Saturday, 31 October 2026


Dengan Fosfat Alam Untung Jagung Menggunung

05 Apr 2016, 09:37 WIBEditor : Kontributor

Belakangan ini memang sedang trend mengefisienkan usaha. Bukan saja di bidang transportasi dengan menjamurnya transportasi on line, tetapi juga di bidang pertanian. Kalau selama ini kita semua terjebak hanya berpikir tentang pupuk TSP atau SP-36 saja untuk mendapatkan P2O5 untuk mendukung pertumbuhan tanaman, nah sekarang bagaimana kalau kita langsung saja mengambil unsur penting itu dari sumbernya yakni fosfat alam (batuan fosfat).

Upaya penggantian pupuk pabrikan dengan fosfat alam ini telah berlangsung di Kebun Percobaan Tanaman Bogo, Lampung Timur sejak tahun 2013-2016 untuk tanaman jagung. Hasilnya! Menggembirakan, sekali pemberian fosfat alam, selama 5 musim tanam tidak perlu lagi diberikan P2O5. Ini artinya, terjadi penghematan yang luar biasa, bahkan dari hasil penelitian pemberian pupuk ini dapat meningkatan produksi jagung dari 9 ton menjadi  11 ton per hektar. Dengan cara ini pastinya mampu melipatgandakan keuntungan jagung.

Untuk melihat keberhasil itu, Tim Jelajah Inovasi pekan lalu berkesempatan mengunjungi KP Tanam Bogo tersebut sekaligus menghadiri acara “Temu Lapang dan Sosialisasi Penggunaan Reaktif  Phosphate Rock untuk Meningkatkan Produktivitas Tanaman Jagung pada Lahan Kering Masam”. Acara yang dihadiri oleh puluhan petani  jagung ini berlangsung di pelataran Kebun Percobaan yang berada di Jl. Joyo Ganjar, Desa Taman Bogo, Purbolinggo, Lampung Timur.

Kebun percobaan yang dapat ditempuh sekitar 1,5 jam perjalanan darat dari Bandar Lampung, Ibukota Propinsi Lampung  atau sekitar 1 jam dari Bandar Udara Radin Inten menyimpan banyak pengetahuan dan teknologi. Salah satunya adalah penelitian dan pengujian penggunaan Fosfat alam (batuan fosfat) yang berasal dari Maroko terhadap tanaman jagung.

Menurut Penanggung Jawab Lapangan kerjasama Indonesia-Maroko, Dr. Husnain, OCP S.A adalah BUMN terbesar dalam industri tambang rock phosphate di Maroko. Kerjasama untuk evaluasi pemanfaatan fosfat alam antara Badan Litbang Pertanian dengan OCP S.A tahap I dilaksanakan pada periode 2013-2016 untuk tanaman pangan dan akan dilanjutkan untuk tanaman kelapa sawit pada tahun 2016-2018.

Kegiatan penelitian bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan langsung fosfat alam untuk tanaman jagung dan kelapa sawit dan mendapatkan dosis fosfat alam yang terbaik untuk rekomendasi pemupukan pada jagung dan kelapa sawit. Kegiatan penelitian telah dilaksanakan di 3 propinsi yaitu Lampung, Riau dan Kalimantan Selatan.

Temu Lapang yang dihadiri oleh Kepala Balai Penelitian Tanah (Balittanah) Bogor, Dr. Ir. Wiratno, Kepala BPTP Lampung, dan Jajaran Pemerintah Daerah Lampung Timur, menurut Husnain adalah salah satu cara untuk memperlihatkan manfaat dan keberhasilan penggunaan fosfat alam ini.

Hasil Penelitian

Husnain juga menjelaskan, hasil penelitian jangka panjang di Indonesia pada tanaman pangan (1990-2002) dan dilanjutkan pada 2013-2016 menunjukkan bahwa reactive phosphate rock (RPR) Maroko dengan dosis 1 ton/ha yang diberikan 1 kali selama 5 musim tanam, dikombinasikan dengan pupuk kandang dapat meningkatkan produktivitas tanaman jagung minimal hingga 30% konsisten selama 5 musim tanam dengan efisiensi biaya hingga 25%.

Untuk lokasi  penelitian di Taman Bogo, Lampung produktivitas jagung rata-rata adalah 8-9 ton/ha. Produksi jagung di lokasi penelitian lahan petani milik Bapak Budi di Tanah Laut, Kalimantan Selatan menunjukkan hasil yang lebih tinggi yaitu antara 10-12 ton/ha dengan populasi tanaman lebih rapat dibandingkan lokasi Lampung.

Berdasarkan hasil tersebut maka RPR Maroko dapat direkomendasikan untuk meningkatkan produktivitas tanaman jagung di lahan kering masam. Teknologi ini merupakan salah satu solusi yang efektif dan ekonomis dalam mengatasi permasalahan rendahnya ketersediaan P pada tanah masam.

Wisata Gajah

Bagi rekan-rekan jelajah yang berkesempatan datang ke KP Taman Bogo, jangan sampai lupa bahwa tidak jauh dari keebun percobaan ini ada Taman Nasional Way Kambas yang merupakan taman nasional perlindungan gajah. Sekaligus sekolah gajah pertama di Indonesia.yang berdiri sejak tahun 1985. Taman Way Kambas ini berada di Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur, Indonesia, sekitar 1 jam dari KP Taman Bogo.

Berdasarkan catata Wikipedia, di Taman Nasional Way Kambas ini terdapat hewan yang hampir punah diantaranya Badak Sumatera, Gajah Sumatera, Harimau Sumatera, Mentok Rimba, Buaya Sepit. Untuk tanaman banyak diketemukan Api-api, Pidada, Nipah, Pandan. Di bagian pesisir Taman Nasional Way Kambas yang berawa juga sering ditemukan berbagai jenis burung antara lain Bangau Tongtong, Sempidan Biru, Kuau raja, Burung Pependang Timur, dan beberapa burung lainnya.

Selain itu berdasarkan catatan Kementerian Kehutanan, Taman Nasional Way Kambas merupakan perwakilan ekosistem hutan dataran rendah yang terdiri dari hutan rawa air tawar, padang alang-alang/semak belukar, dan hutan pantai di Sumatera. Jenis tumbuhan di taman nasional tersebut antara lain api-api (Avicennia marina), pidada (Sonneratia sp.), nipah (Nypa fruticans), dan gelam (Melaleuca leucadendron). Lis.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018