. Hulu Sungai Utara merupakan lahan rawa lebak terbaik (subur) yang luasnya mencapai hingga 6 ribu ha. Pada saat kondisi normal hanya dapat ditanami sekitar 2.600 ha, sedangkan di musim kemarau panjang naik 33% menjadi 4.023 ha, sehingga ada pertambahan produksi padi sekitar 8.936,44 ton GKR per musimnya.
Polder Alabio ini yang sudah dikembangkan sejak zaman Belanda ini mempunyai tata air makro yang didukung dengan pintu air (masuk dan keluar) dengan pompa yang berkapasitas tinggi, tetapi sayangnya untuk saat ini tidak dapat berfungsi secara maksimal, sehingga hanya mampu setengahnya saja mengembangkan dari total keseluruhan lahan.
Dari hasil penelitian Balitbang Pertanian, Polder Alabio mempunyai prospek yang besar dalam memberikan tambahan produksi padi mencapai 25 ribu ton GKG per musimnya, 2.100 ton jagung pipilan, dan aneka jenis sayuran daun serta dapat berpeluang juga menjadi sentra produksi telur unggas (itik alabio dan ayam buras). Dapat dikatakan bahwa hampir seluruh kawasan Polder Alabio sangat potensial ditanami padi dan berbagai jenis sayuran palawija yang diintegrasikan dengan berbagai ternak unggas dan ikan.
Untuk saat ini, lahan sawah siap panen di Polder Alabio sekitar 540 ha dengan perkiraan panen bertahap dari tanggal 29 September hingga 13 Oktober 2015. Lahan sawah ini meliputi Desa Hambuku Hulu 35 ha, Hambuku Raya 100 ha, dan Hambuku Pasar 90 ha.
Apabila dikalkulasikan lahan yang efektif ditanami saat ini saja hanya sekitar 3 ribu ha dengan Indeks Pertanaman (IP) 1,2 dan produktivitas 2 sampai 3 ton GKG per hektarnya. Padahal sebenarnya apabila dikelola dengan baik mampu menghasilkan IP 2 sampai 2,5 kali dan produktivitasnya mencapai 6-7 ton GKG per ha.
Teknologi yang disarankan oleh Badan Litbang Pertanian di Polder Alabio ini adalah penggunaan varietas padi Inpari, Inpara, Ciherang, dan Mekongga. Tidak hanya itu manajemen pengairan (pengolahan air), pemupukan berimbang, dan pengendalian hama tikus menjadi perhatian Badan Litbang Pertanian.
Salah satu model pengelolaan terpadu pada kawasan Polder Alabio adalah ‘model pertanian pangan terpadu lahan rawa lebak berbasis polder mini’. Maksudnya kawasan ini dipilah menjadi beberapa kelas mini baik terkait dengan pengelolaan lahan dan air ataupun dalam pengelolaan sistem usaha tani. Yang paling utama adalah penuntasan masalah sistem drainase makro yang membutuhkan koordinasi dengan KemenPU, Kementan, dan Pemerintah Daerah. Cla/Lis
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto