Inovasi teknologi pertanian kini telah membawa harapan baru petani bawang putih di kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Dari paket teknologi ramah lingkungan yang dibawah oleh BPTP Jawa Tengah, produktivitas varietas Tawangmangu Baru mencapai 22,15 ton per hektar dan varietas Lembu Hijau sebesar 10,21 ton.
Di balik keberhasilan ini ada dua sosok orang yang pas untuk diajak bicara untuk menelisik lebih jauh teknologi ramah lingkungan itu, mereka adalah Ir. Tri Reni Prastuti, Penyuluh senior di BPTP Jateng dan Ir. Samijan, M.Sc, Peneliti di BPTP Jateng. Tanpa rasa sungkan, dua pendamping petani bawang putih di Tawangmangu ini bercerita soal teknologinya. Berikut teknologi ringkasnya.
Dalam budidaya bawang putih, bibit merupakan komponen teknologi yang memegang peranan sangat penting, disamping karena memerlukan biaya yang cukup tinggi, juga sangat menentukan keberhasilan produksi maupun pencapaian produktivitasnya.
Untuk melindungi bibit dari kemungkinan infeksi hama dan penyakit serta guna membantu menyeragamkan daya tumbuh bibit, maka sebaiknya diberi perlakuan benih sebelum ditanam dan dapat menggunakan Agensia Hayati PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria)
Perlu dilakukan pengolahan lahan, pH tanah 5,5 – 7,0 dan apabila kurang perlu dilakukan aplikasi dengan kapur pertanian (dolomit) (0,5-1,0 ton/ha), diaplikasikan juga PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) dengan dosis 10cc/liter.
Cara tanam dan jarak tanam bawang putih memegang peranan yang cukup penting dalam menentukan tingkat produksi maupun kualitas umbi yang akan dihasilkan. Penanaman umbi bawang putih pada jarak tanam rapat akan cenderung menghasilkan umbi yang ukurannya relatif kecil, sedangkan pada jarak tanam yang lebih renggang cenderung akan dihasilkan umbi bawang putih yang berukuran lebih besar.
Pemupukan bawang putih diberikan dalam 2 jenis, yaitu pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik sebaiknya yang sudah matang atau yang sudah dikomposkan. Sedangkan pemupukan dengan menggunakan pupuk anorganik atau kimia N, P, K, S direkomendasikan menggunakan takaran 200 kg N/ha, 180 kg P2O5/ha, 60 kg K2O/ha dan 142 kg S/ha.
Untuk melengkapi kebutuhan nutrisi pada tanaman bawang putih yang cukup tinggi. selain pemupukan menggunakan pupuk anorganik (kimia N,P,K,S) dan pupuk organik padat, maka dianjurkan menggunakan pupuk pelengkap yaitu pupuk organik cair (POC) dan atau pupuk pelengkap cair (PPC).
Aplikasi pupuk organik cair dan atau pupuk pelengkap dapat diberikan dengan takaran 10 tutup botol setiap 14 liter/ tangki, dan disemprotkan di tanaman maupun di atas permukaan bedengan yang tidak tertutup mulsa plastik. Aplikasi POC/ PPC sebaiknya dilakukan pada umur 10, 17, 24, 31, 38 hari setelah tanam. Adapun beberapa alternatif POC/PPC yang bisa dipergunakan sebaiknya yang tersedia dilokasi setempat .
Pengelolaan OPT
OPT utama yang sering menyerang tanaman bawang putih, antara lain Thrips tabaci yang dapat menimbulkan kerusakan sebesar 80%, Spodoptera exigua, Fusarium sp., Alternaria porii dan Onion Yellow Dwarf Virus (OYDV). Pengendalian pertama dilakukan dengan sistem pengendalian hama terpadu (PHT), yaitu dengan menggunakan benih sehat, musuh alami, pengendalian secara kultur teknis, penggunaan perangkap, sanitasi, dan penggunaan pestisida berdasarkan ambang pengendalian.
Pengendalian dengan pestisida sintetik harus dilakukan dengan benar, tepat dalam hal pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval maupun waktu aplikasinya.
Penggunaan agensia hayati ini bertujuan untuk meminimalisir penggunaan bahan kimia. Agensia hayati yang digunakan dalam budidaya tanaman bawang putih ramah lingkungan ini antara lain adalah Trichoderma spp., Beauveria bassiana, dan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria).
Untuk lebih mendorong pertumbuhan tanaman, perlu diberikan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). PGPR merupakan bakteri perakaran pemacu pertumbuhan tanaman yang berkoloni di zona perakaran (rhizosfer) baik di permukaan perakaran maupun di dalam jaringan korteks (endofit).
PGPR yang telah banyak dikembangkan sebagai agens hayati antara lain Actinoplanes, Alcaligenes, agrobacterium, Amorphosporangium, Arthobacter, Bacillus, Cellulomonas, Enterobacter, Erwinia, Flavobacterium, Hafnia, Micromonospora, Pseudomonas, Rhizobium dan Bradyrhizobium, Serratia, Streptomyces, dan Xanthomonas.
Kegiatan pasca panen yang paling penting untuk bawang putih untuk tujuan konsumsi maupun benih adalah pengeringan umbi. Apabila umbi akan digunakan untuk tujuan bibit maka sebaiknya dilakukan fumigasi menggunakan tablet 55% Phostoxin guna membantu memperpanjang umur umbi bawang putih sampai sekitar 8 bulan. Lis
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto