Siapa yang tidak kenal dengan Pulau Tidore, Maluku Utara! Gambar pulau itu, melekat hingga kini pada uang pecahan seribu rupiah. Lantas apa yang menjadi alasan sehingga daerah itu menjadi ikon, padahal saat ini Kota Tidore itu kalah ramai dengan Ternate? Alasannya, sejarah dan kekayaan alamnya.
Di era tahun 1950-an, Tidore ini pernah menjadi pusat kekuasaan Indonesia untuk wilayah bagian timur. Tepatnya pada tanggal 16 Agustus 1956, berdasarkan Undang-Undang No. 15 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonomi Provinsi Irian Barat, Sao SioTidore ditetapkan menjadi ibukotanya.
Jika dilihat dari peta kekuasaan kesultanan Tidore, daerah kekuasaannya dulu sangat luas menyebar hingga dari Pulau Sulawesi bagian timur, hampir sebagian besar Kepulauan Maluku, pulau-pulau di perbatasan Filipina, sampai ke Pulau Iran. Inilah, mengapa pemerintah Indonesia melalui Bank Indonesia memilih Tidore menjadi gambar latar belakang uang Rp. 1.000.
Tidore dengan kesultanan Islam yang begitu tersohor juga menyimpan tradisi masyarakat yang sangat menarik. Sejak zaman dulu, masyarakat Tidore khususnya dan Maluku pada umumnya telah menempatkan singkong pada posisi yang penting dalam pangan rakyat. Seperti halnya beras saat ini, singkong menjadi pangan utama rakyat. Sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun, singkong diolah menjadi pangan yang akrab dikenal dengan sebutan ‘sagu kasbi’.
Sagu kasbi ini memiliki satu rasa (tawar), teksturnya keras, warna putih, bentuk dan ukurannya besar persegi panjang, sama seperti ‘roti tawar’ saat ini. Sayangnya, usaha produksi sagu kasbi di tingkat petani masih dilakukan secara tradisional sehingga mutunya masih rendah, subsistem dan pemasarannya masih lokal.
Selain itu usaha pengolahan sagu kasbi belum dilakukan menurut standarisasi bakuproduk yang sehingga rasa, bentuk, tekstur, nilai gizi dan mutu akhir sagu kasbi belum dapat memberikan cita rasa, keamanan bagi konsumen, dan prostisius ketika mengkonsumsi produk tersebut.
Oleh karena itu, sejak tahun 2008, BPTP Maluku Utara berbekal inovasi melakukan Perbaikan Teknik Pengolahan Sagu Kasbi dalam Skala Kelompok Usaha. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan mutu produk akhir yang memungkinkan terjadinya peningkatkan nilai tambah, peningkatan pendapatan, dan mempunyai mutu hasil tinggi untuk memberikan cita rasa, higienis dan prostisius.
Di samping itu melalui pengembangan sagu kasbi pada skala kelompok usaha diharapkan dapat membuka lapangan kerja bagi kelompok wanita tani. Alhamdulillah, saat ini sagu kasbi yang sempat tergeser oleh besar, tumbuh kembali menjadi pangan favorit masyarakat.
Sagu kasbi yang telah memilki beragam rasadengan sistem pengolahan yang jauh lebih baik, sekarang telah berkembang menjadi usaha tambahan ibu-ibu rumah tangga. Saat ini mereka sudah memperoleh penghasilan harian, bulanan dan bahkan tahunan.
Wisata Tidore
Buat rekan-rekan Jelajah Inovasi yang berkesempatan untuk berkunjung ke Maluku Utara, jangan sampai lupa untuk bertandang ke tanah Tidore. Untuk sampai ke pulau itu, kita bisa menyeberang dari Pelabuhan Bastiong di Ternate menggunakan speed boat. Perjalanan ke Tidore ditempuh tidak lebih dari 30 menit akan merapat ke dermaga Rum di Tidore. Di Pelabuhan Rum ini banyak tersedia angkutan untuk berkeliling pulau itu, bisa menggunakan mobil sewaan atau angkutan reguler lainnya.
Sekitar 20 menit dari Pelabuhan Rum, obyek wisata pertama yang akan kita temui adalah Benteng Tahula yang berada di kawasan Istana Kesultanan Tidore. Benteng ini dibangun oleh bangsa Spanyol mulai tahun 1610 sampai 1612. Setelah menikmati suasana ketinggian di benteng itu, perjalanan bisa dilanjutkan ke Masjid Kesultanan Tidore dan Istana Kerajaan Tidore dan Pantai Dufa-Dufa.
Tidore ini adalah salah satu kerajaan paling merdeka di wilayah Maluku, terutama di bawah kepemimpinan Sultan Saifuddin (memerintah 1657-1689), Tidore berhasil menolak penguasaan VOC terhadap wilayahnya dan tetap menjadi daerah merdeka hingga akhir abad ke-18.
Menurut silsilah raja-raja Ternate dan Tidore, Raja Tidore pertama adalah Muhammad Naqil yang naik tahta pada tahun 1081. Pada akhir abad ke-14, agama Islam dijadikan agama resmi Kerajaan Tidore oleh Raja Tidore ke-11, Sultan Djamaluddin, yang bersedia masuk Islam berkat dakwah Syekh Mansur dari Arab. Kesultanan Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku (1780-1805 M).
Selain kita bisa menyaksikan lintasan sejarah kebesaran Tidore, di Istana ini kita bisa melihat sebuah mahkota sultan yang berhiaskan berbagai batu permata dan ditumbuhi rambut. Konon, rambut ini terus memanjang, sehingga hingga kini masih ada tradisi potong rambut mahkota sultan. Lis
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto