Saturday, 31 October 2026


Menumbuhkan Bunga Dieng yang Hilang

28 Oct 2015, 10:50 WIBEditor : Kontributor

‘Tempo Doeloe’ di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo pernah dikembangkan tanaman bukan asli Indonesia. Bunga itu adalah Tulip, bunga yang menjadi maskotnya Negara Belanda. Ini menunjukkan bahwa iklim dan lingkungan pertaniannya sangat sesuai dengan tanaman itu, padahal konon tanaman itu adalah jenis tanaman yang tidak gampang ditumbuhkan.

Begitu bunga tulip, begitu juga bunga yang lain di wonosobo sempat menjadi tempat tumbuhnya berbagai jenis tanaman hias, bahkan jenis anggrek yang ada didataran tinggi Dieng ini sangat khas dan dikenal banyak orang. Namun masa kejayaan bunga itu telah lewat, lebih dari dua dekade, tanaman hias hanya tinggal kenangan.

“Sejarah dan kejayaan selalu berulang”  begitu kata petuah. Keindahan beragam tanaman hias di Dieng tidak lama lagi akan kembali ke blantika bunga Nusantara. Sejak 3 tahun ini, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) serius memberikan dukungan untuk mencapai kejayaan kembali tanaman hias Dieng.

Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) kini getol melakukan pengawalan pengembangan Florikultur di Wonosobo. Sejak tahun 2011, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Balai Penelitian Tanaman Hias dan BPTP Jawa Tengah telah bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Wonosobo membangun kawasan agribisnis florikultura berbasis inovasi.

Berdasarkan potensi yang ada dan dukungan Pemerintah Daerah, tidak lama lagi kejayaan bunga Wonosobo akan dicapai.

Gelar Teknologi

Satu dari sekian banyak kegiatan yang dilakukan dalam mempercepat pembentukan kawasam florikultur itu adalah gelar teknologi. Kegiatan ini merupakan kegiatan dukungan terhadap Pelaksanaan Program Pengembangan Kawasan Agribisnis Florikultura (PKAF) yang hingga saat ini telah melalui serangkaian fase pemantapan dan pengembangan. Tahun 2015 merupakan tahun ketiga pelaksanaan program dukungan PKAF yang masuk dalam fase pengembangan.

Gelar teknologi dan temu stakeholder awalnya dirancang sebagai program diseminasi teknologi inovasi Balitbang Pertanian, tetapi selanjutnya diangkat menjadi agenda Pemerintah Daerah Wonosobo sebagai bagian dari kerangka misi pengembangan ‘Green City’.

Konsep pengembangan kota ‘Green City’ memprioritaskan komoditas hortikultura dalam pengembangan potensi ekonomi daerah yang berbasis pertanian dan pariwisata. 

Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan secara sinergis bersama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Wonosobo dan instansi terkait lainnya dalam kurun waktu 2011-2015. Setiap instansi yang terlibat mengalokasikan sumberdaya sesuai tupoksi masing-masing.

Secara resmi Gelar Teknologi dan Temu Stakeholder ini dibuka oleh Bupati Wonosobo, H.A. Kholiq Arif didampingi oleh Kepala Balithi yang mewakili Kepala Balitbangtan di Pendopo Bupati Wonosobo, pekan lalu.

Tempat Dewa

Dieng berasal dari bahasa sansekerta yaitu “di” yang berarti tempat yang tinggi dan “hyang” yang berarti khayangan. Maka “Dieng” bisa berarti daerah pegunungan tempat dimana para dewa dan dewi bersemayam. Terletak di atas ketinggian 2.093 dpl, mempunyai udara yang sejuk dengan suhu antara 10 – 15 dearajat C.

Dieng juga dapat di artikan dalam bahasa jawa “Adi tur Aeng” yang artinya indah dan unik, dimana Dieng mempunyai kelebihan dan perbedaan tersendiri dibanding kabupaten/kota lain. Candi-candi Dieng merupakan candi hindu tertua di Indonesia.

Di dalam kawasan Dieng ini bisa juga ditemukan Kawah Sikidang Crater. Kawah vulkanis aktif di Dieng ini mengandung sulfur. Tempatnya berpindah-pindah melompat-lompat seperti kijang sehingga disebut Kawah Sikidang.

Tidak  jauh dari kawah Sikidang, ada juga telaga warna. Telaga yang sangat indah yang memantulkan aneka warna. Di sampingnya terdapat telaga lain yang di sebut Telaga Pengilon yang berkilau seperti cermin.

Diantara telaga terdapat Gua Semar memiliki panjang 4 meter dengan dinding batu dan bisa dipergunakan untuk meditasi, gua lain yaitu Gua Sumur dan Gua Jaran. Di dalam Gua Sumur ini terdapat sumber air suci yang disebut “Tirta Perwitasari (Jawa)”. Di lokasi inilah umat Hindu sering mengadakan upacara ritual yang disebut Mupse/Mabakti atau Medhak Tirta. Lis

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018