Saturday, 31 October 2026


Menguak Rahasia Lamtoro Bersama Dr. Tanda Panjaitan

09 Nov 2015, 13:36 WIBEditor : Kontributor

Nama lengkapnya adalah Dr. Ir. Tanda S. Panjaitan, MSc, dia seorang peneliti di BPTP NTB. Kalau bicara soal legum pohon untuk keperluan hijauan pakan sapi di NTB dan NTT, maka dialah orangnya. Hampir separuh karirnya dicurahkan untuk membangun sistem peternakan sapi berbasiskan legum pohon seperti lamtoro.

Di tengah aktivitasnya yang super sibuk, dia masih menyempatkan diri untuk menjadi pendamping pada penjelajahan inovasi legum pohon di Pulau Sumbawa. Menurut Tanda, Pulau Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat berada pada daerah iklim selatan yang mempunyai karakteristik iklim yang eratik dengan curah hujan yang rendah dan hari hujan yang sedikit.

Sistem penggembalaan Lar/So merupakan kearifan lokal yang tercermin dari upaya mengoptimalkan penggunaan lahan untuk mensiasati kondisi iklim eratik. Sayangnya, manajemen tradisionil Lar/So tercatat memberikan keluaran produksi yang rendah yang berada jauh di bawah kapasitas genetik dari sapi Bali.

Dulu, persoalan ini belum pernah dilihat secara serius untuk meningkatkan kapasitas produksi ternak dari Pulau Sumbawa.

Potensi dampak dari perubahan iklim dan munculnya iklim ekstrim terhadap manajemen tradisionil Lar/So adalah terganggunya suplai pakan. Pada sistem manajemen Lar/So sumber pakan utama ternak adalah rumput alam yang mempunyai karakter perakaran yang dangkal akibatnya rentan terhadap genangan dan kekeringan. Rumput alam berumur pendek, cepat berbunga dan tua sehingga berdampak terhadap kualitasnya sebagai pakan.

Persoalan klasik yang dihadapi dari aktivitas melepas ternak di Lar/So adalah kontinuitas dan kualitas pakan yang rendah yang tergambar jelas pada pola pertumbuhan ternak di Pulau Sumbawa yaitu terjadi pertumbuhan selama musim hujan dan kemudian pertumbuhan mulai melandai memasuki pertengahan musim kering dan terjadi kehilangan berat badan pada akhir musim panas.

Solusi Legum Pohon

Dr. Tanda menjelaskan untuk mengatasi persoalan itu, BPTP NTB sejak lebih dari 5 tahun lalu mencoba mengatasi masalah itu dengan legume pohon. Tanaman legume mempunyai kandungan komponen sekunder seperti tannin dan saponin. Daun legume pohon mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi dan sangat disukai ternak.

Tanaman ini berumur panjang dan mempunyai perakaran yang dalam sehingga lebih dapat beradaptasi terhadap iklim ekstrim. Beberapa tanaman pohon dan legume pohon sudah terintegrasi sejak lama dengan sistem usahatani ternak di Pulau Sumbawa terutama berfungsi sebagai pagar hidup seperti lamtoro (Leucaena leucochepala) dan gamal (Gliricidia sepium), pagar hidup dan sayuran seperti kelor (Moringa olifiera) dan sayuran dan pakan ternak seperti turi (Sesbania grandiflora).

Perkembangan

Dia bercerita, penggemukan berbasis lamtoro awalnya dilakukan di Jatisari Desa Rhee Beru, Kecamatan Rhee, Kabupaten Sumbawa. Masyarakat Bali yang telah bermukim lama di desa ini sudah terbiasa dengan pemberian lamtoro. Namun sistem manajemen ternaknya belum berkembang baik, misalnya budaya melakukan penimbangan sapi belum ada, sehingga ketika terjadi jual beli, harga yang berlaku adalah harga perkiraan.

Kehadiran peneliti di desa ini lebih kepada pembenahan manajemen sistem penggemukan sapi. Hasilnya, saat ini nilai tambah yang diterima peternak jauh lebih baik. Berat sapi yang siap untuk dijual semakin terukur. Dari desa ini pula, BPTP memperluas pengembangan sistem pakan lamtoro ke berbagai kabupaten di Pulau Sumbawa, bahkan Kabupaten Sumbawa telah menetapkan diri menjadi Kabupaten Lamtoro.

Pengembangan ke Depan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggemukan berbasis hijauan daunan pohon lamtoro dapat meningkatkan pertambahan berat sehingga perlu dirancang penguatan model industri sapi potong di Pulau Sumbawa yang adaptif terhadap perubahan iklim dan bersifat mitigasi terhadap perubahan iklim.

Di Nusa Tenggara Barat sudah terdapat wilayah di mana peternak sudah memberikan legume pohon sebagai pakan ternak untuk meningkatkan nutrisi protein dari pakan yang diberikan.

Pakan leguminosa pohon sudah digunakan dengan baik oleh peternak di kedua wilayah dan telah berhasil meningkatkan produktivitas dari kegiatan penggemukannya yang ditunjukkan dari adanya peningkatan hasil yang disebabkan semakin cepat dan teraturnya perputaran modal usaha karena periode penggemukan yang semakin pendek.

Perbaikan nutrisi berbasis pada pemberian pakan legume pohon sebanyak 30-40% dari pakan yang diberikan dapat menghasilkan pertambahan berat badan pada sapi Bali jantan mencapai 0,4-0,5 kg per hari atau sebesar 70-90 kg dalam waktu enam bulan. Tanda Panjaitan/Lis

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018