Muhamad Roqif, Pengelolan TTP Banyubang mengungkap bahwa kehadiran TTP ini telah berhasil merubah cara berocok tanam petani jagung di Desa Banyubang ini. “Banyak paket teknologi dan pelatihan yang dibawa baik untuk tanaman jagung dan sapi dirasakan manfaatnya oleh petani”.
Di TTP ini juga sudah berkembang produk olahan berbahan baku jagung yang dilaksanakan oleh ibu-ibu. Alahmdulilah kegiatan ini sangat berkembang.
Dia menjelaskan, secara kebetulan lokasi TTP ini dijauh dengan beberapa obje kwisata seperti wisata bahari dan wisata religi, sehingga pasar untuk produk olahan tidak mengalami kesulitan, semakin hari semakin banyak permintaan.
Saat ini TTP Banyubang juga akan berupaya menampung produksi jagung petani. Langkah ini berutujuan untuk meningkatkan harga jual jagung yang sering jatuh pada saat panen raya.
Nur Amin, Kepala Seksi Pemerintah, Desa Banyubang sangat antusias menyambut keberadaan TTP ini. Menurutnya, sebelumnya cara bertanam jagung itu masih tradisional misalnya cara pengolahan tanah dan belum memggunakan varietas unggul. Namun sekarang masyarakat sudah mengetahui mana benih yang unggul dan benih yang tidak unggul.
Dengan adanya TTP, limbah-limbah jagung setelah panen yang selama ini dibiarkan saja di lahan, kini sudah bisa diolah menjadi pakan ternak. Saat ini juga sudah banyak petani yang berasal dari daerah lain di Lamongan yang berdatangan untuk melihat dan belajar teknologi jagung. “ada yang datang dari kecamatan Tikung dan ada juga yang datang dari Bojonegoro”ujarnya.
Muhamad Slamet, Petani Jagung Desa Banyubang menggungkapkan harapannya terhadap keberaan TTP. Menurutnya, TTP ini bisa memperbaiki harga jual jagung pada saat panen raya.
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto