Saturday, 31 October 2026


Duit Bawang Menambah Tebal Kantong Petani Tebu Kediri

16 Nov 2015, 13:39 WIBEditor : Kontributor

Untungnya berlipat, “tebu tetap memberikan untung, tanaman bawang juga  memberi laba” inilah konsep integrasi tanaman  tebu dengan bawang merah (Bubang) yang membuat pendapatan petani semakin berlipat. Cara yang telah berkembang di Kediri ini, bukan saja terfokus pada integrasi, tetapi sistem bioindustri yang menjadi ‘main stream’nya membuat pola ini bebas limbah, efisien dan memicu pertumbuhan ekonomi baru di Kediri.

Pekan lalu Jelajah Inovasi berhasil berkunjung ke BPTP Jawa Timur yang menjadi ‘leader’ pengembangan konsep integrasi bioindustri tanaman tebu itu. Penjelajahan kali ini cukup mengasyikkan, pasalnya materi yang diliput adalah materi yang selama ini ditunggu oleh masyarakat Indonesia.

Sistem integrasi bioindustri sudah lama diprogramkan, salah satu daerah yang telah berhasil menginisiasi program ini adalah Kediri Jawa Timur yang memadukan berbagai tanaman semusim dengan tanaman tebu. Penjelajahan kali ini tergolong menarik, karena langsung dipandu oleh Kepala BPTP Jawa Timur, Dr. Tri Sudaryono yang diperkuat dengan Dr. Q. Dadang Ernawanto dan Ir. S. S. Antarlina, M.S, Peneliti BPTP Jatim.

Jelajah inovasi ini juga diikuti oleh Prof. Robert Manurung, Pakar Rekayasa Hayati ITB, dan Prof. Pantjar Simatupang sebagai tim ahli bioindustri. Rute penjelajahan terfokus pada satu desa yang lengkap dengan segala komponen bioindustrinya yakni Desa Blabak. 

Tebu Kediri

Menurut Dr. Dadang Ernawanto, Peneliti BPTP Jatim,  di Kabupaten Kediri tebu tersebar merata di seluruh wilayah Kediri. Kabupaten ini memiliki areal pertanaman tebu terbesar setelah Kabupaten Malang. Areal tanaman tebu di Kabupaten Kediri seluas 23.747 ha, utamanya tersebar di  Kecamatan Wates, Papar, Kandat, Kras, dan Ngadiluwih. Di Kecamatan Kandat areal pertanaman tebu seluas 2.476 ha dengan rataan produktivitasnya 120 t/ha.

Kendati tebu telah berkembang lama, hingga kini masih ada masalah di antaranya keterbatasan tenaga kerja dan saat kini banyak petani beralih ke budidaya singkong. Untuk mempertahankan dan mengakselerasikan pengembangan tebu di Kediri, maka tantangan dan permasalahan usahatani tebu di Kediri perlu dicarikan solusinya. 

Dalam kaitan itu, Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) perlu berkontribusi untuk melakukan kegiatan yang diarahkan untuk penyediaan serta penyebarluasan teknologi usahatani tebu spesifik lokasi, termasuk sistem tumpangsari tebu dengan tanaman semusim.

Tumpangsari

Menjawab masalah itu, BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) Jawa Timur bersinergi dengan PTPN X dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kediri, serta Dinas Pertanian Kabupaten Kediri telah melaksanakan kegiatan Pendampingan Bioindustri Berbasis Tebu, salah satu kegiatannya adalah Demfarm Pengembangan Teknologi Usahatani Tebu Spesifik Lokasi di Kediri seluas 2 ha di Desa Blabak, Kecamatan Kandat. Penanaman tebu dimulai 1 Agustus 2015.

Spesifik lokasi yang diimplementasikan pada kegiatan demfarm ini yaitu sistem tanam PKP 135 cm, dan pada awal tanam dilakukan penanaman bawang merah sebagai tanaman sela pada tumpangsari dengan tebu.  Hasil produksi bawang merah sebagai tanaman sela sebesar 4.000 kg per ha, harga bawang merah Rp 12.000, maka tingkat pendapatan yang diperoleh petani sebesar Rp 22.140.000. 

Di samping kegiatan demfarm tebu yang ditumpangsarikan dengan bawang merah, juga tumpangsari dengan kacang tanah, kubis, kubis bunga.  Pendampingan pemanfaatan urin sapi menjadi pupuk cair, pembuatan kompos berbahan baku limbah gula merah yang dikombinasikan dengan kotoran sapi, pembuatan kecap dari gula merah dan kedelai, pembuatan jamu ternak. 

Setelah melakukan penjelajahan, bioindustri tebu di Desa Blabak ini pantas untuk dijadikan lokasi belajar bagi petani tebu lain di Indonesia terutama dalam pengembangan integrasi bioindustri tebu. Lis

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018