Jenis tanah, tipe lahan dan iklim yang bagus adalah sebuah anugrah buat masyarakat Wonosobo. Berbagai jenis florikultur bisa tumbuh dengan baik di darah bekas kekuasaan wangsa Sanjaya ini. Bahkan, dengan ilklim keringnya, bunga mawar diyakini akan berkembang jauh lebih baik dibandingkan daerah sentra bunga lainnya.
Prof. Dr. Budi Marwoto, pakar tanaman hias Balithi disela acara Gelar Teknologi dan Temu Stakeholder 2015 di Wonosobo, Jawa Tengah pekan lalu berbagi pengetahuan tentang pengembangan florikultur di Wonosobo.
Dia menjelaskan, wonosobo ini memiliki jenis tanah andosol yang sangat subur dan memiliki topografi yang beragam mulai dataran tinggi, menengah dan rendah. Variasi tipe lahan ini memberikan kesempatan dan pilihan komoditi tanaman hias.
Dia mencontohkan, untuk lahan dataran jenis tanaman hias yang pas adalah tanaman hias sub tropis yang didominasi dengan beragam jenis bunga. Sedangkan untuk lahan pada dataran menengah dan rendah petani bisa menanam tanaman berdaun indah seperti Philondendron dan kuskus. Peluang ini tentunya akan menekan terjadinya kompetisi diantara petani. “Petani bisa memiih jenis yang cocok dengan lahannya”, kata Budi.
Budidaya tanaman hias bukan hal baru di Wonosobo, tetapi dilakukan oleh Belanda. Masuknya bangsa asing ini justru memicu terjadinya introduksi beberapa jenis tanaman dari Eropa. Tradisi ini juga berkembang di masyarakat Wonosobo, sehingga tidak heran jika banyak ditemukan petani yang mampu menanam mawar, anyelir dan bahkan tulip sekitar tahun 1960-an.
Saat itu tanaman inrtoduksi itu bisa tumbuh dengan baik. Hal ini disebabkan oleh kondisi iklimnya yang masih sesuai. Tetapi saat ini, adanya perubahan iklim menyebabkan beberapa jenis tanaman itu tidak bisa lagi dibudidayakan dengan baik. Budi memberikan contoh, untuk tanaman tulip sepertinya sangat sulit untuk dikembangkan, karena tanaman ini butuh suhu 16 derajat Celsius konstan (selama 3 bulan) sepanjang umur tanaman. Ini tidak mungkin lagi untuk penanaman langsung di lahan terbuka, kecuali dilakukan di dalam rumah kaca dengan pengaturan suhu yang sesuai.
Keunggulan Wonosobo
Berbeda dengan sentra tanaman hias lainnya, dataran tinggi Dieng ini termasuk pada iklim kering. Kondisi iklim yang demikian sangat pas untuk penanaman bunga mawar. ‘Saya sangat yakin, bunga mawar yang diproduksi di Dieng ini akan lebih baik dibandingkan dengan daerah lain”.
Disamping jenis iklim, tanah di Wonosobo ini lebih didominasi oleh jenis tanah andosol. Jenis tanah ini sangat subur dan akan sangat baik untuk berbagai tanaman hias. Untuk mengoptimalkan keunggulan ini, menurutnya, harus didukung dengan teknologi yang pas.
Balithi saat ini telah menyiapkan beragam teknologi mulai varietas unggul dan teknologi budidaya yang ramah lingkungan. Namun tidak semua teknologi ini bisa dipakai, tetapi harus disesuaikan misalnya untuk penetuan varietas harus cocok untuk pasar. Petani harus diajarakan budidaya yang efisien pupuk dari penggunaan pupuk an organik ke organik, dari pestisida sintetik disubstitusi ke pestisiada hayati, serta memanfaatkan musuh alami.
Soal pasar, di jawa Tengah ada Pasar Jetis di kecamatan Ambarawa (Bandungan). Pasar ini menguasai wilayah tengah yang bisa berkembang ke Solo dan Salatiga. Perluasan pasarnya bisa mencapai Jawa Timur, Bali dan Jakarta. “60 Persen produk Florikutura ada di Jakarta. Distribusi yang luas dan beragam membuat petani bergairah. Tugas kita membuat jaringan yang lebih luas lagi” kata Budi menambahkan.
Sedangkan untuk pasar, Jepang adalah pasar yang empuk, “Kita ini Negara yang berada di Selatan belahan Khatulistiwa, sedangkan Negara-negara kaya itu ada di Utara Katulistiwa. Di Utara Negara yang paling dekat adalah Jepang, Hongkong, China dan Taiwan, namun di sisi lain mereka itu adalah pesaing kita, untuk itu strateginya kita harus komplemen dengan mereka, misalnya Leather Leaf (Jenis Pakis-pakisan/daun potong) yang tidak mereka miliki bisa kita pasok. Peluang ekspor juga masih terbuka untuk krisan.
Kunci Sukses
Cepat lambatnya pengembangan kawasan florikultur, menurut Budi sangat terkait dengan pembangunan daerah. Strategi yang digunakan untuk penumbuhan kawasan ini adalah dengan menyesuaikan tema pembangunan daerah, seperti di Wonosobo ini ada program Green City yang melandaskan pertumbuhan ekonomi yang hijau (Green Economy).
“Di Tomohon kami masuk dengan tematik pariwisata, ketika kita bicara pariwisata maka florikultur dekat dengan aspek itu. Di Agam kami akan masuk dengan tematik agrowisata memanfaatkan Danau Maninjau dalam konteks menumbuhkan agrowisata dalam rangka pendapatan daerah. Saat ini, sudah terbentuk kawasan florikultur ini di 22 provinsi di Indonesia”. Lis
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto