Setelah dua periode Kholiq Arif menjabat sebagai Bupati Wonosobo akhirnya dia berkesimpulan bahwa masa depan Wonosobo ini ada pada bunga (Florikultur). Kondisi alam dan iklim sangat memungkinkan untuk mengembangkan tanaman hias jauh lebih besar lagi. Dia sangat yakin, bunga akan menjadi penghasil rupiah daerahnya.
Ketika memberikan arahan pada saat membuka Gelar Teknologi dan Temu Stakeholder Tanaman Hias 2015 di Pendopo Bupati Wonosobo, Mantan Wartawan Jawa Post ini sengaja bercanda tapi serius, “Kalau saya jadi kepala dinas pertanian, maka tanaman hiaslah yang akan saya unggulkan. Karena kalau untuk tanaman pangan sudah berjalan dengan baik” katanya.
Dia menilai kekayaan Geopark (Kawasan Pengunungan), peninggalan sejarah sangat pas jika dipadukan dengan tanaman hias. Tiga komponen ini bisa menjadi kekuatan ekonomi yang sangat dahsyat. Banyak Negara maju yang sudah memadukan tiga komponen tersebut, hasilnya jutaan dolar bisa mereka hasilkan sebagai pendapatan Negara”.
Kholiq Bupati yang sangat gemar menulis, kini telah berhasil menerbitkan beberapa buku yang terkait dengan kebudayaan yang ada di dataran tinggi Dieng. Salah satu buku tersebut adalah “Mata Air Peradaban: Dua Millennium Wonosobo”. Di dalam buku tersebut dikupas tuntas periodisasi kerajaan dan perkembangan peradaban di Wonosobo.
Di dalam buku itu terlihat bahwa budaya pertanian telah berkembang pesat di dataran tinggi Dieng. Hasil bumi yang dihasilkan bukan saja untuk memenuhi kebutuhan Wonosobo, tetapi juga sempat menjadi komoditas ekspor seperti rempah-rempah.
Di era kolonial Belanda, Kopi Wonosobo itu sudah sangat terkenal hingga ke Eropa, bahkan master kopi Wonosobo dijadikan trade mark tersendiri ‘Java Cape’. “Belanda membuat rel kereta api dari Wonosobo ke Cilacap, karena disini pusat pertanian dan perdagangan rempah, kita pernah jadi master vanili”.
Melihat berbagai catatan sejarah yang dipadukan dengan pengalamannya memimpin Wonosobo, dia menegaskan tidak perlu seluruh komoditas pertanian dikembangkan di Wonosobo, tetapi cukup berapa komoditi saja, seperi tanaman hias.
“15 Tahun ini saya fokus untuk menanam sesuatu, di Kecematan Garung misalnya komoditas bunga sangat pas. Untuk menentukan komoditas ini, pada awal tahun 2000-an, saya sudah memetakan satuan tanah dengan kosepsi peta kesesuain lahan”, ujarnya menambahkan.
Bermodalkan berbagai konsep dan program yang telah dirintisnya, siapapun yang menjadi Bupati di Wonosobo sudah bisa langsung beraksi untuk membangun Wonosobo dalam sebuah konsep Green City. Di dalam konsep Green City ini, perekonomian daerah sangat ditopang oleh sektor pertanian atau disebut dengan Green Ekonomi.
Hargai Pendahulu
Bupati Wonosobo ini memang dikenal kontroversi selama ini, tetapi sikapnya ini tidak ditujukan untuk para pendahulu (pejuang). Dia sangat menghormati seluruh Presiden RI dan ibu Negara, karena tanpa mereka Indonesia tidak akan pernah mencapai kejayaan.
Dalam rangka menghormati ibu Negara ini, di Wonosobo sedang dikembangkan taman-taman kota dan taman konservasi. Salah satu taman konservasi anggrek diberi nama ‘Taman Tien Soeharto’. Dia juga telah menyiapkan lahan seluas 3,6 hektar untuk membangun taman yang diberi nama Taman Fatmawati.
Rasa penghormatan yang besar ini juga dia tunjukkan ketika dia diberi kesempatan untuk memberikan nama kepada Verietas Unggul tanaman hias. Dua varietas baru itu diberi nama Sinta Nuriyah untuk tanaman krisan dan Ainun Gerbera Jamesonii L untuk tanaman hias gerbera. Lis.
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto