Indonesia memiliki luasan lahan masam sekitar 104 juta, tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua. Saat ini lahan masam di Sumatera dan Kalimantan secara luas dimanfaatkan untuk tanaman pangan terutama jagung dan kedelai dan tanaman perkebunan seperti kelapa sawit.
Kendala pemanfaatan tanah masam adalah fiksasi P oleh mineral sesquoksida (Al2O3 dan Fe2O3). Untuk mengatasi kehilangan P di lahan masam adalah menggunakan batuan fosfat alam (rock phosphate). Rock phosphate adalah sumber hara P yang bersifat lepas lambat (slow release) karena merupakan bahan mineral alami dan memiliki efek residu hingga beberapa musim tanam.
Rock phosphate (batuan fosfat alam) adalah sumber hara P yang berasal dari mineral. Rock phosphate ditambang secara alami dan banyak terdapat di berbagai negara. Indonesia juga memiliki RP namun kualitasnya sangat bervariasi dan kurang menguntungkan untuk ditambang.
Negara dengan cadangan P terbesar di dunia adalah Maroko (75%), Tiongkok (6%), Algeria dan Syria (3%), Jordan, Afrika Selatan, USA dan Russia sekitar 2%, Peru dan Saudi Arabia sekitar 1% dan sisanya 3% negara lain. Dengan cadangan rock phosphate terbesar didunia maka potensi pemanfaatanrock phosphate Maroko menjadi sangat potensial.
Selain itu kualitas rock phosphate Maroko sangat baik dengan kandungan P2O5 rata-rata 30% dan memiliki reaktifitas yang tinggi sehingga penggunaannya bagi tanaman langsung dapat dilihat di musim tanam pertama.
Rock Phosphate adalah bahan baku sumber hara P dalam pembuatan pupuk P seperti SP-36, TSP dan DAP yang larut air sehingga cepat tersedia bagi tanaman. Untuk memproduksi pupuk tersebut, maka rock phosphate perlu diekstrak terlebih dahulu untuk menghasilkan asam fosfat untuk kemudian di proses menjadi pupuk diatas.
Dalam industri pupuk, sumber rock phosphate yang digunakan adalah yang berkualitas tinggi sehingga bahan tersebut diimpor. Sehingga bila tidak disubsidi hara pupuk SP-36 menjadi cukup mahal. Alternatif sumber hara P adalah pemanfaatan secara langsung (direct use) rock phosphate sebagai pupuk tanpa proses apapun. Ini menjadi alternative sumber pupuk P yang lebih murah bagi petani.
Penggunaan rock phosphate sangat efektif untuk lahan masam dibandingkan dengan lahan tidak masam. Hal ini karena RP mengandung unsur hara lain terutama Ca (kalsium) yang berperan dalam menurunkan tingkat keasaman tanah atau meningkatkan pH tanah. Sementara itu lahan kering di Indonesia didominasi oleh lahan kering masam.
FAO telah merekomendasikan penggunaan rock phosphate untuk tanaman pangan maupun perkebunan. Penggunaan rock phosphate di Indonesia masih sangat jarang karena beberapa hal diantaranya akses mendapatkan rock phosphate tidak tersedia dan belum banyak dikenal oleh petani. Namun demikian untuk tanaman kelapa sawit sudah mulai digunakan meskipun belum memperhatikan kualitasnya.
Keuntungan
Batuan fosfat alam(rock phosphate) memiliki kandungan reaktivitas tinggi, potensi reaktivitas rock phosphate dapat diukur dengan metoda asam sitrat 2%. Bantuan ini bersifat lepas lambat (slow release) dalam arti unsur hara P dilepas secara perlahan sehingga P lebih efektif dapat diserap oleh tanaman.
Disamping itu, Fosfat alam memiliki efek residu, dengan sifat lepas lambat maka pengaruhnya terhadap tanaman lebih lama. Penggunaan RP dengan dosis yang cukup akan menghemat tenaga kerja dan biaya input produksi dari pupuk P karena RP hanya diaplikasi sekali dalam beberapa musim tanam.
Hasil penelitian jangka panjang di Indonesia pada tanaman pangan (1990-2002) dan dilanjutkan pada 2013-2016 menunjukkan bahwa reactive phosphate rock (RPR) Maroko dengan dosis 1 ton/ha yang diberikan 1 kali selama 5 musim tanam, dikombinasikan dengan pupuk kandang dapat meningkatkan produktivitas tanaman jagung minimal hingga 30% konsisten selama 5 musim tanam dengan efisiensi biaya hingga 25%.
Untuk lokasi penelitian di Taman Bogo, Lampung produktivitas jagung rata-rata adalah 8-9 ton/ha. Produksi jagung di lokasi penelitian lahan petani milik Bapak Budi di Tanah Laut, Kalimantan Selatan menunjukkan hasil yang lebih tinggi yaitu antara 10-12 ton/ha dengan populasi tanaman lebih rapat dibandingkan lokasi Lampung. Dr. Husnain - Peneliti Balittanah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto