Saturday, 31 October 2026


Merajut Ulang Kegemilangan Bawang Putih Tawangmangu

07 Oct 2015, 10:49 WIBEditor : Kontributor

Di era 1980-1990, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar tercatat sebagai sentra produksi bawang putih. Dalam satu dekade ini, bawang telah menjadi bagian hidup masyarakat dan inilah puncak kegemilangan. Namun sejak beberapa tahun belakangan, ketenaran itu mulai pudar.

Serangan hama dan penyakit datang bertubi-tubi, lingkungannya juga sudah tidak ramah, serta iklim juga  kurang bersahabat menjadi penyebab runtuhnya kerajaan bawang putih di Tawangmangu. Kegelisaan petani bawang putih terus mendera mereka, kendati demikian tradisi budidaya bawang putih tidak lantas mati. Dengan semangat menghormati jejak karya para leluhur, petani bawang putih masih tetap bertahan ditengah hambatan itu. Produksi optimal yang pernah dicapai pada era keemasan itu sepertinya hanya impian.

Ditengah kegelisaan itu, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah mencoba hadir sebagai ‘Dewa Penyelamat’. Berbekal segudang inovasi teknologi yang dibungkus dalam Paket Teknologi Ramah Lingkungan telah dua tahun belakangan ini bersama petani merajut ulang kegemilangan bawang putih Tawangmangu.

Alhamdulillah pakan lalu Tim Jelajah Inovasi Balitbangtan diberi kesempatan untuk menelusuri sistem budidaya petani bawang putih Tawangmangu, sekaligus melihat lebih dekat kiprah BPTP mengawal teknologi ramah lingkungan yang diterapkan dikawasan ini. Tim jelajah inovasi kali ini dikawal oleh Ir. Tri Reni Prasturti, Penyuluh BPTP Jateng dan Ir. Samijan, M.Sc, Peneliti BPTP Jateng.

Dari situs resmi miliki Kabupaten Karanganyar diketahui bahwa Kabupaten Karanganyar terletak di lereng Gunung Lawu di sisi barat, atau di sebelah timur Kota Solo atau Surakarta. Lokasinya yang berdekatan dengan kerajaan Mataram Islam di Surakarta dan Jogja, dan juga dipercaya sebagai tempat tinggal Raja Majapahit terakhir, Brawijaya V.

Tanah Kabupaten Karanganyar juga sangat subur, yang digunakan untuk pertanian, perkebunan, peternakan, dan tentu saja pariwisata agro. Dengan kondisi alamnya yang sangat beragam, Kabupaten Karananyar sangat cocok untuk wisata alam minat khusus seperti outbound, arung jeram, tracking, hiking, terbang layang, dan banyak lainnya.

Sedangkan Kecamatan Tawangmangu, sebagian besar wilayahnya adalah dataran tinggi, sehingga sangat cocok sebagai sentara hortikultura seperti  bawang putih. Dengan keindahan pemandangan alamnya, Kabupaten Karanganyar memiliki potensi pengembangan pariwisata yang sangat tinggi, terutama di bidang wisata alam dan sejenisnya.

Kerusakan Lingkungan

Penurunan produksi bawang putih yang terjadi di Tawangangu lebih dipicu oleh kebiasaan petani yang telah berkembang sejak lama dengan menggunakan sarana produksi kimiawi, seperti pupuk anorganik dan pestisida.

Beberapa kondisi seperti kesuburan tanah yang relatif rendah pada suatu lahan maupun adanya serangan hama dan penyakit terhadap tanaman sangat erat kaitannya dengan teknik budidaya yang dilakukan petani. Dalam setiap tahapan produksi yang dilakukan petani umumnya menggunakan input kimiawi dengan dosis yang tinggi dan jangka waktu yang lama, menyebabkan terjadinya akumulasi residu bahan kimia berbahaya di dalam tanah dan berpotensi mencemari lingkungan.

Fenonema lain yang timbul sebagai akibat langsung dari penggunaan bahan kimia ini adalah menurunnya kualitas fisika dan kimia tanah yang berdampak pada berkurangnya keragaman hayati dan musuh alami organisme pengganggu tanaman serta munculnya hama-hama yang resisten.

Semua ini adalah tantangan besar bagi seluruh pihak yang terkait dengan upaya kebangkitan kembali bawang putih Tawangmangu dan teknologi ramah lingkungan adalah satu satu cara efektif untuk mencapai kebangkitan itu. Lis.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018