Inisiasi bioindustri tebu adalah program rintisan, dalam tiga tahun ke depan sistem integrasi ini akan berkembang menjadi Desa Agrowisata Tebu. Di dalam desa ini bisa disaksikan berkembangnya bioindustri mulai dari hulu, on farm dan hilir tanaman tebu. Bukan saja akan menjadi tempat belajar bagi masyarakat, tetapi juga menjadi market produk olahan tebu dan menjadi lokasi Gelar Lapang Inovasi Pertanian Modern yang lebih riil.
Lokasi bioindustri berbasis tebu merupakan model percontohan pembangunan pedesaan berbasis wilayah/agroekosistem serta inovasi teknologi dan kelembagaan pertanian bagi wilayah-wilayah lain di Kabupaten Kediri. Selain itu desa dapat berfungsi sebagai knowledge center peneliti, penyuluh dan petani serta tempat pembelajaran serta praktek lapang bagi mahasiswa.
Kepala BPTP Jawa Timur, Dr. Tri Sudaryono, bercerita merubah tradisi petani tebu itu tidak mudah. Awalnya, banyak petani yang meragukan sistem tumpangsari tanaman tebu dengan tanaman semusim. ”Mereka takut, inovasi justru akan mempengaruhi pendapatan tebu mereka.”
Namun setelah dilakukan sosialisasi bioindustri dan pembuatan demplot seluas lebih dari 1 hektar di Desa Blabak, banyak petani yang ingin mencoba inovasi tumpangsari ini.
Komponen integrasi bioindutri yang dikembangkan di Desa Blabak ini sudah sangat komplit. Pada aspek hulu dan on farm dikenalkan penggunaan varietas unggul, penggunaan bio urin, teknologi budidaya tebu dan bawang merah serta teknologi rawat ratoon. Di dalam kawasan bioindustri ini juga petani diajari teknologi perbenihan dengan teknik bud chip.
Pada aspek hilir, bio industri ini mampu mendorong berkembangnya produk olahan tebu dengan memanfaatkan keberadaan kelompok wanita tani (KWT). Di desa ini telah berkembang cara pembuatan kecap, gula merah dengan beragam produk olahannya dan ampyang (gula kacang).
”Di dalam bioindustri ini tidak ada komponen yang terbuang, mulai dari limbah ternak hingga limbah tebu,” ujar Tri Sudaryono. Dia mencontohkan, limbah padat kotoran ternak dirubah menjadi kompos. Limbah cair kotoran sapi dirubah menjadi bio urin yang digunakan untuk tanaman tumpangsari tebu dan bawang merah.
Sedangkan limbah pembuatan gula merah diolah kembali menjadi sumber pakan ternak. ”Sisa ampas tebu, digunakan petani sebagai bahan bakar untuk pembuatan gula merah,” katanya menambahkan.
Penggunaan bio urin ini ternyata mampu mengefisienkan penggunaan pupuk. Pupuk biourin hanya diberikan ke tanaman bawang, namun hasil semprotan ini juga berdampak pada tanaman tebu. Dari hasil pengamatan, diketahui bahwa bio urin mampu mengefisienkan penggunaan pupuk ZA.
Desa Agrowisata
Tri Sudaryono setelah menyaksikan keragaan penerapan bioindustri tebu sangat yakin bahwa dalam waktu 3 tahun ke depan, Desa Blabak ini bisa berkembang menjadi Desa Agrowisata Tebu yang berbasiskan bioindustri. Di desa ini nantinya bisa disaksikan bagaimana seluruh komponen bioindustri itu bisa berjalan dengan baik dan menjadi tempat belajar.
Bagi masyarakat Blabak sendiri, kehadiran kawasan bioindustri ini akan memicu munculnya bentuk-bentuk ekonomi baru seperti produk-produk olahan yang dapat menambah penghasilan KWT.
Setelah dengan bawang merah, Tri sangat mendorong adanya tumpangsari dengan tanaman kedelai. Pasalnya, di daerah Kediri ini banyak sekali berkembang industri olahan tahu tempe. Diharapkan tanaman sela berupa kedelai bisa memasok kebutuhan kedelai untuk industri olahan tahu tempe tersebut.
Keberhasilan
Selama kurun waktu hampir setahun, tahun 2015 awal dilaksanakan bioindustri berbasis tebu kontribusinya dalam pembangunan pertanian wilayah Desa Blabak cukup berarti. Selain mengenalkan rekomendasi paket-paket inovasi teknologi spesifik lokasi, memberdayakan kelembagaan petani, juga telah berperan dalam memberikan pertimbangan perencanaan pembangunan pertanian wilayah.
Keberhasilan tersebut antara lain telah mampu memanfaatkan urin sapi menjadi pupuk cair hayati (biourine), pembuatan kecap dari gula merah dan kedelai, pembuatan jamu ternak, percontohan kandang ternak (sapi) sehat, introduksi tumpangsari bawang merah di antara tanaman tebu seperti kita lihat sekarang ini.
Dengan keragaan tanaman bawang merah seperti ini, ditaksasi hasil panen yang diperoleh 4 ton dalam 1 hektar tanaman tebu. Harga bawang merah saat sekarang Rp 12.000, maka keuntungan yang diperoleh petani dengan memanfaatkan 1 hektar tanaman tebu yang ditumpangsari dengan bawang merah sebesar Rp. 22.140.000.
Keberhasilan tumpangsari antara tebu dengan bawang merah (Bubang) dilirik oleh pihak perbankan, khususnya BI Cabang Kediri, di mana pimpinannya saat itu hadir di kegiatan temu lapang dan panen bawang merah bersama Pj Bupati Kediri. Pihak BI Cabang Kediri menilai bahwa masuknya tanaman bawang merah di areal tebu merupakan peluang usaha yang prospektif dan dapat memberi tambahan bagi petani. Melihat peluangnya tersebut, pihak BI Cabang Kediri menindaklanjuti dengan pengembangan klusteri Bubang dan menggandeng BPTP Jatim sebagai pemasok inovasi dan pendamping petani.
Tri menilai, bioindutri yang telah berkembang ini akan lebih bagus jika berkembang menjadi usaha desa dalam wadah Badan Usaha Milik Desa (BUM Des). Lis
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto