Saturday, 31 October 2026


Lamtoro - Hidup Mati Sapi Sumbawa

09 Nov 2015, 12:14 WIBEditor : Kontributor

Banyak teori soal hijauan pakan ternak. Ada pihak yang mengklaim, hijauan jenis rumput adalah kunci keberhasilan sapi, ada pula yang mendewakan konsentrat pabrik sumber pakannya, namun terdapat juga pihak yang yakin bahwa jenis legume pohon solusi ampuh hijauan sapi. Semua teori itu mungkin benar semua jika dikaitkan dengan kondisi alamnya, ketersediaan hijauan tersebut dan nilai ekonomisnya.

Untuk di daerah Kawasan Tengah dan Timur Indonesia seperti di Nusa Tenggara Barat yang dikenal sebagai daerah kering, hijauan rumput bukan merupakan solusi cerdas di saat kemarau panjang yang masih  mendera kawasan ini. Kondisi tanah yang melekang dengan suhu hingga mencapai 38 derajat Celsius membuat rumputpun menggosong. Satu-satunya jenis hijauan pakan untuk sapi yang masih mampu bertahan adalah jenis legume pohon seperti lamtoro.

“Coba bapak perhatikan, di tengah kondisi kering saat ini, tanaman lamtoro masih mampu bertahan dan menjadi sumber utama pakan untuk sapi,” begitu kata Dr. Tanda Panjaitan, Peneliti dari BPTP Nusa Tenggara Barat kepada Sinta ketika mengawali Jelajah Inovasi di Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).

Penjelajahan kali ini memang sangat menarik, pasalnya kemarau panjang yang telah menghujam nusantara sejak lebih dari 5 bulan lalu ini mengakibatkan banyak sentra-sentra penggemukan sapi menghadapi masalah serius soal pasokan hijauan pakan ternak. Di tengah erupsi Gunung Rinjani yang terjadi pekan lalu, penjelajahan  dimulai dari Pulau Lombok ke Pulau Sumbawa. Perjalanan dari Lombok menuju lokasi penjelajahan diperkirakan antara 4-5 jam.

Di sepanjang perjalanan ini terlihat jelas, rumput yang ketika musim hujan menjadi alternatif hijauan tampak ‘merangas’, potret gersang sangat mencolok. Namun di tengah kegersangan itu, pohon-pohon legume ini masih bertahan dan setia menjadi sumber pakan. Memang medan yang dilintasi tidak begitu bera, jalan menuju ke lokasi jelajah cukup bagus. Penjelajahan ini semakin menyenangkan dengan kesetiaan Dr. Tanda Panjaitan memberikan berbagai informasi seputar pengembangan lamtoro.

Pengetahuan dan pengalamannya mengembangkan lamtoro di NTB dan NTT sejak karirnya sebagai peneliti membuat informasi yang didapatkan semakin komprehensif akurat. Bagi peternak sapi Sumbawa, Pak Tanda itu seperti ‘dewa penyelamat’. Inovasi lamtoro yang awalnya sempat dilecehkan, kini menjadi ‘emas hijau’  peternak penggemukan sapi.

Kendati lamtoro sudah menjadi hijauan utama penggemukan sapi, kini muncul masalah yang cukup serius. Persoalan itu adalah jumlah tanaman lamtoro masih belum seimbang dengan semakin besarnya populasi penggemukan sapi. Apalagi di saat musim kemarau ini, lamtoro adalah sumber pakan satu-satunya, akibatnya tanaman pagar yang dulu tidak ada artinya kini  menjadi rebutan.

“Dulu kami tinggal minta ke tetangga daun lamtoro ini, tapi sekarang kami harus mencarinya hingga puluhan kilometer dari desa kami,” kata Indra K, Ketua Kelompok Senap Semu, Desa Rhee, Kecamatan Rhee Kabupaten Sumbawa Barat.

Ada hal unik yang ditemukan selama penjelajahan ini, di Desa Jatisari, Kecamatan Rhee, Kabupaten Sumbawa dengan mayoritas penduduknya berasal dari Bali, penggunaan lamtoro sebagai pakan sapi ini bukan hal baru, sudah puluhan tahun mereka mengggunakannya. Anehnya, berita penggunaan lamtoro ini justru baru diketahui oleh penduduk Desa Lok (desa yang bersebelahan dengan Desa Jatisari) dalam 2 tahun belakangan ini.

“Kami baru tahu kalau ternyata lamtoro dipakai oleh Desa Jatisari untuk pakan sapi. Yang kami tahu bahwa desa itu memiliki populasi sapi yang cukup banyak. Hampir setiap waktu para pedagang datang untuk membeli sapi di sana. Ternyata berkat informasi yang dibawa oleh pak Tanda, rahasia penggemukan sapi mereka adalah tanaman lamtoro,” ujar Supardi peternak penggemukan sapi di Desa Lok.

Hebatnya lagi, ternyata penggunaan lamtoro ini jauh lebih baik dibandingkan dengan rumput. Lamtoro memiliki kandungan protein hingga 21 persen, mampu meningkatkan bobot badan sapi 0,6-1 kg per hari. Sementara jika menggunakan rumput, peningkatan bobot badan paling tinggi 0,4 kg per hari.

Merubah Tradisi

Kehadiran lamtoro di tanah Sumbawa ini ternyata telah mampu merubah tradisi peternakan sapi rakyat. Umumnya, sapi yang diperlihara dilepas oleh peternak ke hutan-hutan dengan tujuan untuk mencari makan. Jika diperlukan maka sapi-sapi tersebut diambil. Cara ini ternyata tidak dapat mendorong pertumbuhan berat badan sapi, bahkan bisa memicu masalah lain seperti pencurian.

Dengan lamtoro, sebagian besar peternak kini sudah tidak lagi meliarkan sapi, tetapi dengan sistem perkandangan. Dengan cara ini, pertumbuhan sapinya cepat, kualitas dagingnya bagus dan aman dari pencurian.

Seribu Pantai

Jika Pulau Lombok dikenal dengan sebutan ‘Kota Seribu Masjid’, maka tidak salah pula kalau kita sebut Pulau Sumbawa adalah pulau yang memiliki seribu pantai yang indah, salah satu pantai yang pantas untuk dikunjungi adalah Pantai Jelenga. Pantai ini berada di Kabupaten Sumbawa Barat dan dikenal sebagai scar reef (istilah yang sering dipakai oleh turis asing untuk menyebut bentuk gelombang yang ada di pantai itu).

Selain untuk menikmati keindahan Jelenga, umumnya turis asing ini menjadikan lokasi ini sebagai tempat untuk berselancar. Bagi pelancong domestik, kerindahan Jelenga ini jangan sampai dilewatkan, pasalnya pasir putih dengan air pantai yang jernih memberikan kesan tersendiri. Bagi rekan-rekan jelajah yang hobi fotografi, Jelenga adalah tempat yang tepat sebagai obyek foto, lengkung pantai yang dihiasi patahan lempeng bumi di pinggirnya bisa menjadi obyek foto yang spektakuler.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018