Ada hal menarik yang ditemukan di Taman Teknologi Pertanian (TTP) Banyubang, Lamongan. Jika pada lahan berpengairan baik (irigasi), jagung bisa tumbuh dan berkembang secara luas mungkin tidak begitu mengagetkan. Namun, di daerah sekitar TTP ini lahannya didominasi oleh lahan tadah hujan, tapi justru jagung berkembang luas. Sejauh mata memandang, begitulah bentangan jagung di kawasan ini.
Jagung bagi masyarakat Lamongan, Jawa Timur adalah komoditas yang sangat penting. Namun sayangnya, beberapa waktu lalu tanaman ini berkembang apa adanya. Aspek yang berkembang hanya pada sistem budidaya (aspek produksi), belum berkembang pada aspek lain seperti pemanfaatan limbah, pasca panen, pengolahan dan integrasi dengan ternak sapi. Padahal, jika aspek lain itu terintegrasi akan tercipta gerakan ekonomi rakyat yang sangat dahsyat.
Semua itu adalah pemandangan beberapa tahun silam. Sejak Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian menggelontorkan program Taman Teknologi Pertanian Banyubang, terlihat berbagai perubahan yang mengarah pada perbaikan ekonomi usaha kecil atau ekonomi rumah tangga. Untuk melihat perubahan itu, pekan lalu Jelajah Inovasi melakukan kunjungan ke TTP Banyubang.
Kepala Balai Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, Dr. Tri Sudaryono, menjelaskan program swasembada pangan nasional, khususnya padi, jagung dan kedelai, merupakan perwujudan dari 9 Agenda Prioritas Pembangunan (NAWA CITA) pemerintah untuk 5 tahun ke depan. Khusus komoditas jagung, produksinya ditarget naik 5% per tahun, sementara itu kenaikkan produksi jagung hanya 2,8% per tahun, itupun lebih disebabkan oleh perluasan areal tanam.
Kabupaten Lamongan merupakan sentra produksi jagung di Jawa Timur, yang salah satunya berada di kecamatan Solokuro, seluas 5.857 ha dengan produksi 317.136 ton atau produktivitas 6,27 ton/ha. Meskipun produktivitas jagung di kecamatan Solopuro lebih tinggi dari rata-rata produktivitas jagung di kabupaten Lamongan, namun produktivitas ini masih rendah dibandingkan dengan produktivitas jagung yang budidayanya menerapkan teknologi anjuran yang bisa mencapai lebih dari 9 ton/ha. Salah satu sentra produksi jagung di Kecamatan Solokuro adalah desa Banyubang.
Desa Banyubang tidak memiliki lahan sawah sehingga usahatani jagung dilaksanakan pada Musim Hujan (MH) dan Musim Kemarau-1 (MK-1). Di desa ini terdapat lahan tadah hujan yang ditanami jagung seluas 192 ha, dengan varietas dominan adalah hibrida. Lebih dari 10 varietas hibrida telah ditanam petani di desa ini, dengan rata-rata produktivitas 6 ton/ha atau kisaran 4-8 ton/ha.
Rendahnya produktivitas jagung di desa Banyubang terutama disebabkan kurang sempurnanya penerapan teknologi budidaya, terutama penggunaan jarak tanam, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit. Rendahnya produktivitas ini berdampak pada pendapatan petani yang tergolong rendah, rata-rata hanya Rp. 4.945.729 atau kisaran Rp 1.045.000-11.665.000, disebabkan antara lain belum berkembangnya teknologi pengolahan hasil dan teknologi pemanfaatkan limbah hasil panen menjadi produk bernilai ekonomis seperti pakan ternak yang banyak dibutuhkan oleh peternak sapi potong di desa ini. Namun demikian, sudah terjalin kemitraan pemasaran antara peternak dengan beberapa pabrik pakan ternak.
TTP adalah salah satu pilihan model yang dikembangkan Kementan untuk menumbuhkan kluster-kluster sentra produksi. Secara konseptual, TTP merupakan kawasan yang dikelola bersama instansi terkait dan masyarakat atau kelompok tani setempat.
Berdasarkan hasil base line survey yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian, komoditas yang dikembangkan di TTP Banyubang adalah jagung yang diintegrasikan dengan penggemukan sapi potong. “ Kawasan ini dikenal sebagai lahan tadah hujan, sehingga tepat sekali jika pengembangan TTP menjadi tanggung jawab BBSDLP, karena diharapkan akan muncul inovasi yang tangguh dalam pengelolaan jagung di lahan yang memiliki keterbatasan pasokan air” ujarnya menambahkan.
Memperkaya Wisata
Keberadaan TTP Banyubang ini, menurutnya akan memperkaya objek wisata di daerah Lamongan. Jika selama ini telah ada objek wisata bahari dan wisata religi makam Sunan Dradjat, TTP ini juga akan menjadi objek wisata edukasi.
Dengan cara ini, dia sangat optimis, usaha mempercepat proses alih teknologi dan komersialisasi teknologi akan tercapai. Lis
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto